Friday, June 3, 2016

Buku, Romansa, dan Perpus

Saya yakin, semua juga pernah mengalami yang namanya jatuh cinta dengan berbunga-bunga dan pada akhirnya harus bertemu juga dengan malangnya patah hati. Saya ingat itulah awal mula pengalaman ini. Saya skip bagian bunga-bunga itu bermekaran tapi kalau mau ngebayangin, bayangin aja itu sakura yang mekar di sepanjang tepian sungai. Akhirnya, semua mesti remuk redam tak beraturan, hingga saya memutuskan hal aneh kala itu. Absurd luar biasa, saya gak cocok dengan manusia, manusia terlalu komplek untuk memahami dan dipahami. Entah dari mana datangnya ide gila itu. Maka, buku adalah sebuah pelarian yang begitu sempurna.

Sumber foto: www.123rf.com


Kebetulan, sebuah perpustakaan baru, diresmikan di universitas kami. Beberapa tahun yang lalu, saat semua masih berbentuk hitam-putih khas zamannya Charlie Caplin, perpustakaan yang satu itu  hadir  dengan sesuatu yang segar luar biasa. Koleksi khas dari benua America, dekorasi yang modern, keadaan yang luar biasa nyaman, terlebih semua mebel berwarna putih, saya bagai menemukan sepotong surga yang jatuh ke bumi. Apalagi, waktu itu, bisa dibilang sepi, jadi merasa nyaman bagai perpustakaan pribadi.

Hampir setiap sore saya datang. Biasa, mahasiswa semester akhir tanpa mata kuliah lagi, dengan beratnya beban skripsi plus patah hati. Ingin menyepi dan ngadem di tempat yang tanpa mengeluarkan biaya. Maklum di daerah kami, matahari bersinar dengan begitu giat. Kebahagian saya terlengkapi dengan kumpulan cerita pendek dari Hemmingway. Romansa yang begitu berbeda dari The Old Man and The Sea, sayang lupa judulnya.

The Old Man and The Sea bagi saya adalah sisi kelam dunia memancing. Bukannya saya alergi dengan tema itu, tapi orang-orang terdekat yang selalu saja membagikan cerita seru saat selesai menjalankan hobi tersebut berbanding terbalik dengan cerita pria tua di perahu kecilnya. Selalu saja dimata mereka, ada hasrat petualangan yang menggebu-gebu, tapi ketika itu diwujudkan dalam barisan kata novel, itu menjadi rasa bosan yang akut. Makanya, saya jadi terkejut dengan kumpulan cerpen romansa itu.

Sumber gambar: content.time.com 

Hemmingway mampu turut memainkan peran lain, selain pria tua membosankan. Ia muda lewat tokoh-tokohnya, dinamis, manis; bahkan walaupun si tokoh tak bisa mendapatkan kekasihnya. Ada kesegaran yang terasa melewati jiwa. Entahlah, rada susah mendeskripsikannya. Anggap saja, kamu baru pulang ke rumah, dari tempat yang tak terlalu jauh, tapi perjalannya kering dan panas. Lalu, di rumah tersedia segelas es jeruk nipis manis. Sensasinya, adalah saat tenggorokanmu mulai basah dilewati minuman itu. Ahaaa.... itulah yang paling tepat.

Hummmfff, sebuah nafas berat dan panjang, kuhela saat cover buku tersebut kembali tertutup. Pandangan ku lempar sejauh mungkin dari kata-kata yang berderet,berusaha untuk menghilangkan lelah pada bola mata yang mulai menimbulkan pandangan yang berbayang. Saat, sekelompok orang keluar dari kelas di perpustakaan. Dirinya, satu-satunya hal menarik yang dapat dijadikan objek. Ku tak menyangka, ia juga melepas pandangan yang sama. Bahkan, saat tak lagi bergabung dengan rombongan, tatapannya masih untuk ku.

Tak sopan mungkin, karena tak ada senyum terukir dibibirku untuk membalas. Aku masih keras berpikir, kenapa seorang asing, bisa terasa begitu familiar. Untuk beberapa detik, aku bahkan merasa yakin, dia akan melompat seketika untuk lebih dekat selangkah padaku. Tapi, hal itu tak pernah terjadi. Aku berbelok ke arah rak untuk mengembalikan buku. Sementara  dia akhirnya melanjutkan perjalanan ke arah pintu keluar, terasa kehilangan alasan untuk tinggal.

Romansa sore itu, dari Hemmingway dan si orang asing. Yup, saya sudah sembuh dengan seketika, siap kembali menunggu bunga-bunga itu kembali mekar.