Thursday, February 26, 2015

Buya Hamka dalam Ayah

Review lagi..... Kalau ketemu buku bagus memang bawaanya produktif ya, Alhamdulillah. Berawal saat saya pulang kampung ke kota tercinta di akhir tahun 2014. Biasa jalan-jalan deh di toko buku dan kaget luar biasa melihat harga-harganya. Itu harga kenapa bisa begitu? Saya langsung membandingkan dengan toko buku kiosan di tanah pasundan, hehehe. Jangan dijawab deh ntr jadinya kemana-mana, fokus dulu...fokus. Menginggat budget karena akan kena rapel, jadinya ngubek-ngubek toko buku yang gak terlalu tenar, eh dapat lah buku ini.



Yup, buku dengan cover wajah Hamka yang tersenyum lebar. Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya juga sudah sering membaca kutipannya di medsos, khususnya FB. Sebuah biografi yang ditulis oleh anak sendiri tentu akan begitu berbeda sudut pandangnya. Bisa lebih rinci dan empati. Juga ternyata gaya penulisan Pak Irfan begitu humanis. Beliau terlibat langsung dalam beberapa frame cerita. Cendrung seperti memoar.

Wednesday, February 25, 2015

Ini Tentang Anak dan Uang

Suka rada kesal euy kalau ketemu anak kecil yang ngerengek minta jajanan sama orang tuanya. Apalagi sampai menangis histeris tingkat godzila atau sambil mukul-mukulin si Emaknya, kayag beduk di malam takbiran. Mutlak kesalahan orang tua ya. Kalau saja itu saya, pasti sudah ditinggal. Tapi banyak orang tua yang malah memilih mengabulkan keinginan anaknya. Cari uang kan juga untuk anak, katanya. Nah, bagi ortu yang tidak sependapat dengan saya silahkan untuk tidak terus membaca.
Sumber: Foto Pribadi

Jika alasannya seperti itu, selamat anda memang tidak menyiapkan putra-putri anda untuk mandiri finansial. Bukan kata saya loh. Tapi katanya Kak Seto dan Lutfi Trizki dalam buku Finansial Parenting. Kalau masih ada yang ngotot bahwa saat anak dewasa bisa saja berubah. Ini juga harus disadari si anak akan dapat stimulus dari mana? Ingat, sistem pendidikan kita belum menyiapkan aspek kemandirian finansial. Dari masyrakat luas? Kasihan banget dong tu anak, main dicemplungin aja tanpa bekal yang memadai.

Latihan Menulis

Latihan menulis adalah hal yang begitu penting bagi seorang penulis. Sebenarnya simpel saja aturan itu. Ketika seorang penulis berhenti menulis, toh dia bukan disebut penulis lagi J.
Sumber: Google.com

Di zaman sekarang pun, sudah menyediakan kemudahan untuk itu. Saya pribadi, masih belajar menulis di buku harian, surat, status FB, dan blog ini tentunya. Tidak ada aturan yang mengikat semuanya lahir begitu saja. Sebelumnya juga saya sempat pusing untuk menentukan kategori pembaca untuk blog, tapi terserah deh dari pada terlalu dipikirkan dan tidak berkarya apa-apa :P.

Tuesday, February 3, 2015

Mari Kita Bully Medianya

Netizen lagi-lagi dihebohkan. Kemarin, sebuah berita yang dikeluarkan oleh media online sukses membawa kontroversi. Tentang Ghaitsa, penyanyi jebolan program pencarian bakat. Pasalnya penyanyi ini berasal dari Pontianak, dan berita yang dikeluarkan itu walaupun ada sedikit unsur saran untuk peningkatan pembangunan di Kalbar, lebih besar melukai rasa warganya. Siapa yang benar, siapa yang salah, masih bersifat buram. Memang si artis yang mulutnya nyablak banget (ni kate orang Jakarte) atau wartawan yang menyampaikannya dilebih-lebihkan.

Sumber Foto: tommypontianak.blogspot.com

Bagian komentar di media online itu dipenuhi oleh ekspresi marah dan kekecewaan masyarakat Kalbar. Komentar-komentar tersebut ngeri-ngeri sedap menurut saya. Terkadang ada makian yang begitu kasar tapi tetap juga ada kejenakaannya. Inilah karakter orang Kalbar, kalau dah buka mulot teburai dah semue, anchoreee. Saya asli Kalbar walaupun sekarang berdomisili di luar provinsi, tetap harus tegak berdiri berupaya mengklarifikasi kenyataan. Jelas berita yang tak berimbang itu juga bisa

Monday, February 2, 2015

Syarat Pelayanan Darah bagi Peserta BPJS

Informasi merupakan hal yang sangat penting, harusnya itu saya sadari jauh-jauh hari. Bukannya selalu sembrono, ingin cepat-cepat J yang akhirnya pusing sendiri. Ini yang saya alami saat mengurus administrasi untuk pengambilan darah di PMI. Saking emosinya saya kala itu, pengen langsung tweet aja di akunnya Pak Jusuf Kala. Waktu itu beliau masih jadi ketua PMI, welehh...kebiasaan jelek ya, panas dikit langsung upload, hihihihi.

Sumber: PMI Kota Pontianak

Cerita lengkap, Ayah diopname, HB nya anjlot, jadi harus secepatnya tranfusi. Semua prosedur udah dilakuin termasuk pengambilan sampel dan surat pengantar. Alhamdulillah darah golongan O lagi banyak stok. Saya tinggal bawa pulang, eh bawa ke rumah sakit dulu. Tapi,  saya jadi sock ketika mbak  petugas menyodorkan kuintansi tanda harus dibayar. Ah, apaan ni?!?!?