Friday, June 10, 2016

Resensi: House of Silk

Bisa dibilang saya pengemar kisah-kisah klasik. Bagi saya, sebuah kisah dari masa lalu yang mampu bertahan hingga berpuluh-puluh tahun ke depan atau bahkan lebih, merupakan bukti dari kualitas. Terutama kisah-kisah detektif Sherlock Holmes, yang hingga sekarang masih terus diterbitkan dan terus dibaca. Apalagi kisah yang mendunia ini juga diapresiasi dengan berbagai media, tidak hanya di atas kertas tapi juga dalam bentuk film dan serial TV. Semua tentang Sherlock Holmes mendapat sambuatan yang luar biasa dari seluruh penjuru dunia.





Saya jadi senang luar biasa karena akhirnya bisa menemukan lagi dan menambah koleksi untuk kisah-kisah detektif tersebut. Pada cover novel tertulis untold story of Sherlock Holmes, nah lohh... Setahu saya, kisah-kisah Sherlock Holmes pertama kali diterbitkan berupa novel dan cerpen yang dterbitkan secara berseri di koran-koran lokal Inggris pada kurun 1880-an hingga 1920-an. Di bagian belakang, terdapat pengantar singkat bahwa cerita itu merupakan kisah yang belum diterbitkan.

Pengantar yang menarik karena latar penulisan juga berada di Inggris sekitar abad 18 akhir dengan kisah tugas detektif swasta dan asistennya (lebih tepat sahabat kali yaa), memecahkan kasus. Perbedaan terletak pada penulis karena kisah Holmes yang satu ini bukan ditulis oleh Sir Conan Athur Doyle tapi oleh Anthony Horowizt.

Anthony Horowizt sendiri sudah tidak asing lagi dengan dunia kepenulisan. Ia sudah banyak menulis buku dan skenario khusus untuk genre misteri. Beruntung banget, kisah Holmes ada yang melanjutkan.

House of Silk seperti kisah-kisah Holmes lainnya, memiliki alur yang susah ditebak oleh pembaca. Kasus yang mengawali kisah begitu berbeda dengan kasus inti yang menjadi akar masalah. House of Silk sendiri tentang sindikat prostitusi anak. Sebuah tema yang ternyata sesuai tentang problem aktual masa kini, karena sering menjadi kasus yang tidak terselesaikan. Andai kan saja Holmes bisa jadi kisah nyata.