Tuesday, October 20, 2015

Resensi Roman Merantau Ke Deli karya Buya Hamka

Sudah lama saya mencari-cari roman Merantau Ke Deli karya Buya Hamka. Lalu, merasa puas ketika beberapa minggu yang lalu, saya berhasil mendapatkannya di sebuah toko buku kecil di kota sendiri. Terlebih pada bagian kata pengantar terdapat pengakuan sang buya kalau beliau saat puas mengarang buku tersebut di bandingkan karya fiksi yang lain. Maka mulailah saya membaca dengan semangat buku setebal 194 halaman tersebut.


Saya sedih luar biasa,mengapa harus senantiasa bernasib malang tokoh-tokoh ciptaan Buya Hamka. Saya masih ingat ketika Zainudin tak dapat bersatu dengan kekasih hati di dalam Tengelamnya Kapal Van der Wijk, juga Hamid dan Zainab di dalam Di Bawah Lindungan Kabah yang turut juga tak bersatu. :’(  Terlebih lagi dalam Merantau Ke Deli, tokoh utama wanita bernama Poniem, seorang rantau ke tanah Sumatera, yang terus saja mengalami kesengsaraan hidup.

Alasan Memilih Kuliah Bahasa Indonesia

Sering ditanyain, “Kapan nikah?” merasa bete, saya mah biasa aja tuh J bahkan saya sering ditanyaain, “Mbak, sedang hamil?” padahal ada yang lebih cubby dari saya. Awalnya pengen teriak aja, ini suaminya lagi dicari. Seiring berjalannya waktu, lama-lama  itujuga jadi biasa. Tapi bertahun-tahun masih juga ditanya. “Kok milih jurusan bahasa Indonesia?,” ini yang bikin tekanan darah langsung naik dan zluuuppp saya berubah jadi HULK.

Thursday, October 15, 2015

Cara Membuat Resensi yang Benar secara Ilmiah

Resensi, pasti suatu kata yang tak asing lagi. Saya sendiri gemar membuat resensi. Gemar juga memberikan tugas membuat resensi. Terlebih lagi, gemar membaca resensi sebagai bahan pertimbangan. Adakalanya, saya juga tidak pede dengan tulisan saya, sehingga perlu merefres teori yang mendasarinya.

Buku yang saya rujuk adalah Komposisi karangan Gorys Keraf, sebuah buku pedoman dasar yang harus dimiliki mahasiswa dari displin ilmu bahasa Indonesia. Buku yang untungnya telah saya miliki sejak jaman menjadi mahasiswa J Sebuah investasi berharga bagi saya.

Wednesday, October 14, 2015

TIPS Meningkatkan Kemampuan Menulis dengan Membaca

Miris dan kzzzllll.... ada sedikitlah rasa itu ketika saya memberikan pratest di hari pertama saya mengajar, terkait kemampuan para mahasiswa menulis. Rasanya sebagian besar dari mereka punya kemampuan yang sama dengan siswa SMP. SIAPA YANG SALAH? Mencari kambing hitam tentukan akan menjadi lebih mudah, tapi tentunya tidak menciptakan solusi.

Belajar bahasa khususnya Bahasa Indonesia adalah belajar mengenai cara belajar yang efektif. Kita tidaklah dituntut hanya menghapal teori-teori seputar bahasa tapi juga dapat mahir dalam melakukan keterampilan bahasa. Ada 4 keterampilan yang harus dikuasai; menyimak, berbicara, membaca, dan  menulis. Semua saling terkait dan mendukung satu sama lain.

Nah, sebenarnya banyak cara yang dapat kita gunakan untuk meningkatkan keterampilan menulis. Saya pernah membagikan sebelumnya, tapi ada juga yang masih mengeluh karena sulit. Menurut saya, sebagus apapun tips yang diberikan tapi kalau hanya dipelototi tidak dilakukan, sama aja boong.

Kendala saat menulis yang paling umum adalah kesulitan untuk mendeskrepsikan ide dan keterbatasan pembendaharaan kata. Solusinya, membacalah dengan RUTIN. Pemilihan bahan bacaan juga jangan dibatasi. Pilihlah jenis yang beragam tapi tetap digemari. Jadi jangan pilah-pilah, hajar saja fiksi maupun nonfiksi. Dari bahan bacaan tersebut akan ada gambaran cara si penulis menampilkan ide. Hal ini juga akan terekam di alam bawah sadar kita, untuk selanjutnya akan mempengaruhi gaya personal dalam penulisan.

Dari membaca kita juga akan memperkaya diksi yang digunakan.  Jika dirasa masih sangat kurang, seseorang yang punya tujuan sebagai penulis profesional haruslah memiliki beberapa buku peganggan di antaranya KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), tesaurus Bahasa Indonesia, dan ensiklopedia. Dari KBBI kita bisa melihat pengertian dari kata yang akan digunakan. Sehingga suatu kata akan lebih tepat dipakai. Sedangkan dalam Tesaurus akan kita temukan aneka kata yang bersinonim, hal ini dapat membantu penggunaan variasi kata. Sementara ensiklopedia juga akan lebih menjelaskan arti suatu kata dalam bidang khusus.

Nah, saya sendiri memiliki KBBI, tapi terkadang lebih praktis mengakses secara online http://kbbi.web.id/. Selamat mencoba tips dari saya ya^^  

Tuesday, October 13, 2015

Perbedaan Gaya Penulisan Buku dari Pengarang Akademisi & Praktis

Ada moment dalam diri saya yang merasa bahwa terkadang jalan yang saya pilih terlalu banyak teori. Itu terjadi saat beberapa minggu yang lalu, saya kembali merapikan berkas-berkas. Kenyataannya yang paling menyita tempat adalah berkas materi semasa perkuliahan. Sambil berkemas, saya sempat melihat kembali teori-teori itu. Saya bahkan tak mengenali diri sendiri saat mampu mempelajari teori yang terlalu luas itu. Ciieeee....dikit sombong. Akhirnya setelah disortir, cuma tinggal beberapa bahan yang tetap dipertahankan.

