Monday, September 22, 2014

ANTARA MADRE, ROTI, dan SAYA

Madrenya Mbak Dee itu memang sudah sejak lama saya tahu. Termasuk versi film dengan Vino G. Bastian. Karya-karya Mbak Dee yang lain juga saya ketahui, begitu terkenal ya… tapi belum satu pun saya baca. Saya cendrung mengoleksi karya sastrawan dulu. Untuk sastrawan abad millennium ini, kurang sesuai selera saya, hehehe…. Hingga kini barulah saya baca Madre, novelet bergambar kini. Sebuah pengalaman yang menyenangkan rasanya, bagai mencicip sebuah roti.

Ketika membaca apalagi setelah selesai mencerna Madre dibenak saya berputar hal ihwal seputar roti. Sebelumnya, saya kira mungkin saya yang lebay memperlakukan sebuah roti. Bagi sebagian masyarakat umum, roti layaknya penganjal perut ketika lapar. Yang dengan cara kurang beretika dijejalkan saja ke dalam mulut. Tiap orang pasti berbeda dalam etika termasuk terhadap makanan. Ada kalanya orang akan mengangap sombong ketika seseorang tidak mau memamah suatu makanan. Roti memang satu di antara berjenis-jenis makanan. Untuk mengolah roti juga harus dengan bahan-bahan berkualitas dan proses panjang. Bukanlah suatu kesombongan untuk menolak sesuatu yang bisa menjadi penyakit jika mendarat di dasar lambung kita.

Friday, September 19, 2014

Sekolah


Mimpi, banyak yang mengutarakan sebagai bunga tidur. Sesuatu yang menjadi penghibur saat raga dan jiwa mulai melepas lelah. Tapi, adakalanya mimpi adalah sesuatu yang mendaki di dasar jiwa kita. Ia menjadi begitu kokoh di alam sadar. Pada kasus saya, bisa jadi sesuatu hal yang begitu dirindukan. 

Dalam siklus hidup ini, sudah genap setahun saya meninggalkan sekolah. Tempat di mana saya selalu berdiri tiap harinya. Tak bosannya bicara di depan siswa, berusaha menjadi fasilitator sekaligus mentor. Beberapa malam yang lalu, perasaan itu mampir lewat bunga tidur. Betapa sadarnya saya sekarang, tentang rindu yang membatu itu. 

BERSYUKUR karena MLM


Galau beberapa hari ini, karena baru saja memasang target akan posting 2 tulisan dalam satu hari, saya langsung digempur dengan deadline SPJ lalu datanglah mandegnya inspirasi dan mood menulis. Bagi penulis, khususnya saya, emosi itu begitu diperlukan untuk kreatifitas. Saat sedih, saya bisa memproduksi cerita mellow. Saat marah, saya juga bisa menulis cerita yang meradang merah. Saat bahagia, aneka warna bunga akan pindah ke dalam cerita. Tapi saat stag, yang ada hanya kekosongan.  Beberapa hari kemaren saya sudah mencoba aneka tips. Termasuk tipsnya Bang Dika *Eaaakkk biar dibilang akrab gitu, hehehe, dengan menulis bahwa kita tak bisa menulis. Hasilnya cuma curhatan yang tak layak verifikasi untuk posting :p. Akan tetapi, hari ini berbeda. Saya baru keluar dan jalan-jalan, eiitttsss bagian jalan-jalannya akan ada postingan sendiri. 

Baru-baru ini juga saya melanjutkan kembali membaca buku MIMPI SEJUTA DOLAR Merry Riana. Baru sampai bagian belum suksesnya, woalahhh dan ada bagian tentang bisnis MLM. Nah loh kok sama dengan pengalaman saya dulu, dari rentang 2007 s.d. 2008 saya aktif di MLM. Bahkan sempat ikut konferensi internasionalnya di GBK Jakarta.      

Tuesday, September 9, 2014

Semarak Merdeka

Saya kembali ke tanah jawa tepat pada tanggal 17 Agustus kemaren. Sebuah tanggal yang begitu berarti bagi Bangsa Indonesia. Peringatan kemerdekaan RI pertama bagi saya, jauh dari kampung halaman. Beberapa hari sebelumnya, saya rasakan beberapa instansi sudah mulai serius menyiapkan upacara. Maka para anggota pasukan pengibar bendera di beberapa tingkat tampak begitu sibuk berlatih dibina oleh pelatih mereka. 
Sumber Gambar: m.obornews.com

Friday, September 5, 2014

Cerbung: Cerita Langit Mendung (5)

“Kamu ini ngapa sih? Wong maksud Satrio itu baik ngurus kepindahan kamu?”
“Tapi caranya itu bu, aku juga yakin kalau bapak juga punya pendapat sama kayag aku. Aku dididik dengan keidealisan pria yang berdisiplin tinggi, pria yang gak takut pangkatnya gak naek-naek kalo yakin ngebela yang benar.”

Ndok...kamu kenapa bawa-bawa bapakmu? Wong almarhum udah tenang kok.” Kejengkelan terdengar dalam suara ibu yang bergetar,  ia segara beranjak dari kamarku.
“Aku cuma menggingat ajaran bapak. Dan tetap setia sama nuraniku yang berusaha ngebela kemanusian. Berusaha tetap jadi manusia.”

