Showing posts with label TEORI. Show all posts
Showing posts with label TEORI. Show all posts

Tujuan Menulis; Kewajiban Seorang Penulis, Hak Para Pembaca


Buku bisa menjadi bagian dari diri yang tak terpisahkan. Makanya, pada hari itu jari-jari saya liar menelusuri serangkaian deret buku yang tersusun di rak perpustakaan kami. Sebuah judul menarik perhatian saya, apalagi tentang tema yang saya selalu cari-cari. Kreatif Menulis Cerita Anak dengan sampul beberapa tokoh hewan, khas yang dimiliki tokoh-tokoh pada fabel. Buku ini merupakan kumpulan makalah atau esai yang dibuat oleh Badan Perbukuan Nasional dan diterbitkan kembali oleh penerbit Nuansa. Terdapat tujuh orang praktisi dan pakar yang menyumbang tulisan pada buku ini.
Sumber gambar: utc.iath.virginia.edu 

Banyak yang membuat saya tertarik pada isi buku ini. Banyak ilmu baru yang saya dapatkan, menginspirasi sehingga saya membuat tersendiri tentang itu, berharap suatu saat bisa berguna entah sebagai dasar penelitian atau tulisan saya lainnya. Kali ini saya mendapat inspirasi dari esai Ibu Titi WS, seorang praktisi penulis cerita anak.

Alasan di Balik Nama Pena

Saya sempat punya pengalaman yang rada menggelikan belakangan ini. Jadi malu sendiri, kalau diingat-ingat. Saya dan komunitas menulis buku keroyokan. Nah, baru bulan lalu buku itu datang. Saya senang luar biasa tapi lekas juga berubah. Yah, amarah menguasai ketika saya tak melihar nama saya di situ. Saya balik halaman berkali-kali. Benar-benar tak ada nama saya di situ. Yang ada, nama seseorang yang begitu asing bercokol sebagai editor dan pemilik satu karya.

Sumber foto: bookcovercafe.com

Tak lama, saya tepok jidat. Hehehe....lupa, ternyata itu memang diri sendiri. Lupa dengan nama pena sendiri karena proses penulisan buku itu, memang sudah beberapa tahun yang lalu. Atya Aufa sebuah nama yang saya pilih karena lebih unik dan enak didengar. Tapi lagi-lagi, karena kelamaan jadi lupa artinya. Apalagi sekarang saya menggunakan nama pena baru Rania Dewanti.

Buku, Romansa, dan Perpus

Saya yakin, semua juga pernah mengalami yang namanya jatuh cinta dengan berbunga-bunga dan pada akhirnya harus bertemu juga dengan malangnya patah hati. Saya ingat itulah awal mula pengalaman ini. Saya skip bagian bunga-bunga itu bermekaran tapi kalau mau ngebayangin, bayangin aja itu sakura yang mekar di sepanjang tepian sungai. Akhirnya, semua mesti remuk redam tak beraturan, hingga saya memutuskan hal aneh kala itu. Absurd luar biasa, saya gak cocok dengan manusia, manusia terlalu komplek untuk memahami dan dipahami. Entah dari mana datangnya ide gila itu. Maka, buku adalah sebuah pelarian yang begitu sempurna.

Sumber foto: www.123rf.com

Cara Mudah Menulis Katalog Buku

Ilmu yang tidak ditulis kembali ataupun tidak disampaikan kepada yang lain, akan cepat menguat bagai air mendidih yang terus dipanaskan. Makanya, dari jaman dahulu kala saya punya tips belajar dengan berbagi dengan orang lain. Eh, tau-taunya sekarang sekarang punya kesempatan jadi guru, dosen, dan trainer. Eeeiiittt.....stop, jadi ngelantur.

Ada sebuah ilmu baru bagi saya. Gak ada niat sebelumnya, tau-tau saya diminta ikut pelatihan bimtek pengelolaan perpus. Saya kira ini bisa jadi hal yang remeh-temeh banget. Menginggat, saya sering nongkrong di perpustakaan--merasa nyaman di antara buku-buku itu ketimbang orang lain #nahjadicurcolll--dan melihat pustakawan itu kerjanya santai banget.