Sunday, October 11, 2015

Resensi Novel Pacar Merah Tan Malaka

Saya selalu suka sejarah. Kini saya banggakan koleksi tak seberapa ini J  , Pacar Merah Indonesia 1 & 2. Kisah fiktif tentang Tan Malaka di masa-masa penjajahan. Novel yang keren luar biasa, karena kita diingatkan punya pahlawan yang tak kalah dengan karakter rekaan 007. Dengan latar waktu 1930 s.d. 1932, kisah seperti ini wajib dibaca sebagai pemupuk nasionalisme di hati anak bangsa.



Diterbitkan pertama kali di tahun 1938, novel ini berkisah tentang petualangan Tan Malaka dengan seluruh intriknya bersetting di Indonesia mapun negara-negara lain. Disajikan betapa pentingnya peran Tan Malaka di Indonesia maupun politik dunia. Betapa cerdik dan gesit ia bermanuver dalam pelarian. Bahkan saat terkepung oleh pasukan pun, ia tetap bisa melarikan diri.

Friday, October 9, 2015

Siapa sebenarnya Multatuli Pengarang Max Havelar

Saya lupa moment pertama saat mendengar nama Multaluli. Yang pasti itu saat pelajaran sejarah, saat bagian politik etis, politik balas budi dari Penjajah Belanda. Merasa keren dan kagum dengan sosok yang satu ini. Bagaimana tidak, beliau adalah warga Belanda, bekerja untuk pemerintah Belanda di Indonesia, tapi tetap peduli dengan nasib para pribumi.



Unik, sementara yang lain dari kalangan mereka rela menutup mata dan telinga melihat nasib Bangsa Indonesia yang tertindas. Rela mematikan hati nurani dan kemanusian demi terus meraup keuntungan dari bangsa yang dijadikan sapi perahan ini. Acuh tak acuh berada di puncak piramid rantai makanan memangsa manusia lainnya.

Sastra Anak Cerita Berima Jane dan Hujan

Membaca buku cerita anak sangat menarik bagi saya. Akan banyak imajinasi di setiap cerita anak. Belum lama ini saya temukan sebuah cerita anak bergambar, padahal saya hampir tidak pernah punya buku dengan tipe seperti ini. Ya, tentunya karena buku ini ditujukan untuk anak-anak di kelas bawah, untuk mereka yang baru bisa belajar membaca.

Monday, October 5, 2015

Gaya Hidup Ramah Lingkungan dengan Tumbler Botol Minum

Ini Tumblerku, Mana Thumblermu, terlihat gaje dan pamer banget ya, hahahaha. Ada sedikit alay juga kayagnya, tapi begitulah saya :D ngomongin soal tumbler mungkin belum begitu familiar di semua lapisan, karena istilahnya yang ke-Ingrisan banget. Saya juga baru tahu istilah ini setelah menginjakkan kaki di kota kembang, eeaaakkkk. Dulu, saya sebut saja dengan istilah botol minum, istilah sederhana yang begitu tepat sasaran.

Planet bumi kita yang tercinta ini semakin lama, semakin padat populasinya. Sebagai mahluk yang konsumtif kita punya cara yang secara umum tak arif untuk memenuhinya. Maka, bertebaranlah sampah di mana-mana. Lebih gilanya lagi, sebagian besar sampah kita adalah dari bahan anorganik, bahan yang tidak dapat lebur secara alami. Tidak hanya sampah masyarakat yang membawa masalah besar *hehehehe, jenis sampah anorganik ini juga dapat mendatangkan masalah jika tidak didaur ulang.

Program KPK Sekarang

Kita ketahui bersama sobat bahwa KPK selalu membawa kabar-kabar tak terduga. Keseruannya bahkan sudah melebihi drama seri populer Korea bagi saya. Sehingga, berita apapun terkait dengannya sungguh kontroversi. Walaupun nalar saya belum sampai untuk menilai sebuah kebenaran dibalik berbagai intrik. Pokoknya bagi saya, semua ketua KPK adalah pahlawan, entah apa status terakhir mereka.

Thursday, July 30, 2015

Max Havelaar

Bisakah saya menikah dengan sebuah buku? Pertanyaan yang terdengar sangat lebay, hahaha, bahkan sampai ke tingkat dewa memang, tapi bisa kah? Ini mungkin ekspresi yang paling tepat ketika saya menemukan novel Max Havelarnya Multatuli. Sebuah kisah klasik yang tak akan pernah mati. Saya selalu suka yang klasik, klasik itu abadi. Lainnya karena deskripsi yang jauh lebih dalam, juga nilai moral yang terjaga. Membaca kisah klasik yang lain juga tak pernah membuat perasaan ini muncul, ya perasaan seperti jatuh cinta, sebuah perasaan “sangat mengemari”. Walaupun saya memang belum punya banyak pengalaman dalam membaca karya sastra klasik.


Between Passion and Patience

Antara hasrat dan kesabaran, begilah kira-kira terjemahan bebas yang sesuai dengan maksud saya. Awalnya saya menemukan sebuah postingan FB yang dishare, sebuah ketidaksengajaan sehingga bisa tercecer di wilayah saya J lupa identitas si penulis, yang pasti beliau mengaku sudah malang-melintang di dunia kepenulisan nonkonvensional. Deskripsi jelasnya beliau penulis lepas skala profesional yang biasa mengisi artikel online laman-laman tertentu. Singkat cerita, itu Bapak antara ngoceh dan curcol. Ada seorang teman beliau yang ngomong doang akan buka bisnis. 

Sumber foto: google.com

Akhirnya beliau jadi flashback tentang perjalanannya sendiri. Tentang berbagai tanggapan soal jalan melawan arus yang dipilihnya. Dan bagaimana pengaruh passion dapat mengantarkannya sampai pada titik sekarang. Kesuksesan yang dikejar dengan maraton 10 tahun. Curcolnya itu begitu menginspirasi.
Nah, saya setuju passion yang datang dari diri itu adalah motivasi yang utama. Jalan yang akan dilewati tidaklah selalu mudah, bahkan akan sangat membuat frustasi. Ikut arus yang sedang menjadi tren untuk kemudian latah dalam euforia tidak lah cukup.

