Cerbung: Akhir di Bukan Akhir (1)

1939, Lukman
Siapapun yang pernah bercakap-cakap dengannya pasti menyadari otak brilian yang dimiliki Marlena. Siang itulah kesempatan pertama dan terakhirku bercakap dengannya di sekolah kami. Aku juga merasakan letupan revolusi pada setiap pilihan diksi tajam guna mengkritik pihak kolonial. Aku juga simpati pada gadis ini, karenanya aku bersyukur dilahirkan sebagai anggota keluarga carik sederhana. Karena itu juga noni-noni dan tuan-tuan muda di sekolah menyisihkanku dari pergaulan.
Aku begitu terkejut karena melihat Marlena muncul di sini, seorang noni paling populer muncul di tempat lusuh, tempat seorang siswa miskin menyendiri.


            “Sudah jangan hiraukan aku.... Lukman!” Itu kata-kata pertamanya pada ku kala itu, aku terperanjak sekaligus kagum karena ia mengenaliku.”  Kepopulerannya karena kesupelan dan kecerdasannya begitu terpencar, begitu juga kecantikkannya. “Aku kurang suka pada kediktatoran Lerares Furcsen tadi... politik balas budi pastinya cuma kedok. Isi semua pelajaran di sini cuma doktrinisasi.” Itu kata-kata selanjutnya yang ditujukannya padaku setelah kami berdiam diri selama kurang lebih lima menit. Kami kemudian melakukan perdebatan yang semakin memanas setiap menitnya. Kealotan begitu terasa dalam debat ini, aku begitu bersikukuh untuk merebut kemerdekaan dengan kekuatan senjata. Dan sebaliknya Marlena menggangap hal itu sebagai tindakan kurang cerdas yang hanya melibatkan otot lalu hanya akan membawa perubahan dipermukaan saja. Aku agak tertarik dengan teorinya bahwa kemerdekaan terjadi jika semua arus informasi dapat diterima oleh semua lapisan rakyat. Ia mengutip teori dari seorang pakar politik yang namanya begitu sullit untuk dilafalkan. “Informasi adalah kebutuhan utama dan paling dasar yang sebenarnya dari suatu masyarakat.” Begitulah simpulan akhirnya. Tapi tetap saja cara yang dipaparkannya tidaklah efisien secara waktu.

            “Kapan kita akan merdeka? Saat cucu kita telah mempunyai cucu?” Aku menyanggah dengan begitu keras kepala. Saat-saat pertama diskusi kami, aku sebenarnya sedikit merasa takut, ya karena membagi pikiran kontroversi di wadah binaan kolonial serta dengan putri seorang pejabat yang begitu terkenal dekat dengan Belanda. Pada awalnya kenekatan yang melandasiku menuangkan segala pikiran, mungkin juga karena selama ini tak ada wadah yang tepat untuk pelampiasan semua kekesalanku pada kolonial. Sampai seorang gadis manis dan begitu cerdas muncul di hadapanku dengan kilatan mata yang begitu nyalang. Uh... aku memang kagum padanya. Begitu kagum hingga tak mampu menentukan posisi diriku, sebagai temankah, sebagai seorang pemujakah, atau sebagai... laksana kaum papa yang mengadahkan tangan terbuka yang kosong, lalu di isi dengan apa tangan itu, apa yang aku harapkan....

2 comments:

  1. Tulisannya menarik...like...!! Mari silatruhami di blog saya juga ya : www.cahayapena.com

    ReplyDelete

Resensi Fortunately The Milk Karya Neil Gaiman

Buku cerita anak yang saya baca ini merupakan terbitan Gramedia pada tahun 2014. Karya Neil Gaiman yang diterbitkan pertama kali pada tahun ...