Cerbung; Akhir Di Bukan Akhir (2)

Uh... aku memang kagum padanya. Begitu kagum hingga tak mampu menentukan posisi diriku, sebagai temankah, sebagai seorang pemujakah, atau sebagai... laksana kaum papa yang mengadahkan tangan terbuka yang kosong, lalu di isi dengan apa tangan itu, apa yang aku harapkan....
            Perdebatan yang begitu menarik tersebut segera saja menjadi kenangan, satu-satunya kenangan indah di MULO yang hanya beberapa bulan. Kenangan indah selain senyuman-senyuman seberharga madu asli dari hutan terdalam yang hanya bisa ku dapat dari kejauhan, dengan usaha yang kulakukan dalam diam untuk mencuri dan merekam bayangan tentangnya.

Sumber Gambar: www.picstopin.com

            Hampir dua tahun berjalan setelah keluarnya aku dari MULO. Hari itu hujan telah mengguyur Jogja lebih dari beberapa jam. Karenanya cipratan-cipratan air yang tergenang di jalan terkena lindasan ban delman atau pengendara sepeda yang nekat menjadi simfoni indah penghibur kebosanan. Disaat pikiranku tengah menggabungkan simfoni sederhana alam dengan indahnya lagu gubahan WR.Supratman Indonesia Raya yang mendayu perasaan dengan hembusan surgawai biola, ketukkan pelan itu terulang di pintu depan. Aku bergegas dalam diam menggingat tugas memang mengharuskan menerima seorang tamu penting. Cucuran atap yang tidak begitu jauh membuat tamu yang telah kuyub semakin menggigil dalam pakaiannya. Ia adalah seorang wanita dengan rambut sebahu dan saat ia menggangkat wajahnya perasaan senang menghambur dari pembuluh darahku memenuhi jantung, aku segera mempersilahkannya masuk.


            Kami bertemu kembali dalam kesayuan alam dalam kerapuhan masa. Marlena kini duduk di ruang tamu dengan tangan yang bergetar dalam upayanya menyeruput teh panas. Entah apa karena cuaca atau karena alasannya datang kemari. Aku menunggu dengan degupan jantung yang saling berpacu, laksana hentakkan kaki kuda-kuda unggul dalam balap kuda.

            Aku merintis karier di tentara pemberontak, tentunya pemberontakkan versi Belanda karena sebenarnya kami cuma ingin mengambil yang menjadi hak kami. Rekan-rekan yang mengetahui latar belakang romo sebagai carik segera saja mempromosikan aku diposisi sekretaris di pos kecil kami. Mereka beragumen karena aku dibesarkan dilingkungan pemerintahan yang begitu kental dengan urusan administrasi pastinya menjadi modal dasar untuk tugasku selanjutnya. Karena itulah sekarang hanya aku dan Marlena yang berada di ruang ini. Tugasku juga menggantikan posisi bang Sigar saat mendapat informasi dari rekan-rekan yang menyusup di pemerintahan kolonial, namun aku benar-benar tak mengira akan berjumpa dengan Marlena ditugas pertamaku. Aku menjadi was-was, bagaimana jika ada sekumpulkan tentara Belanda melakukan inspeksi mendadak, lalu melihat aku dan Marlena. Kami mungkin akan mengaku sebagai sepasang kekasih yang tengah melepas rindu, dan semoga saja memang ada belanda-belanda iseng tersebut.

Marlena tampak begitu gugup, bola matanya yang biasanya tampil indah dan memancarkan keanggunan, kini bergerak begitu liar. Ucapan yang keluar dari mulutnya juga tanpa basa-basi. Hanya sekitar sepuluh menit informasi berharga ini sudah berpindah, dan Marlena segera bergegas pergi. Berbeda sewaktu di MULO, sekarang ia tampak tak menggenalku atau memang telah melupakanku. Hanya itu pertemuanku dengan Marlena, selanjutnya yang aku tahu dia memang rutin memberikan informasi bagi tentara kemerdekaan. Apa dan pada siapa informasi tersebut diberikan menjadi rahasia.

No comments:

Post a Comment

Resensi Fortunately The Milk Karya Neil Gaiman

Buku cerita anak yang saya baca ini merupakan terbitan Gramedia pada tahun 2014. Karya Neil Gaiman yang diterbitkan pertama kali pada tahun ...