Sunday, June 5, 2016

Alasan di Balik Nama Pena

Saya sempat punya pengalaman yang rada menggelikan belakangan ini. Jadi malu sendiri, kalau diingat-ingat. Saya dan komunitas menulis buku keroyokan. Nah, baru bulan lalu buku itu datang. Saya senang luar biasa tapi lekas juga berubah. Yah, amarah menguasai ketika saya tak melihar nama saya di situ. Saya balik halaman berkali-kali. Benar-benar tak ada nama saya di situ. Yang ada, nama seseorang yang begitu asing bercokol sebagai editor dan pemilik satu karya.

Sumber foto: bookcovercafe.com

Tak lama, saya tepok jidat. Hehehe....lupa, ternyata itu memang diri sendiri. Lupa dengan nama pena sendiri karena proses penulisan buku itu, memang sudah beberapa tahun yang lalu. Atya Aufa sebuah nama yang saya pilih karena lebih unik dan enak didengar. Tapi lagi-lagi, karena kelamaan jadi lupa artinya. Apalagi sekarang saya menggunakan nama pena baru Rania Dewanti.



Masing-masing pasti punya alasan dengan nama yang digunakan. Kalau kita flash back pada masa penjajahan dahulu kala^^, penulis yang mengkritisi pemerintahan kolonial tentu menggunakan nama pena atau nama samaran dengan alasan keamanan. Bagaimana tidak di masa itu kritik jadi hal yang terlarang dan bisa mengakibatkan dipenjaranya seseorang. Contohnya saja Eduard Douwes Dekker yang memilih nama pena Multatuli. Cek ya tulisan saya lebih lengkap tentang Multatuli siapa-sebenarnya-multatuli-pengarang   

Nah, semakin ke sini, maksud saya semakin maju ke masa depan, nama pena jadi berubah fungsi. Ada kecendrungan menggunakan nama pena lebih ke pada pertimbangan ekonomis. Misalnya aja nama asli si penulis itu tergolong pasaran, jadi guna diingat mudah oleh pembaca haruslah mengganti nama. Bisa juga karena nama asli terlalu panjang atau juga memang tak menarik. Misalnya saja Lev Nikolayevich Tolstoy yang lebih dikenal sebagai Leo Tolstoy yang merupakan sastrawan dari Rusia.

Pada kasus lain, nama panjang akan menjadi sulit diingat terutama untuk pembaca dari kalangan anak-anak. sebagai penulis buku anak, nama penulis juga harus terkesan mampu memawikili brand buku mereka. Sebut saja Dr. Seuss yang mewiliki nama asli Theodor Seuss Geisel atau Lemony Snicket yang bernama asli  Daniel Handler.

Ada juga opini yang beranggapan bahwa nama asli yang merupakan pemberian orang tua adalah sesuatu yang sakral. Buat saya yang terpenting adalah siapa pun sebutan orang untuk diri, kita harus merasa nyaman dan selalu menghargai diri kita.

Semoga tulisan saya bermanfaat ya teman ^_^