Saturday, July 25, 2015

Cerbung: Foto di Belakang Bus (3)

“Ini kawanku bang.” Seoarng wanita duduk dengan angun di kursi depan. Begitu pintu dibanting Saiful langsung menghilang dengan ajaib.

Kurang ajar, pasti ada yang tidak beres ini. Tapi berburuk sangka bisa menjadi penyesalan nantinya, apalagi jika terkait nyawa. Lebih kurang satu jam kami berkendara, Terkadang ada percakapan di antara saya dan si wanita. Kecurigaan pun semakin besar, melihat tingkah wanita di samping saya ini. Gesture dan isi pembicaraannya seolah-olah mengoda.

Sumber Foto: kompasiana.com

 Kami tepat di belakang bus, foto di belakang bus itu benar-benar mencuri perhatianku. Biasanya lukisan di belakang truk yang ‘nyeleneh’ mengundang tawa, beda dengan yang satu ini. Bus executive yang tampak lebih besar dari ukuran bus lainnya itu tentu punya bidang yang lebih luas di sisi luarnya untuk berekspresi. Kenapa tidak dipasang iklan saja? Foto rumah adat dan dua anak kecil yang saling merengkul pastinya tak menambah nilai estetis.. Lihat saja gaya si anak kecil kalah jauh dibanding model profesional. Hahaha.... Mas Aziz juga kalau disuruh bergaya untuk difoto pasti juga seperti itu, senyumnya nyengir memperlihatkan gigi-gigi tak ratanya. Belum lagi si kecil Nabila. Aku jadi hilang konsentrasi, tiba-tiba cahaya terang dari seberang datang menyilaukan.

Friday, July 24, 2015

Cerbung; Foto di Belakang Bus (2)

Pembicaraan yang menjurus itu mengundang gelak tawa, tiba-tiba saja meja kami bertambah ramai, 5 orang lain mulai mendekatkan kursi dan terlibat pembicaraan.
Obrolan sudah mulai kemana-mana, memanas. Topik yang meloncat-loncat, kadang persoalan politik, sampai urusan liar dan mesum. Anehnya, diantara topik yang terus bergulir, ujung-ujungnya akan kembali lagi ke persoalan itu. Semua tampak paling tertarik. Mungkin karena sedang jauh dari pasangan.
“Di mana itu? Anterin saya ya kalau kegiatan kita sudah selesai.” Pak pengusaha bertanya padaku.

Sumber foto: cupritmeow.wordpress.com

“Wah... Bapak salah orang, abang kite ni tak ada pengalaman yang begitu-begituan.” Tawa kembali pecah lagi, aku hanya menahan malu, bingung mau menggangap pernyataan temanku itu sebagai pujian atau sindiran, terasa juga panasnya wajah yang mungkin memerah. Asem banget ni pengusaha, ia tampak begitu terkejut. Kini ia malah memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan begitu seksama, seperti kanak-kanak menatap fosil di ruang museum.
“Sudah berapa tahun menikah?” Pengusaha ini tampak begitu penasaran, wajahnya berganti dengan tampang sedikit sedih.
“Alhamdulillah sudah 15 tahun Pak.”
“Gak bosan kamu?” tanyanya ini membuat tawa lebih pecah lagi.
...

Thursday, July 23, 2015

Cerbung: Foto di Belakang Bus (1)

Ini adalah jalan antarkabupaten yang panjang, lurus, kadang berkelok tapi yang pasti sepi. Butuh waktu ± 3 jam untuk sampai ke ibu kota provinsi. Keramaian yang terhampar selain areal perkebuann dan persawahan juga pasar-pasar kecamatan. Deretan pendek ruko-ruko minimalis dengan gaya arsitektur awal 80-an, ya memang kerena pembangunannya dalam kurun waktu itu, yang pasti sudah tutup menginjak waktu magrib. Satu-satunya sumber penerangan di jalan ini adalah kendaraan sendiri. Maka sebagai pengendara harus siaga penuh apalagi jika masuk ke jalan yang berkelok-kelok. Adakalanya jika bertemu kendaraan lain kami akan beriringan seperti konvoi dengan barisan rapi yang mengular. Tapi jika bertemu pengendara egois, saliban dan klakson panjang tak bisa dielekkan lagi, atau bahkan umpatan.

Pukul 10 lewat, aku kehilangan jejak dari rombongan yang berangkat selepas santap makan malam tadi.  Aku termasuk official lapangan yang mengurus rombongan kami. Tur sepeda ini sengaja disinergikan dengan event budaya di kota tujuan. Banyak pihak yang dilibatkan. Peserta untuk lomba sepeda ini cuma 25 orang yang terdiri atas beberapa atlit nasional dan daerah, teman-teman pengusaha dan artis, juga perwakilan NGO internasional dan kedutaan. Tapi, pendukung acara berjumlah 2 kali lipat, didominasi dari teman-teman media yang membantu publikasi. Saya begitu kagum dengan pertumbuhan media dalam kurun 10 tahun ini. Dulu mungkin cuma hanya ada satu-dua nama besar, tapi kini sungguh menjamur.

Wednesday, July 22, 2015

Isu Hijau di Asia Africa Carnival

Asia Africa Carnival memang sudah berbulan-bulan berlalu. Begitu juga pujian untuk Kang Emil yang sukses memanfaatkan moment guna promosi Kota Bandung. Saya sendiri bangga dan bahagia bisa ikut terlibat sebagai volunter. Sudah lama, saya idam-idamkan bisa bertemu langsung dengan Kang Emil, juga terlibat dalam programnya. Walaupun, “Kerja belum selesai, Belum Apa-Apa.” Chairil Anwar.

