Friday, July 3, 2009

Lingkungan, Pembelajaran atau Pembodohan?





Mungkin telah diselingi oleh banyak tahun sejak pertama mendengar teori itu, behaviorisme. Takjub karena manusia dengan segala daya dan potensinya mampu mencetuskan teori yang begitu meresap dalam kehidupan. Lingkungan memang memiliki pengaruh besar terhadap insan-insan yang numpang benapas di situ. Lingkungan dapat menjelma bagai kupu-kupu cantik perlambang berlanjutnya musim atau bahkan bisa begitu mencekik. Lalu, apa yang terjadi pada kita? Manusia yang menyerah begitu saja tentunya akan tergerus oleh lingkungan dan antek-anteknya, tergerus dalam arti kita terpaksa ikut kemana arus menuju, ikut karena logika telah semakin tumpul untuk menganalisa. 
Kenyataan sekarang arus menuju turunan tajam dengan bebatuan runcing lebih sering menunggu di dasar. Fakta-fakta mengerikan dan menggelikan menunggu saat kita manusia berhenti bertanya dan dengan begitu saja pasrah mengikuti kebiasaan umum. Ya...sebuah kebiasaan memang tak dapat dipungkri termasuk duri atau hal berbungga lain. Namun, apa pun identitas warnanya --hitam maupun putih-- saat telah dilakukan dengan semangat penuh konsisten, ia menjema menjadi kebiasaan. Kebiasaan terbentuk dengan mudah dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang bergelung-gelung bak raksasa ombak. Media informasi dengan begitu mudah mengkukuhkan sesuatu menjadi kemutlakkan yang membawa insan terhujam pada onak duri yang menunggu.
Bergelut dengan pikiran saat berlangsungnya kuliah muncul dua teori lainnya, Nativisme dan Kognitifisme. Ternyata untuk selamat dari derasnya arus pengaruh lingkungan kita telah dibekali dengan aneka peralatan. Semoga dayung akal dan sampan esensi manusiawi menyelamatkan kita.