Monday, March 30, 2015

Mensana in Corpore Sano

Mensana in corpore sano, di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.  Begitu lah ya, kira-kira artinya. Sebuah kalimat bijak yang begitu populer dari jaman sekolah, jadi moto pelajaran olah raga. Kalau sudah waktunya pelajaran ini, pasti bersorak gembira karena bakal keluar dari kelas. Merasa lebih bebas berekspresi di lapangan, itung-itung rekreasi lah.

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi


Cerbung: PENJAGA BLACKWOOD (2)

Pohon pinus yang berbaris rapat, tampak indah dan anggun, ternyata mampu menyimpan rahasia. Di antara tumbuhan berdaun jarum itu, mahluk bertelinga runcing berlindung, menyebutnya rumah. Mahluk ajaib yang selalu menjadi misteri bagi ras manusia, peri. Pagi itu, di antara pinus-pinus yang menjulang tinggi, tampak beberapa peri menegapkan bahu, merentangkan lengan dengan memegang busur. Sudah beberapa jam mereka melakukan pemanasan seperti itu.

Sumber foto: goldenbeejabodetabek.wordspress.com

Wednesday, March 11, 2015

Gelisah, Hush Sana

When I was just a little girl
I asked my mother, "What will I be?
Will I be pretty, will I be rich?"
Here's what she said to me

"Que Sera, Sera
Whatever will be, will be
The future's not ours to see
Que Sera, Sera
What will be, will be"



Masa depan terkadang memporsir pikiran kita, rasa penasaran tentang yang akan terjadi mengundang rasa gelisah. Tapi ternyata gelisah yang berlebihan membuat kita semakin tidak fokus. Biarlah masa depan ditentukan oleh Allah Swt. Yang terpenting adalah tugas kita hari ini. Apa yang sudah kita lakukan?

Tuesday, March 10, 2015

PKBM

Satu hal yang berbeda dari keadaan di Kalbar dan Jabar, lebih umumnya antara Kalimantan dan Jawa adalah keberadaan PKBM. Tapi, tidak saya pungkiri juga mungkin semasa di Pontianak, bisa jadi karena bukan di bidang pemberdayaan masyarakat makanya saya tidak terlalu peduli dengan PKBM. ^^V.
Sumber foto: google.com

Monday, March 9, 2015

Egyptologist: Memburu Raja Atum Hadu

Kaget ketika hasil tes menujukkan saya punya memori yang  bagus. Saya langsung mempertanyakan hal itu dengan psikolog yang ngetes. “Kamu lupa itu karena meremehkan sesuatu!” Waduh!!! Apa iya ya... Seperti postingan blog, yang rasanya sudah pernah diupdate. Eh, tau-taunya belum. Padahal baru konsep saja yang saya tulis dalam surat untuk Lady Elf, Queen of North Wood, hahahaha.
         
Sumber Foto: google.com


Ini review tentang buku berjudul “Egyptologist: Memburu Raja Atum Hadu.” Buku berat—dari segi isi—bagi saya. Buku yang sebenarnya tidak selesai saya baca, karena ada bagian tertentu yang saya lompat-lompati karena jalan cerita sudah dapat, tapi tidak tertarik dengan penjelasan detail.

Sunday, March 8, 2015

Esai di Indonesia & Tingkat Kognitif

Adakalanya bahkan lebih sering, saat kita hendak memulai menulis kita harus melupakan sejenak tentang definisi.  Contohnya saja, untuk menulis sebuah esai. Adakalanya definisi juga dipengaruhi penerjemahan atau suatu kondisi negara tersebut. Kita bisa lihat seperti di Indonesia. Di negara kita tercinta ini, kata esai hanya digunakan untuk suatu tulisan di bidang seni maupun kebudayaan. Sebenarnya bisa saja disinonimkan dengan opini. Toh, dalam penulisannya juga perlu didasari pemakaian pemikiran yang kuat.  Yang bisa diwujudkan dengan runtun logika yang baik dan sumber referensi yang sesuai.
Sumber: Google.com