Dari event AAC, Alhamdulillah banyak hal yang dapat saya pelajari untuk penyelengaraan suatu event akbar. Saya dapat melihat dari dekat, begitu banyak element pendukung untuk terlaksananya suatu kegiatan. Sebuah sudut pandang berharga yang baru, hehehe karena biasanya hanya duduk manis sebagai penonton :D Ya walaupun, saya sendiri tidak bisa turut mencuri moment untuk postingan pengalaman AAC saya selagi panas-panasnya. Dikit kecewa, tapi paling tidak, saya bisa berperilaku layaknya penyu yang walaupun lambat pasti akan sampai juga pada pantai tempatnya ditetaskan, nah lohhh...

Tuesday, July 21, 2015

Born To Be Volunteer and Happy with That


Pertanyaan besarnya, Apa yang kami sebenarnya cari sebagai relawan? “Kami” mungkin sebuah kata yang begitu besar, ya paling tidak saya lah. Menginggat relawan itu, begitu “rela” sifatnya. Hal yang ditugasin mesti siap untuk dilaksanakan. Katanya kebahagian besar itu didapat ketika mampu menjadi bermanfaat bagi orang lain. Bahasa kerennya keuntungan dari segi psikologi, hehehe perasaan bermanfaat itu mampu mendongrak kebahagiaan.
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi

Lalu apa lagi? Walaupun bukan materi tapi pasti ada ilmu yang didapat. Event yang memiliki karakter berbeda tentu saja akan berbeda juga pengetahuan yang didapat. Selain itu, lokasi dan peserta juga menjadi pengalaman menarik. Gak mungkin sama lah event di tengah kota dengan di pesisir paling ujung di sebuah pulau. Kalau ingat dulu pernah begitu terguncang dalam bak truk, beraduk dengan sesama peserta dan volunteer. Pasti akan ada senyum syukur ketika saya berada di sini sekarang, di Bandung, kota yang membawa kabar gembira. Saya ada di  Asian Africa Carnival 2015.

Lagi, saya ingin berbagai eufaria dari kota yang sejuk ini. Di sini saya terdampar sebagai VOLUNTEERRRR, i’m born & proud with it. Yang paling membahagiakan bagi saya kali ini, selain terlibat dalam agenda 10 tahun sekali, selain punya tambahan ilmu, selain jadi dikit bermanfaat, saya dapat banyak teman baru.      

Monday, July 20, 2015

Cerbung: Pulanglah (3)

Ia mencari suaminya. Beliau mendapat beasiswa kedokteran di Jerman. Sudah setahun suaminya itu mengambil spesialis bedah. Baru setahun itu juga semua persiapan mulai matang untuk kepindahan si istri. Kontak terakhir, di saat ada waktu senggang libur, Suaminya ikut sebagai volunter saat virus ebola menjangkit di Afrika. Tak ada yang tahu kemana jejaknya, pihak kedutaan, pihak kepolisian, pihak kampus, pihak NGO yang turut berangkat ke Afrika. Maka, jalan terakhir ialah mencari sendiri.

Sumber Foto: gorongosa.org

“Ini fotonya, tolong bantu saya ya.” Ia menjulurkan sebuah foto padaku. Itu foto pernikahan mereka. Pasangan yang manis. “Saya tidak tahu apa yang tejadi dengannya, Afrika ini begitu banyak daerah konflik, resiko lainnya juga. Mungkin dia juga marah kepada saya karena kehilangan anak kami waktu saya mengandung. Kami telah saling berjanji, akan saya jaga pernikahan ini sampai ikhtiar penuh. Saya harus tau apa sebenarnya alasan dia menghilang.” Kubalik foto itu, ada sebuah puisi di sana. 

Sunday, July 19, 2015

Cerbung: Pulanglah (2)

“Hahaha... kalian lucu, coba lihat ekspresi kalian.” Darwin tau kami kesal, kami bertemu dengannya sudah 2 hari yang lalu. Ia menjadi saksi, betapa banyaknya pikiran yang sama dengan pikiran Lucy. Mungkin juga dalam benaknya. “Kalian terllihat saling melengkapi loh.” Aksen Inggrisnya membuatku hanya menanggkap makna sederhana dari kalimatnya. Hah apanya???
Sumber Foto: http://www.sa-venues.com/

            Saling melengkapi dari Hongkong?!?!?! Aku mengerutu di dalam hati lagi. Ku perhatikan Cipto, kaos oblong, celana pendek di bawah lutut. Wajah dengan bulu-bulu halus yang tumbuh liar. Kontras ku rasa, untuk acara sesantai apapun aku tak pernah mengenakan kaos oblong. Bahkan kalau untuk tidur aku lebih memilih kaos berlengan panjang, sedangkan sehari-harinya aku lebih memilih kaos berkerah atau kemeja. Tiap pagi sekalut apa pun itu, aku tetap punya rutinitas mengosok gigi dan bercukur.  Aku juga begitu bingung kenapa kami bisa berteman selama ini. Satu fakultas pun tidak. Aku di fakultas ekonomi dan dia hukum. Kepalaku rasanya berdenyut. Ditambah lagi kawanku yang agak gila ini berusaha merangkul.