Sumber foto: hallyucafe.wordpress.com

Bimtek tersebut didasari oleh hibah buku yang kami dapat untuk masjid di lingkungan kami. Sebuah program dari Perpustakaan Daerah Kalbar, untuk menggalakan minat baca warga. Penyebarannya juga tidak hanya di rumah ibadah. Perpustakaan-perpustakaan mini itu juga sudah tersebar di beberapa pos penjagaan perbatasan Indonesia-Malaysia, kantor camat, kantor desa, hotel, dan warung kopi.

Tips Menulis LKTI Simpel

Okay, lama rasanya tidak menulis atau memposting blog. Mulai kagok rasanya buat nulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar^^. Santai-santai aja yeee bahasanya, yang penting lahirlah tulisan yang satu ini....

Kesibukkan mungkin jadi  alasan utama karena lama banget gk ngunjungi blog. Apa lagi, kemaren lagi ikutan lomba kepenulisan. Nah, kali ini saya ikut lomba karya tulis ilmiah yang bertema "Sejarah/Budaya Pontianak. Yuppp.... tentang kota tercinta. Namun, karena metodenya mesti ilmiah jadi persiapan yang dilakuin mesti lebih banyak dari tulisan jenis lain.

Sebuah Buku dan Jatuh Cinta

Sepertinya saya selalu saja berujar, kalau telah jatuh cinta pada sebuah buku. Terasa terlalu obral memberikan pujian itu, toh buku cuma sebuah benda mati. Sebuah ujaran yang rada lebay untuk mengekspesikan rasa suka terhadap sebuah buku. Ada beberapa kriteria bagi saya untuk menyukai sebuah buku, mengingat buku juga punya karakteristiknya masing-masing.


Umumnya, untuk memilih aman, gak mau ambil resiko salah beli buku, penulis bisa jadi jaminan sebuah buku. Masing-masing penulis juga punya ciri khas sendiri. Kalau lewat pemahaman saya, pada karya mereka pasti ada hal yang khusus ditonjolkan. 

Alasan Memilih Kuliah Bahasa Indonesia

Sering ditanyain, “Kapan nikah?” merasa bete, saya mah biasa aja tuh J bahkan saya sering ditanyaain, “Mbak, sedang hamil?” padahal ada yang lebih cubby dari saya. Awalnya pengen teriak aja, ini suaminya lagi dicari. Seiring berjalannya waktu, lama-lama  itujuga jadi biasa. Tapi bertahun-tahun masih juga ditanya. “Kok milih jurusan bahasa Indonesia?,” ini yang bikin tekanan darah langsung naik dan zluuuppp saya berubah jadi HULK.

Cara Membuat Resensi yang Benar secara Ilmiah

Resensi, pasti suatu kata yang tak asing lagi. Saya sendiri gemar membuat resensi. Gemar juga memberikan tugas membuat resensi. Terlebih lagi, gemar membaca resensi sebagai bahan pertimbangan. Adakalanya, saya juga tidak pede dengan tulisan saya, sehingga perlu merefres teori yang mendasarinya.

Buku yang saya rujuk adalah Komposisi karangan Gorys Keraf, sebuah buku pedoman dasar yang harus dimiliki mahasiswa dari displin ilmu bahasa Indonesia. Buku yang untungnya telah saya miliki sejak jaman menjadi mahasiswa J Sebuah investasi berharga bagi saya.

TIPS Meningkatkan Kemampuan Menulis dengan Membaca

Miris dan kzzzllll.... ada sedikitlah rasa itu ketika saya memberikan pratest di hari pertama saya mengajar, terkait kemampuan para mahasiswa menulis. Rasanya sebagian besar dari mereka punya kemampuan yang sama dengan siswa SMP. SIAPA YANG SALAH? Mencari kambing hitam tentukan akan menjadi lebih mudah, tapi tentunya tidak menciptakan solusi.

Belajar bahasa khususnya Bahasa Indonesia adalah belajar mengenai cara belajar yang efektif. Kita tidaklah dituntut hanya menghapal teori-teori seputar bahasa tapi juga dapat mahir dalam melakukan keterampilan bahasa. Ada 4 keterampilan yang harus dikuasai; menyimak, berbicara, membaca, dan  menulis. Semua saling terkait dan mendukung satu sama lain.

