Kritik Cerpen Nasehat untuk Anakku karya Motinggo Busye

Judul Cerpen : Nasehat Untuk Anakku
Pengarang : Motinggo Busye


Sarana pembelajaran tidaklah harus selalu merupakan buku-buku teks yang tebal dan kaku. Hal inilah yang ingin disampaikan oleh Motinggo Busye lewat cerpen Nasehat Untuk Anakku. Cerpen tersebut mengambarkan upaya seorang ayah memberikan nasihat pada anaknya lewat kutipan buku harian yang dimilikinya. Cara seorang ayah yang memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda dengan sang anak untuk membagi berbagai pengalaman hidupnya.
Latar yang berbeda tersebut dideskripsikan pengarang dengan baik sebagai pengantar cerita. Latar waktu saat Indonesia berada di era awal kemerdekaannya begitu kental mendominani suasana cerita. Pengambaran tentang begitu minimnya keadaan pembangunan, perkembangan politik, dan perekonomian Indonesia, seperti keadaan transportasi darat yang begitu sulit dan Irian Barat yang belum terintegrasi dengan NKRI.


Pengambaran latar yang begitu mendetil memberikan nilai tambah pada alur cerita. Namun, begitu disayangkan karena alur yang dipaparkan oleh Motinggo Busye begitu miskin dengan konflik yang membuat cerita menarik dan mengundang rasa penasaran untuk terus menyelami alur cerita bagi pembaca. Tidak seperti para pengarang lainnya contohnya Ahmad Tohari (cerpen Salawat Badar) maupun Elvitiana Rosa (cerpen Jaring-Jaring Merah) yang menyajikan cerita dengan penuh konflik sehingga membentuk klimak, gaya bercerita Motinggo Busye cendrung datar dan monoton. Padahal, kekuatan isi cerita atau amanat yang ingin disampaikan begitu penting berkait unsur esensial dalam kehidupan manusia.
Amanat yang berusaha disampaikan tergambarkan juga dalam berbagai perwatakkan tokoh yang disajikan. Tokoh sentral, ayah digambarkan sebagai sosok yang pada umumnya menginginkan hal terbaik bagi anaknya. Upaya itu diwujudkan dengan memberi sang anak beberapa nasihat. Amanat yang disampaikan satu di antaranya ialah keinginan untuk bebas mengutarakan pendapat dan ekspresi yang masih begitu terkungkung di laksanakan pada masa itu. Hal tersebut jelas dalam dialog ayah saat memaparkan alasannya ingin membeli sebuah buku harian saat ulang tahunnya sebagai berikut.
“Dengan buku ini aku kehilangan rasa cemas dan takut, aku merasa jauh lebih merdeka daripada kau, biarpun kemerdekaan itu kumiliki untuk diriku sendiri.”
Pengambaran sosok ayah oleh pengarang menimbulkan sebuah kebinggungan karena di satu sisi ia menasihat anaknya untuk menjadi manusia yang baik namun di sisi lain tak ingin si anak mengambil konsekuensi buruk karenanya. Maka, sosok ayah ditampilkan sebagai seorang yang tidak tegas dan hanya ingin si anak menjalani kemudahan hidup saja.
Tokoh kedua yakni teman ayah juga digambarkan dengan kekomplekan karakter. Kawan ayah dari sisi luar terlihat sebagai sosok yang kuat karena mampu mengikuti kata hati walaupun orang-orang dekatnya menentang. Namun, ternyata kawan ayah ini mengakhiri hidup dengan tangannya sendiri. Padahal lewat kutipan suratnya, jelas bahwa si kawan menyakini keberadaan Tuhan. Tindakan bunuh diri yang dilakukannya sungguh bertentangan dengan kenyataan yang dipaparkan tentang dirinya. Apakah seseorang yang berpendirian teguh dan menyakini Tuhan akan meyerah begitu saja pada keadaan?
Keunikkan karakter yang diciptkan oleh Motinggo Busye lewat imajinasinya merupakan transformasi yang tegas terhadap karakter-karakter manusia pada kenyataan. Tokoh-tokoh yang diciptakan hanyalah sesosok manusia-manusia biasa bukanlah pahlawan super yang begitu dipaksakan.

No comments:

Post a Comment

Resensi Fortunately The Milk Karya Neil Gaiman

Buku cerita anak yang saya baca ini merupakan terbitan Gramedia pada tahun 2014. Karya Neil Gaiman yang diterbitkan pertama kali pada tahun ...