“Hahahaha... tenang, kami hanya bercanda kok.” Semua tawa pecah karena statement terakhir Darwin.    
***

Cerbung: Pulanglah (1)

Pulanglah..... Kan Ku Hidangkan Sepiring Cinta Untukmu


            Di Cape Town ini kami duduk mengelilingi api unggun. Kami mulai mempersiapkan untuk besok akan melanjutkan pendakian. Aku dan Cipto telah sepakat, besok akan bertemu seorang guide yang merupakan penduduk lokal. Rombongan ini terdiri atas Alex dan Lucy pasangan dari Inggris, dan Darwin seorang jurnalis dari Vietnam. Aku lupa menjelaskan, siapa sebenarnya itu ‘kami’. Kami adalah Aku dan Cipto, pemuda tanggung dari Indonesia. Kami begitu bangga mengendong tas punggung yang tingginya melebihi kepala untuk melakukan perjalanan pertama ke luar negeri, ke Afrika lagi coy.
Sumber foto: http://infokampsuy.com/

            Kami berdua memang sejoli, tentu saja dalam artian teman baik, tak ada yang spesial atau lebih. Semenjak semester awal, setiap menemukan jeda kuliah, kami langsung mengemas ransel untuk melakukan perjalanan. Tak jarang masa jeda itu kami buat sendiri, lumayanlah 2 s.d. 3 hari dari jadwal mata kuliah. Kebanyakan untuk menikmati pemandangan alam di Indonesia, dari gunung, pegunungan, danau, pedesaan sekali-kali kota wisata yang sarat budaya. Kami begitu ketagihan untuk terus berpetualang, menikmati keindahan alam dan bertemu orang-orang baru. Maka setelah 5 tahun berjibaku dengan diktat, buku, dan tugas, kami pun mempersiapkan perjalanan impian, AFRIKA.

Friday, June 19, 2015

Break My Limit

Ini sebuah tulisan yang tujuan utamanya adalah sebagai pengingat dan cambuk bagi saya. Beberapa minggu yang lalu saya terlibat dalam sebuah event. Setelah selang beberapa masa, rasanya baru lagi saya merasa kesibukan yang sangat. Tidak hanya istirahat yang dirasa kurang maksimal tapi juga ibadah. Hingga di satu titik, saya berpikir ulang, sebenarnya hal yang saya cari itu apa?


Di sini saya merasa begitu nelangsa karena punya disiplin yang begitu rendah. Padahal dengan manajeman waktu yang baik semua bisa jadi begitu teratur, dan itu sudah pernah saya lakukan. Penyakitnya saya, tidak bisa konsisten.

Thursday, June 18, 2015

NOBAR HOS COKROAMINOTO

Setelah posting satu tulisan yang gaje, rasanya lega banget. Seolah-olah telah membersihkan pintu air yang penuh tersumbat sampah. Ya semoga saja inspirasi akan datang bagaikan air bah. Wuidihhhh mulai deh lebaynya, padahal masih terasa paniknya juga, apa lagi yang kira-kira mau ditulis.


Oke deh mumpung melintas, saya bakal cerita tentang nobar bersama AHER yang sudah lewat beberapa minggu yang lalu. Mungkin udah basi banget ya, karena nobarnya waktu tanggal 14 April 2015. Waktu itu, pas saya ada di Bandung. Jadi sewaktu melihat promo acara nobar di FB nya AHER, widiiihhh langsung saja ikutan kuisnya. Alhamdulillah, tak lama saya kepilih. Sayang saya Cuma nonton sendiri karena teman-teman yang lain punya kesibukkan :’( Tak apalah, toh Ciwalk juga bukan tempat yang asing lagi.

Wednesday, June 17, 2015

Terjaga dengan Tulisan

Sebulan lebih 3 hari dari postingan terakhir saya, sebuah kemunduran, bagai sebuah bukti bahwa saya gagal mendisiplinkan diri dari target yang ingin dicapai :’( . sebagai manusia biasa, pasti nanti akan ada alasan sebagai pembenaran dari kosongnya postingan itu. Sibuk ini lah, sibuk itulah, padahal ada kalanya hanya penundaan sehari, ya... ditunda sehari selanjutnya ditunda lagiii...

Hari ini juga sebenarnya tidak ada konsep untuk menulis hal apa. Tumben, rasanya kosong saja. Padahal baru pulang dari jalan-jalan, ada buku juga yang selesai dibaca. Jadi tulisan hari ini bertujuan untuk mengusir kantuk. Agar setelah subuh tidak kembali tidur lagi, walaupun udara dingin rasanya mendayu-dayu. Juga kelopak mata sudah berat untuk tertutup lagi walaupun jari-jari masih menari di keybord. Mungkin tak lama lagi, huruf-huruf yang diketik sudah mulai lari ke sana-sini.

Monday, May 11, 2015

Menulis; Kebiasaan baik atau buruk?

To the point saja, untuk urusan yang satu ini saya langsung lambaikan tangan ke arah kamera, ampun deh. Kalau saatnya tiba, tak mengenal tempat dan waktu, langsung saja huruf-huruf yang bergandeng membuat rangkaian kalimat. Ya menulis, sudah menjadi suatu kebiasaan yang tak tahu lagi, baik atau buruk. Setelah bangun tidur, saat belum melakukan kegiatan apa-apa, menulis sudah membajak diri saya. Kalau menemukan saja sedikit waktu luang apalagi moment galau, menulis kembali mengambil alihhhhhh.
Sumber foto: garasiopa.com

Wednesday, May 6, 2015

Motivasi Menulis

Yang terngiang-ngiang di dalam benak saya, sekitar 2 mingguan ini adalah penulis bukanlah penulis saat ia berhenti menulis. Ada nelangsa besar yang menganga laksana lubang hitam semesta saat saya harus melewati hari-hari yang penuh kesibukan kemarin. Hari-hari yang menyita rutinitas menulis, tak menyisakan kreatifitas barang sekejap untuk duduk dan benar-benar menuangkan isi kepala dan hati ke wujud tulisan. Apalagi mengetahui fakta bahwa calon buku kumcer saya jadi terbengkalai.

Sumber: writepath.org

Friday, April 17, 2015

Mindset Tepat Diet

Siapa yang tidak ingin punya badan sehat, siapa yang tak ingin punya tubuh proposional? Semua pasti bilang ya, untuk pertanyaan seperti itu. Apalagi wanita, yah termasuk saya lah. Tapi, kita cendrung lupa melihat kondisi internal. Hingga menyebabkan kita terjebak pada pola yang salah, hingga mengorbankan kesehatan kita. Jangan khawatir itu juga terjadi pada saya :D

Sumber gambar: kidaptive.com

Tips mengenali Dehidrasi

Ini sebenarnya sebuah postingan lama yang mubazir saya buang. Awalnya bertujuan untuk review sebuah travel, sehingga saya siapkanlah tips-tips untuk menunaikan ibadah umroh, namun apa boleh buat saya tak mampu memenuhi target. Jadi, saya rewrite aja deeehh....