Nah, sebenarnya banyak cara yang dapat kita gunakan untuk meningkatkan keterampilan menulis. Saya pernah membagikan sebelumnya, tapi ada juga yang masih mengeluh karena sulit. Menurut saya, sebagus apapun tips yang diberikan tapi kalau hanya dipelototi tidak dilakukan, sama aja boong.

Kendala saat menulis yang paling umum adalah kesulitan untuk mendeskrepsikan ide dan keterbatasan pembendaharaan kata. Solusinya, membacalah dengan RUTIN. Pemilihan bahan bacaan juga jangan dibatasi. Pilihlah jenis yang beragam tapi tetap digemari. Jadi jangan pilah-pilah, hajar saja fiksi maupun nonfiksi. Dari bahan bacaan tersebut akan ada gambaran cara si penulis menampilkan ide. Hal ini juga akan terekam di alam bawah sadar kita, untuk selanjutnya akan mempengaruhi gaya personal dalam penulisan.

Dari membaca kita juga akan memperkaya diksi yang digunakan.  Jika dirasa masih sangat kurang, seseorang yang punya tujuan sebagai penulis profesional haruslah memiliki beberapa buku peganggan di antaranya KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), tesaurus Bahasa Indonesia, dan ensiklopedia. Dari KBBI kita bisa melihat pengertian dari kata yang akan digunakan. Sehingga suatu kata akan lebih tepat dipakai. Sedangkan dalam Tesaurus akan kita temukan aneka kata yang bersinonim, hal ini dapat membantu penggunaan variasi kata. Sementara ensiklopedia juga akan lebih menjelaskan arti suatu kata dalam bidang khusus.

Nah, saya sendiri memiliki KBBI, tapi terkadang lebih praktis mengakses secara online http://kbbi.web.id/. Selamat mencoba tips dari saya ya^^  

Perbedaan Gaya Penulisan Buku dari Pengarang Akademisi & Praktis

Ada moment dalam diri saya yang merasa bahwa terkadang jalan yang saya pilih terlalu banyak teori. Itu terjadi saat beberapa minggu yang lalu, saya kembali merapikan berkas-berkas. Kenyataannya yang paling menyita tempat adalah berkas materi semasa perkuliahan. Sambil berkemas, saya sempat melihat kembali teori-teori itu. Saya bahkan tak mengenali diri sendiri saat mampu mempelajari teori yang terlalu luas itu. Ciieeee....dikit sombong. Akhirnya setelah disortir, cuma tinggal beberapa bahan yang tetap dipertahankan.

Between Passion and Patience

Antara hasrat dan kesabaran, begilah kira-kira terjemahan bebas yang sesuai dengan maksud saya. Awalnya saya menemukan sebuah postingan FB yang dishare, sebuah ketidaksengajaan sehingga bisa tercecer di wilayah saya J lupa identitas si penulis, yang pasti beliau mengaku sudah malang-melintang di dunia kepenulisan nonkonvensional. Deskripsi jelasnya beliau penulis lepas skala profesional yang biasa mengisi artikel online laman-laman tertentu. Singkat cerita, itu Bapak antara ngoceh dan curcol. Ada seorang teman beliau yang ngomong doang akan buka bisnis. 

Sumber foto: google.com

Akhirnya beliau jadi flashback tentang perjalanannya sendiri. Tentang berbagai tanggapan soal jalan melawan arus yang dipilihnya. Dan bagaimana pengaruh passion dapat mengantarkannya sampai pada titik sekarang. Kesuksesan yang dikejar dengan maraton 10 tahun. Curcolnya itu begitu menginspirasi.
Nah, saya setuju passion yang datang dari diri itu adalah motivasi yang utama. Jalan yang akan dilewati tidaklah selalu mudah, bahkan akan sangat membuat frustasi. Ikut arus yang sedang menjadi tren untuk kemudian latah dalam euforia tidak lah cukup.