Cerbung: Cerita Langit Mendung (4)

Kemana Satrio yang dulu selalu bereaksi cepat saat rakyat kecil terpijak? Kemana Satrio yang dulu selalu berteriak lantang demi bereaksi keras menentang KKN? Kemana Satrio yang dulu dengan nurani lembutnya yang membuatku kagum? “Aku tinggal telepon ne, dan paling lambat minggu depan SK barumu turun.” Satrio masih belum menyadari kemelut sukmaku.
Sumber Gambar: www.glogster.com


“Kamu berubah!” Ujarku tajam dan segera meninggalkan restoran. Aku tak sanggup lagi menoleh kearahnya. Tak lama ada selaksa nyeri menghampiri kepalaku. Denyutan ini begitu membara dan semakin menguat tiap detiknya. Memang denyutan ini hanya menyayat di beberapa titik namun dalam keadaan seperti sekarang ini sungguh begitu memprovokasi. Aku hanya ingin segera lekas pulang dan merebahkan diri.

Thursday, September 4, 2014

Cerbung; Cerita Langit Mendung (3)

Pandanganku beralih pada garis melingkar yang meninggalkan warna putih di jari manis kiriku. Dulu pernah ada benda yang begitu kujaga dan kuhargai, bukan karena nilai rupiah dalam tiap karatnya namun karena simbol dari nilai indah kepercayaan dan pengertian. Pikiranku meloncat ke peristiwa seminggu lalu.


Sumber Foto: www.shutterstock.com
...
Aku begitu bahagia melihat sosok itu, dan jika tidak menggingat adat kesopanan timur mungkin aku akan menghambur ke dalam pelukkannya, berdiam selama mungkin. Pancaran matanya pun berusaha menuturkan perasaan yang sama dengan yang kurasakan, rindu. Satrio menjemputku dengan sumringah senyum khasnya, ia sigap membawa tasku. Apa nanti ia juga akan tetap sesigap ini kala menjadi suamiku atau malah berubah jadi sesosok manusia cuek yang berlaga seperti bos besar? Tipe suami-suami yang umumnya kulihat dalam masa tugasku di daerah, yang beranggapan bahwa istri adalah seorang abdi. Ah, Aku jadi ngelantur

Cerbung; Cerita Langit Mendung (2)

Hujan yang membawa anugerah malah bermuka muram kala membuat parit meluap dan berbau menusuk. Belum lagi berbagai penyakit yang akan merongrong. 




Aku kini bersitatap dengannya, entahlah dari kedua matanya dapat kurasakan aura yang begitu rumit. Entah itu bahagia, nanar, tersayat, sedih, ataukah yang lain? Pascaoperasi aku ditugaskan untuk merawat luka 20 cm yang melintang di perutnya. Apa ia bahagia? Apa bisa bahagia tinggal di rumah yang begitu tidak layak ini? Rumah yang membuatku begitu bersyukur dengan rumah dinas tipe 21 yang begitu seadanya dan sederhana.

Wednesday, September 3, 2014

Cerpen: Maaf


Pagi ini, saya membuka-buka beberapa file lama, ketemu sebuah cerpen yang saya buat sendiri untuk pembelajaran di kelas. Cerpen ini juga pernah saya coba kirim ke sebuah majalah anak, nasib belum dimuat. Selamat membaca.



           Sumber Gambar: www.andreskwon.com
 Salam terdengar membahana di ruang tamu. Dani yang semula tampak serius lekas menjawab salam dan bergegas membuka pintu. Ternyata di ambang pintu telah berdiri ayah yang tersenyum dalam letihnya sepulang kerja. Dani segera mengambil tas dan mencium tangan ayah. Ayah tersenyum makin lebar sambil mengacak-acak rambut anak sulungnya.

Cerbung: Cerita Langit Mendung (1)

Sejak kapan bilbord megah itu terpampang di jalan protokol pada kota ini? Bilboard yang membawa pesan propaganda iklan itu mampu menyedot perhatian pengguna jalan. Kesan yang begitu elegan dan mewah terpancar pada objek iklan tersebut. Kedua benda yang saling melingkar bertautan bermata berlian begitu mengoda. Tampaknya sang kreator atau yang mpunya ide akan iklan tersebut terbilang sukses menjalankan tugas persuasinya.

Sumber Gambar: hot.detik.com

Jam Tunjukan Generasimu



Saya sebelumnya sudah sangat lama tidak menggunakan jam tangan. Rasanya, terakhir kali saya mengenakannya ketika zaman pra masehi, saat piramidaa Giza sibuk-sibuknya dibangun :D. Kita sebagai seseorang yang hidup dan dibesarkan di era digital *eAaaak, pasti merasakan bahwa untuk mengetahui waktu cukuplah dari handphone, yang dengan berbagai aplikasi muktahir di dalamnya, bisa juga terhubung dengan jadwal kegiatan penting. Jika waktunya telah tiba, rentetan suara alarm akan terdengar, beep…beep…beep… Pokokknya jam tangan sudah dapat tergantikan fungsi utamanya, kini tak lebih dari sekedar aksesoris bagi saya.

Monday, September 1, 2014

Buku Harian dan Jurnal

Sebuah gaya bercerita yang tidak asing lagi, kita dapati dalam berbagai buku yang dipublikasikan. Adakalanya fiksi berbentuk prosa disampaikan dalam gaya penulisan buku harian atau jurnal.  Bahkan buku harian atau fiksi itu sendiri yang diterbitkan sebagai bagian dari autobiografi maupun memoar. Gaya yang satu ini selalu saja populer, eksis hingga kini, tak peduli kategori pembaca.