Sumber foto: gawker.com

Tinggal di Indonesia pasti begitu menyenangkan, di mana matahari bersinar sepanjang tahun. Tapi, tidak semua daerah di Indonesia juga bercuaca sama. Sewaktu di kampung halaman tercinta, Pontianak yang bertepatan dengan titik khatulistiwa, saya tak perlu repot-repot keluar mencari spot berjemur yang menghangatkan. Berbanding terbalik ketika saya di Jawa Barat, saat hari terasa begitu dingin dan angin begitu menusuk, sinar matahari yang hangat adalah anugerah.

Wisata Sumedang; Curug Gorobog

Kalau kate emak saye, “Emang tukang bejalan.” Begitulah kira-kira bahasa Pontianaknya bagi image yang melekat pada diri saya. Lalu, mau bagaimana lagi?  Berkunjung ke wisata alam itu sungguh meninggalkan sifat adicted pada saya. Walaupun, setelah itu pasti badan rasanya remuk di sana-sini, tapi tetap diulang juga nantinya.


Yang jadi pertimbangan juga, karena jenis wisata yang satu ini membawa ketenangan dan hemat biaya. Bandingkan saja kalau harus refreshing di mall, tenangan mana hutan sama mall? Apalagi, kalau di mall pasti bakal khilaf comot sana-sini, kalau di hutan kan gak ada yang buka outlet. Hehehehe ^^V yang setuju acung jari, yang marah gak boleh gebukin saya.

Thursday, April 16, 2015

Temu Akbar Relawan AAC 2015 Bandung

Nah, di tanggal 12 April 2015 yang lalu, tepatnya hari Minggu, diadakanlah temu akbar relawan AAC. Kami berasal dari berbagai kalangan, jumlahnya sekitar 1500 orang. Sebelum bertemu di Alun-Alun Masjid Agung Bandung, kami dikumpulkan beberapa titik di sekitas Masjid Agung. Saya memilih untuk datang ke SMAN 06, di sini dress codenya putih. Kami bekerja bakti di sekitar lokasi. Kemudian berjalan kaki hingga alun-alun. Lalu bikin flashmob yang seru.


Jasad saya memang di sini, di antara ribuan orang yang mengikuti gerak flashmob relawan AAC yang dinamis. Saya sadar tersenyum, tapi ada selaksa rindu untuk provinsi tercinta. Ada sejuta tanya di sukma, apakah nanti kepulangan saya dari 2 tahun dari pengembaraan ini *cieee macam cerite silat, akan membawa kontribusi positif. Akankah Ponti tercinta juga bisa larut dalam event sebesar ini? MERDEKA!!!!

Resep Bulu Kutek

Jujur, saya gak bisa masak. Kalau orang kebanyakan akan mampu mahir saat 10.000 kali mencoba, saya mungkin harus 1jut kali mencoba ;P *lebayyyy. But, it’s ok.... Saya tetap suka mencoba-coba. Apalagi ketika nemu resep baru yang unik.


Kali ini saya akan coba sharing satu resep makanan khas di Sumedang, gak tau ya apakah di tanah pasundan lain ada. Makanan ini cukup unfamiliar, apalagi untuk orang Kalimantan. Namanya bulu kutek, saya juga pernah mendengar di satu di antara adegan sinetron Preman Pensiun, nama makanan ini disebut.

Sunday, April 12, 2015

Jalan-Jalan di Lembang, Observatorium Bosshca

Dia pikir...dia yang paling hebat
Merasa paling jago dan paling dahsyat

Yah, begitulah kira-kira lirik lagu Sherina, yang juga jadi soundtrek film Petualangan Sherina. Lokasi syuting yang berada di kawasan Lembang itu ternyata pilihan tepat, karena memang keindahan alam yang disuguhkan luar biasa. Membuat kami, ingin kembali lagi ke Lembang. Mumpung, masih beberapa bulan lagi masa kontrak di Sumedang selesai. Hehehe...

Rekreasi di Lembang; Air Terjun Omas

Ini masih lanjutan posting sebelumnya. Secara, kalau ke Lembang dalam sehari kita bisa main ke beberapa tempat sekaligus. Objek wisata kali ini sebenarnya tak disengaja, lantasan tersesat karena sok tau tak mau bertanya di mana obsevatorium De Bosca, maka kami terlewat dan berputar ke arah Lembang lagi. Selanjutnya, malah salah belok ke Maribaya yang jauh banget, padahal tujuannya ke De Range yang tak jauh dari jalur utama.

Sumber Foto: wisatawanalam.blogspot.com

Jujur, saya pribadi kurang bagus mengambil gambar, makanya ini pinjem punya yang lain ^^V

Thursday, April 9, 2015

Tempat Wisata di Lembang; Floating Market


Liburan ke Lembang pasti tak akan pernah terasa cukup. Itu saya rasakan sendiri. Seakan tempat-tempat wisata di sana tak kunjung ada habisnya. Atau bahkan, sekali kunjungan tak terasa cukup. Maka, di sinilah kami, kembali menginjak Lembang, daratan tinggi yang elok.
Sumber foto: sheratonbandung.com

Lalu lintas yang lancar namun ramai itu, membawa kami kurang lebih 1 jam dari kawasan Sukajadi ke Lembang. Tempat wisata pertama yang kami kunjungi adalah, Floating Market. Sudah lama saya mendengar ini, karena anak Kalimantan, rasanya saya tidak terlalu tertarik dengan konsep pasar terapung. Tapiiii....lebih ke rasa penasaran lah karena saat browsing, pasti menjadi tempat wisata yang direkomendasikan.

Bisnis Budidaya Ikan Air Tawar

Budidaya ikan air tawar sebelumnya saya kira bisa begitu ribet. Di dalam benak saya, kolam harus disiapkan dengan ukuran besar dan permanen disemen. Belum lagi harus ada air yang mengalir guna memasok oksigen. Paling tidak ada alat penghasil oksigen.