Terjaga dengan Tulisan

Sebulan lebih 3 hari dari postingan terakhir saya, sebuah kemunduran, bagai sebuah bukti bahwa saya gagal mendisiplinkan diri dari target yang ingin dicapai :’( . sebagai manusia biasa, pasti nanti akan ada alasan sebagai pembenaran dari kosongnya postingan itu. Sibuk ini lah, sibuk itulah, padahal ada kalanya hanya penundaan sehari, ya... ditunda sehari selanjutnya ditunda lagiii...

Hari ini juga sebenarnya tidak ada konsep untuk menulis hal apa. Tumben, rasanya kosong saja. Padahal baru pulang dari jalan-jalan, ada buku juga yang selesai dibaca. Jadi tulisan hari ini bertujuan untuk mengusir kantuk. Agar setelah subuh tidak kembali tidur lagi, walaupun udara dingin rasanya mendayu-dayu. Juga kelopak mata sudah berat untuk tertutup lagi walaupun jari-jari masih menari di keybord. Mungkin tak lama lagi, huruf-huruf yang diketik sudah mulai lari ke sana-sini.

Menulis; Kebiasaan baik atau buruk?

To the point saja, untuk urusan yang satu ini saya langsung lambaikan tangan ke arah kamera, ampun deh. Kalau saatnya tiba, tak mengenal tempat dan waktu, langsung saja huruf-huruf yang bergandeng membuat rangkaian kalimat. Ya menulis, sudah menjadi suatu kebiasaan yang tak tahu lagi, baik atau buruk. Setelah bangun tidur, saat belum melakukan kegiatan apa-apa, menulis sudah membajak diri saya. Kalau menemukan saja sedikit waktu luang apalagi moment galau, menulis kembali mengambil alihhhhhh.
Sumber foto: garasiopa.com

Motivasi Menulis

Yang terngiang-ngiang di dalam benak saya, sekitar 2 mingguan ini adalah penulis bukanlah penulis saat ia berhenti menulis. Ada nelangsa besar yang menganga laksana lubang hitam semesta saat saya harus melewati hari-hari yang penuh kesibukan kemarin. Hari-hari yang menyita rutinitas menulis, tak menyisakan kreatifitas barang sekejap untuk duduk dan benar-benar menuangkan isi kepala dan hati ke wujud tulisan. Apalagi mengetahui fakta bahwa calon buku kumcer saya jadi terbengkalai.

Sumber: writepath.org

Esai di Indonesia & Tingkat Kognitif

Adakalanya bahkan lebih sering, saat kita hendak memulai menulis kita harus melupakan sejenak tentang definisi.  Contohnya saja, untuk menulis sebuah esai. Adakalanya definisi juga dipengaruhi penerjemahan atau suatu kondisi negara tersebut. Kita bisa lihat seperti di Indonesia. Di negara kita tercinta ini, kata esai hanya digunakan untuk suatu tulisan di bidang seni maupun kebudayaan. Sebenarnya bisa saja disinonimkan dengan opini. Toh, dalam penulisannya juga perlu didasari pemakaian pemikiran yang kuat.  Yang bisa diwujudkan dengan runtun logika yang baik dan sumber referensi yang sesuai.
Sumber: Google.com

Tolonglah Menulis dg Etika

Sumber Gambar: www.memberconnect.com.au

Ini murni opini pribadi, karena saya kesal luar biasa. Tak pakai lagi peliputan atau dikait-kaitan dengan teori lain. Mau dibilang omelan juga terserah, yang penting saya keseelll. Kesal karena bermunculan media online, yang tampaknya tanpa kredibilitas, mulai memanas-panasi anak bangsa dengan berita-berita propokatif. Seenaknya saja membuat judul tulisan tanpa etika. Etika dilangar demi menggutamakan mengebulnya dapur, kalau kata Hamka “Kalau kerja sekedar kerja, monyet saja bekerja.”

Dari Membaca, Mari Menulis




Ada sebuah buku menarik yang saya temukan dan kemudian dibaca. Saking menariknya, saya langsung ingin membagi cerita kepada khalayak ramai.