Saturday, March 7, 2015

Be a Team with Your Family

Lanjut lagi, sudah pastinya jauh lebih mudah untuk menulis dari pada orang tua yang langsung mengaplikasikan cara pola asuh yang baik.  Tapi, tentu ketika mempraktikan pola asuh diperlukan ilmu yang tepat. Oleh karena itu, saya kembali memposting tentang Anak dan Finansial yang saya dapat dari buku Finansial for Parentingnya Kak Seto dkk.
Sumber: Google.com

Kekompakan dan demokrasi juga mulai dapat ditanamkan secara dini pada anak. Ada satu cara yang saya ambil dari buku tersebut. Anak bisa dilibatkan dalam perencanaan liburan keluarga. Saat menentukan lokasi tujuan wisata, maka oarang tua bisa menjelaskan efek yang akan didapat dan ditanggung semua anggota keluarga. 

Ini Yani

Seperti blog saya sekarang ini, yanga akhirnya ganti nama lagi... Saya sepertinya harus melepas nama Rania karena sudah tidak aktif on air , setahun lebih di Radio Kita. Nama tersebut juga sudah terlalu lama vakum untuk hal-hal produktif seperti tulisan dll. Awalnya saya berpikir punya nama pena pasti seru banget. Seperti beberapa sastrawan besar kita. Yang memang ingin menyembunyikan identitas pribadi, membuat citra baru, atau memang namanya sebelumnya tidak komersil.
Sumber Foto: google.com

Friday, March 6, 2015

Cerbung: PENJAGA BLACKWOOD (1)

Saya sudah pernah posting tentang saduran. Cerbung saya ini terinspirasi dari The Hobbit, niatannya akan jadi sepanjang novelet. Alhamdulillah, saya berkoresponden dengan seorang Lady Elf di seberang lautan sana. Itu juga yang menjadi motivasi untuk terus menulis cerita Penjaga Blackwood ini. Kami sama-sama punya imajinasi setinggi gunung. Punya ketertarikan luar biasa untuk hal-hal yang sifatnya imajinatif. GILA sih dalam bahasa orang awam, makanya saya sembunyikan identitasnya. Cerbung ini saya spesialkan untuknya.

Jadi, khusus untuk pengemar JRR. Tolkien jangan marah dengan versi saya ini karena turut membawa beberapa nama tokoh dan tempat. Tak ada tujuan komersial di sini, hanya sebagai bentuk latihan menulis. Kalau kalian mau juga bisa membuat versi cerita sendiri. Mari kita berkarya!!!

Thursday, March 5, 2015

Buku di dalam Film

Film merupakan media yang begitu menarik. Menarik karena tampilannya audio visual. Menarik karena begitu menghibur. Bahkan film-film yang baik mampu menyebarkan nilai-nilai positif.
Entah kenapa, saya jadi teringat beberapa buku yang ikut populer karena ‘penampakannya’ di film-film laris. Penampakannya mungkin cuma beberapa detik, dan tidak ikut terlibat sebagai inti membangun cerita. Tapi, setelah itu buku-buku tersebut mulai terdompleng penjualannya di pasaran. Setidaknya, si buku mulai dicari-cari oleh penonton film tersebut, paling tidak oleh saya J

Wednesday, March 4, 2015

Sadur

Saya selalu beranggapan bahwa suatu karya hebat pasti mampu mendatangkan inspirasi juga. Seperti halnya Perempuan Kembang Jepun milik Lan Fang yang terinspirasi dari novel berjudul Kembang Jepun milik Remi Silado, hal itu diakui sendiri oleh sang penulis pada bagian pengantar. Kedua novel tersebut di latari situasi Surabaya berkisar di tahun 1940-an dengan tokoh utama seorang wanita penghibur yang didik sebagai Geisha.