Nah, beberapa minggu yang lalu, tepat di akhir pekan, kami berkunjung ke peternakan ikan dampingan Dinas Perikanan Kabupaten Sumedang. Fokus utamanya adalah ikan gurame, tapi di kolam-kolam juga ada ikan sepat, sidat, koi, dan jambal.

Wednesday, April 8, 2015

Kerja Keras

Akhir-akhir ini saya begitu bingung dengan yang namanya kerja keras. Ya maklum kondisi sedang paceklik beberapa bulan terakhir ini. Sedang menunggu kiriman amunisi, yang katanya masih mau dibahas entah sampai kapan, ampuunnn dehhh. Kalau di medang perang, ransum sudah menipis dan terpaksa harus survival. Lalu apa hubungannya? Ya rasanya banyak yang ingin diperbuat, tapi keadaan tidak mendukung, kreatifitas juga sedang mandek untuk mikirin jalan keluar. Semoga belut-belutku adem ayem aja di dalam kolam. Untung juga saya pilih budidaya belut, eeiiitttsss jangan kepanjangan, ntar ada sesi khusus buat si belut.
Sumber: thathit.wordpress.com

Sesepuh Kampus

Ini cerita tentang prof-prof di prodi kami. Bisa dibilang kisah juga deh karena mereka bagaikan legenda hidup, eaaakkk lebay ya... kalau di dunia persilatan, maha guru itu tentu punya segudang ilmu dan kebijaksanaan, hihihi kalo di dunia nyata kita sebut saja guru besar.
Sumber Gambar: vestorizados.com

Sewaktu saya meninggalkan kampus di tahun 2012 kemaren, prodi kami cuma punya 2 guru besar. Gak tau ya perkembangannya sekarang. Padahal, banyak yang bilang untuk mata kuliah Bahasa Indonesia tidaklah sulit. Tau deh alasannya, gak berani saya menyimpulkan sendiri. Nah, mereka berdua ini juga sudah dari kalangan sesepuh. Bisa dibilang dosen senior di kampus itu adalah mahasiswa meraka dulunya.

Monday, March 30, 2015

Mensana in Corpore Sano

Mensana in corpore sano, di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.  Begitu lah ya, kira-kira artinya. Sebuah kalimat bijak yang begitu populer dari jaman sekolah, jadi moto pelajaran olah raga. Kalau sudah waktunya pelajaran ini, pasti bersorak gembira karena bakal keluar dari kelas. Merasa lebih bebas berekspresi di lapangan, itung-itung rekreasi lah.

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi


Cerbung: PENJAGA BLACKWOOD (2)

Pohon pinus yang berbaris rapat, tampak indah dan anggun, ternyata mampu menyimpan rahasia. Di antara tumbuhan berdaun jarum itu, mahluk bertelinga runcing berlindung, menyebutnya rumah. Mahluk ajaib yang selalu menjadi misteri bagi ras manusia, peri. Pagi itu, di antara pinus-pinus yang menjulang tinggi, tampak beberapa peri menegapkan bahu, merentangkan lengan dengan memegang busur. Sudah beberapa jam mereka melakukan pemanasan seperti itu.

Sumber foto: goldenbeejabodetabek.wordspress.com

Wednesday, March 11, 2015

Gelisah, Hush Sana

When I was just a little girl
I asked my mother, "What will I be?
Will I be pretty, will I be rich?"
Here's what she said to me

"Que Sera, Sera
Whatever will be, will be
The future's not ours to see
Que Sera, Sera
What will be, will be"



Masa depan terkadang memporsir pikiran kita, rasa penasaran tentang yang akan terjadi mengundang rasa gelisah. Tapi ternyata gelisah yang berlebihan membuat kita semakin tidak fokus. Biarlah masa depan ditentukan oleh Allah Swt. Yang terpenting adalah tugas kita hari ini. Apa yang sudah kita lakukan?

Tuesday, March 10, 2015

PKBM

Satu hal yang berbeda dari keadaan di Kalbar dan Jabar, lebih umumnya antara Kalimantan dan Jawa adalah keberadaan PKBM. Tapi, tidak saya pungkiri juga mungkin semasa di Pontianak, bisa jadi karena bukan di bidang pemberdayaan masyarakat makanya saya tidak terlalu peduli dengan PKBM. ^^V.
Sumber foto: google.com

Monday, March 9, 2015

Egyptologist: Memburu Raja Atum Hadu

Kaget ketika hasil tes menujukkan saya punya memori yang  bagus. Saya langsung mempertanyakan hal itu dengan psikolog yang ngetes. “Kamu lupa itu karena meremehkan sesuatu!” Waduh!!! Apa iya ya... Seperti postingan blog, yang rasanya sudah pernah diupdate. Eh, tau-taunya belum. Padahal baru konsep saja yang saya tulis dalam surat untuk Lady Elf, Queen of North Wood, hahahaha.
         
Sumber Foto: google.com


Ini review tentang buku berjudul “Egyptologist: Memburu Raja Atum Hadu.” Buku berat—dari segi isi—bagi saya. Buku yang sebenarnya tidak selesai saya baca, karena ada bagian tertentu yang saya lompat-lompati karena jalan cerita sudah dapat, tapi tidak tertarik dengan penjelasan detail.