Buku tersebut berjudul The Craft of Research berisikan kiat-kiat dalam penulisan hasil penelitian. Selain itu, isi buku tersebut juga dapat diimplementasikan pada berbagai tulisan yang sifatnya umum. Di tengah kekalutan menyelesaikan skripsi dan dikemelut buku-buku yang melabel diri dengan “cara-cara jitu menulis”, buku tersebut bak oase di padang pasir.

Oke, saya langsung saja pada esensi di bagian pertama.

Itu adalah Sebuah Analogi


Setelah mengalami beberapa lama perenungan, ternyata saya jadi lebih menyadari terdapat satu gaya bahasa yang sering sekali saya gunakan. Gaya tersebut terjadi dengan sendirinya,pengaruhi alam bawah sadar. Mungkin saja, teman-teman saya juga mengindentikkan saya dengan gaya bahasa itu. Analogi, yup... memang kerap kali saya gunakan. Analogi begitu saya gemari karena dapat menyederhanakan maksud yang diutaran dalam bahasa. Namun, adakalanya analogi yang saya gunakan membuat sang lawan bicara bertambah bingung. Malahan adakalanya juga, analogi yang saya gunakan itu membuat pecahnya tawa, ya lantasan bagian dari diri saya (yang biasa saya sebut dengan istilah proto melayu) muncul begitu saja tanpa rencana.


Terdapat satu peristiwa yang menyebabkan kegalauan pada diri ini. Di suatu forum resmi tingkat fakultas, seorang rekan dengan gampangnya menyamakan analogi dengan contoh. coba saja cek di http://kamusbahasaindonesia.org/analogi dan http://kamusbahasaindonesia.org/contoh
Analogi merupakan satu di antara gaya bahasa yang berciri menyamakan sifat di antara objek yang jelas berbeda, sedangkan contoh merupakan rujukkan langsung dari suatu pemaparan.

Di sekolah saya juga masih ingat, contoh analogi favorit ya... tentang "jamur yang berkembang marak di musim hujan" sebagai pengambaran perkembangan hal yang luar biasa di saat sedang tren. analogi yang sifatnya menyamakan juga awalnya membuat saya sempat salah paham. Pada kasus "jamur di musim hujan", pemikiran saya yang begitu imajinatif malah berspekulasi bahwa jangan-jangan tempat penjualan pulsa yang booming sejalan munculnya telepon genggam juga ada yang beracun seperti jamur. Jelas ini pemikiran sesaat karena (umumya) analogi hanya menyamakan satu sifat saja.

Analogi juga merupakan cara belajar yang menyenangkan, terutama dapat membantu memori. Suatu pemahaman yang penting dapat diingat dengan praktis apalagi setelah ditabah "sentuhan pribadi". Misalnya saja, saya yang sebelumnya begitu ribet hingga rsanya mengalami konslet otak karena binggung dengan konsep pendekatan dan teknik. bisa jadi kesimpang siuran dan kesesatan abadi jika hanya berdasarkan pendapat ahli yang diutarakan dengan bahasa-bahasa ajaib. Maka, saja mencoba menganalogikan sebagai berikut.
"jika suatu karya sastra diibaratkan sebagai seekor sapi yang sehat dan siap potong, maka pendekatan adalah sisi dari si sapi yang ingin diolah. Andaikata kita sudah menemukan pendekatan yang pas ialah 'sirloin' maka selanjutnya tinggal pilih dengan teknik pemotongan 'steak', rendang, atau sate. maka, hasil akhir adalah berdasarkan pendekatan dan teknik adalah analisis kita....

semoga saja logika beranalogi yang saya lakukan masih tetap di jalur...

Apa itu Sastra?

