Wednesday, June 1, 2016

Cara Mudah Menulis Katalog Buku

Ilmu yang tidak ditulis kembali ataupun tidak disampaikan kepada yang lain, akan cepat menguat bagai air mendidih yang terus dipanaskan. Makanya, dari jaman dahulu kala saya punya tips belajar dengan berbagi dengan orang lain. Eh, tau-taunya sekarang sekarang punya kesempatan jadi guru, dosen, dan trainer. Eeeiiittt.....stop, jadi ngelantur.

Ada sebuah ilmu baru bagi saya. Gak ada niat sebelumnya, tau-tau saya diminta ikut pelatihan bimtek pengelolaan perpus. Saya kira ini bisa jadi hal yang remeh-temeh banget. Menginggat, saya sering nongkrong di perpustakaan--merasa nyaman di antara buku-buku itu ketimbang orang lain #nahjadicurcolll--dan melihat pustakawan itu kerjanya santai banget.

Sumber foto: hallyucafe.wordpress.com

Bimtek tersebut didasari oleh hibah buku yang kami dapat untuk masjid di lingkungan kami. Sebuah program dari Perpustakaan Daerah Kalbar, untuk menggalakan minat baca warga. Penyebarannya juga tidak hanya di rumah ibadah. Perpustakaan-perpustakaan mini itu juga sudah tersebar di beberapa pos penjagaan perbatasan Indonesia-Malaysia, kantor camat, kantor desa, hotel, dan warung kopi.


Pelatihan dasar tentang pengelolaan perpustakaan itu berlangsung selama 3 hari, dari pagi sampai malam. Tak terbayangkan bakal seribet ini. Di antaranya yang menurut saya paling penting dan rumit adalah pembuatan katalog. Katalog buku penting ditulis agar pihak lain dapat dengan mudah menemukan posisi si buku, di antara beribu-ribu atau bahkan jutaan buku lain. Walaupun sekarang sudah diintegrasikan dengan layanan komputer, jadi umumnya sudah tidak ada lagi bentuk fisik kartu katalog.

Sumber foto: jejeffri.wordpress.com


Secara singkat, katalog terdiri atas nomor klasifikasi, identitas buku, dan nomor induk. Nomor klasifikasi bakal berada di sudut kiri atas. Nomor tersebut ditentukan dengan sistem DDC (Decimal Dewey Clasification).  Yang rajin banget ke perpustakaan pasti gak asing lagi sama nomor ini, karena selain berada di katalog buku, nomor ini ada di tiap rak buku, juga di sisi punggung buku. Selanjutnya adalah identitas buku, yang ternyata lebih ribet dari menulis daftar pustaka. Maaf ya, tidak dibahas lebih lanjut karena bisa terlalu panjangan ntar postingan saya. Di bagian paling bawah akan ada nomor induk. Bagian ini bisa dibilang paling mudah, karena ditentukan berdasarkan kebijakan masing-masing perpustakaan. 

Okay, semoga aja tulisan ini membawa manfaat. Paling tidak, buat yang ingin menemukan buku, tidak lagi mencoba cara manual seperti yang biasa saya lakukan. Bisa-bisa mesti berkemah dulu baru tu buku nemu. Nanti... langsung cus menuju komputer katalog untuk menemukan buku.