Setidaknya, hal di atas merupakan pertanyaan abadi, ya layaknya pertanyaan telur dan ayam. Khalayak sampai sekarang pun masih berupaya untuk menjawab mana di antara ayam atau telur yang keberadaannya terlebih dahulu di dunia ini. Nah, berbagai teori juga tak habisnya silih berganti saling menyusul seputar ayam dan telur. Demikian halnya sastra, selalu saja di kelilingi aneka teori, tentunya dengan didasari oleh berbagai macam pertimbangan. Adakalnya, bahkan lebih sering teori-teori tersebut saling membantah diri mereka sendiri. Seringnya, bagai sebuah misteri alami di alam semesta, pengklasifikasian suatu karya fiksi prosa dijawab oleh berlangsungnya waktu.
Apa itu sastra? Pertanyaan yang tidak akan dapat saya lupakan karena merupakan tugas esai pertama saat menjadi mahasiswa. Begitu pula pernyataan pakar dalam sebuah buku teori bahwa “pendefinisian sastra akan terus berlanjut, tak pernah berhenti, dinamis.” Saya tentu masih ingat tekanan yang diterima dalam lingkungan kami, yang belum apa-apa saja sudah dibayangi oleh kekhawatiran tidak lulus mata kuliah. Juga, upaya saya dalam menulis esai dibantu mesin tik yang membuat jari-jari telunjuk begitu menderita. Maka, waktu yang berselang akan menjawab terdengar sebagai alasan kemalasan.
Semua orang, pasti memiliki kebebasan untuk menuangkan ide. Bagi saya, sastra terlalu dangkal penafsirannya jika dirunut dari pembentukan dan asal muasal kata tersebut. Terlalu naif juga apabila di pecah belah antara karya populer dan tidak populer. Terlalu picik malahan apabila ditinjau dari segmentasi pasar. Maka, sastra itu adalah kebebasan mutlak dari sang pembaca. Bukan kediktatoran penulis, paksaan penerbit, terlebih wewenang distributor –tak peduli kaliber besar maupun kecil—.
Bagi saya sastra, khususnya suatu karya sastra ialah stimulus yang baik untuk kembali mereproduksi karya. Ok, habis perkara dan titik!

Flashfiction Tebakan Misterius

Sebelum membaca tolong diperhatikan, bahwa tulisan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kuis tebak-tebakkan dengan hadiah berupa nominal atau hal tertentu. tulisan ini diawali oleh tebakan yang sampai sekarang masih belum ditemukan jawabannya.

Semua bermula saat saya ditempatkan di sebuah sekolah. Hari-hari pertama merupakan tahap adaptasi dengan keadaan sekolah, entah dari fisik maupun rohani sekolah. Sosok itu begitu menarik perhatian saya. Beliau duduk tepat sejajar dengan posisi meja saya, sehingga membuat saya memiliki sudut yang begitu nyaman untuk memperhatikannya. Sebelumnya, tak ada yang menarik perhatian dari sosoknya yang tak jauh berbeda dari para guru lainnya. Berangkat dari keisengan yang diharap mampu membunuh waktu, dalam kelakar saya menyapa seorang rekan dan mengajukan wacana tentang sebuah tebakan. Berapa kira-kira usia sosok di seberang saya, yang kiranya kelihatan perlu usaha yang begitu keras untuk mengoreksi tugas-tugas siswanya. Sosok yang telah begitu ringkih itu tampak diperlambat oleh daya lihat indera yang telah begitu aus oleh waktu. Demi memudahkan pekerjaannya tersebut sang ibu, tidak hanya dibantu oleh kaca mata tapi ditambah lagi oleh kaca pembesar yang selalu siap sedia.

Mungkin usia sang ibu sama halnya dengan republik kita ini.
Sosoknya begitu rapuh diantara jasmani-jasmani tegap lainnya. Saya juga menjadi makin penasaran untuk mengetahui bukan hanya usia si Ibu tapi juga motifasinya untuk terus mengajar. Kesemua hal itu masih menjadi misteri. Sosok beliau terasa begitu menyayat, karena seharusnya di masa-masa ini beliau membujurkan kaki di rumah. Selain itu, etos kerjanya juga menohok jasmani-jasmani yang tampak tangguh namun sepi dalam pengabdian. Saya saja kalau punya kesempatan untuk tidak hadir pasti akan dengan senang hati tidur sampai siang di rumah.

Resensi Fortunately The Milk Karya Neil Gaiman

Buku cerita anak yang saya baca ini merupakan terbitan Gramedia pada tahun 2014. Karya Neil Gaiman yang diterbitkan pertama kali pada tahun ...