Sunday, March 8, 2015

Esai di Indonesia & Tingkat Kognitif

Adakalanya bahkan lebih sering, saat kita hendak memulai menulis kita harus melupakan sejenak tentang definisi.  Contohnya saja, untuk menulis sebuah esai. Adakalanya definisi juga dipengaruhi penerjemahan atau suatu kondisi negara tersebut. Kita bisa lihat seperti di Indonesia. Di negara kita tercinta ini, kata esai hanya digunakan untuk suatu tulisan di bidang seni maupun kebudayaan. Sebenarnya bisa saja disinonimkan dengan opini. Toh, dalam penulisannya juga perlu didasari pemakaian pemikiran yang kuat.  Yang bisa diwujudkan dengan runtun logika yang baik dan sumber referensi yang sesuai.
Sumber: Google.com

Saturday, March 7, 2015

Be a Team with Your Family

Lanjut lagi, sudah pastinya jauh lebih mudah untuk menulis dari pada orang tua yang langsung mengaplikasikan cara pola asuh yang baik.  Tapi, tentu ketika mempraktikan pola asuh diperlukan ilmu yang tepat. Oleh karena itu, saya kembali memposting tentang Anak dan Finansial yang saya dapat dari buku Finansial for Parentingnya Kak Seto dkk.
Sumber: Google.com

Kekompakan dan demokrasi juga mulai dapat ditanamkan secara dini pada anak. Ada satu cara yang saya ambil dari buku tersebut. Anak bisa dilibatkan dalam perencanaan liburan keluarga. Saat menentukan lokasi tujuan wisata, maka oarang tua bisa menjelaskan efek yang akan didapat dan ditanggung semua anggota keluarga. 

Ini Yani

Seperti blog saya sekarang ini, yanga akhirnya ganti nama lagi... Saya sepertinya harus melepas nama Rania karena sudah tidak aktif on air , setahun lebih di Radio Kita. Nama tersebut juga sudah terlalu lama vakum untuk hal-hal produktif seperti tulisan dll. Awalnya saya berpikir punya nama pena pasti seru banget. Seperti beberapa sastrawan besar kita. Yang memang ingin menyembunyikan identitas pribadi, membuat citra baru, atau memang namanya sebelumnya tidak komersil.
Sumber Foto: google.com

Friday, March 6, 2015

Cerbung: PENJAGA BLACKWOOD (1)

Saya sudah pernah posting tentang saduran. Cerbung saya ini terinspirasi dari The Hobbit, niatannya akan jadi sepanjang novelet. Alhamdulillah, saya berkoresponden dengan seorang Lady Elf di seberang lautan sana. Itu juga yang menjadi motivasi untuk terus menulis cerita Penjaga Blackwood ini. Kami sama-sama punya imajinasi setinggi gunung. Punya ketertarikan luar biasa untuk hal-hal yang sifatnya imajinatif. GILA sih dalam bahasa orang awam, makanya saya sembunyikan identitasnya. Cerbung ini saya spesialkan untuknya.

Jadi, khusus untuk pengemar JRR. Tolkien jangan marah dengan versi saya ini karena turut membawa beberapa nama tokoh dan tempat. Tak ada tujuan komersial di sini, hanya sebagai bentuk latihan menulis. Kalau kalian mau juga bisa membuat versi cerita sendiri. Mari kita berkarya!!!

Thursday, March 5, 2015

Buku di dalam Film

Film merupakan media yang begitu menarik. Menarik karena tampilannya audio visual. Menarik karena begitu menghibur. Bahkan film-film yang baik mampu menyebarkan nilai-nilai positif.
Entah kenapa, saya jadi teringat beberapa buku yang ikut populer karena ‘penampakannya’ di film-film laris. Penampakannya mungkin cuma beberapa detik, dan tidak ikut terlibat sebagai inti membangun cerita. Tapi, setelah itu buku-buku tersebut mulai terdompleng penjualannya di pasaran. Setidaknya, si buku mulai dicari-cari oleh penonton film tersebut, paling tidak oleh saya J

Wednesday, March 4, 2015

Sadur

Saya selalu beranggapan bahwa suatu karya hebat pasti mampu mendatangkan inspirasi juga. Seperti halnya Perempuan Kembang Jepun milik Lan Fang yang terinspirasi dari novel berjudul Kembang Jepun milik Remi Silado, hal itu diakui sendiri oleh sang penulis pada bagian pengantar. Kedua novel tersebut di latari situasi Surabaya berkisar di tahun 1940-an dengan tokoh utama seorang wanita penghibur yang didik sebagai Geisha. 

Thursday, February 26, 2015

Buya Hamka dalam Ayah

Review lagi..... Kalau ketemu buku bagus memang bawaanya produktif ya, Alhamdulillah. Berawal saat saya pulang kampung ke kota tercinta di akhir tahun 2014. Biasa jalan-jalan deh di toko buku dan kaget luar biasa melihat harga-harganya. Itu harga kenapa bisa begitu? Saya langsung membandingkan dengan toko buku kiosan di tanah pasundan, hehehe. Jangan dijawab deh ntr jadinya kemana-mana, fokus dulu...fokus. Menginggat budget karena akan kena rapel, jadinya ngubek-ngubek toko buku yang gak terlalu tenar, eh dapat lah buku ini.



Yup, buku dengan cover wajah Hamka yang tersenyum lebar. Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya juga sudah sering membaca kutipannya di medsos, khususnya FB. Sebuah biografi yang ditulis oleh anak sendiri tentu akan begitu berbeda sudut pandangnya. Bisa lebih rinci dan empati. Juga ternyata gaya penulisan Pak Irfan begitu humanis. Beliau terlibat langsung dalam beberapa frame cerita. Cendrung seperti memoar.

Wednesday, February 25, 2015

Ini Tentang Anak dan Uang

Suka rada kesal euy kalau ketemu anak kecil yang ngerengek minta jajanan sama orang tuanya. Apalagi sampai menangis histeris tingkat godzila atau sambil mukul-mukulin si Emaknya, kayag beduk di malam takbiran. Mutlak kesalahan orang tua ya. Kalau saja itu saya, pasti sudah ditinggal. Tapi banyak orang tua yang malah memilih mengabulkan keinginan anaknya. Cari uang kan juga untuk anak, katanya. Nah, bagi ortu yang tidak sependapat dengan saya silahkan untuk tidak terus membaca.
Sumber: Foto Pribadi

Jika alasannya seperti itu, selamat anda memang tidak menyiapkan putra-putri anda untuk mandiri finansial. Bukan kata saya loh. Tapi katanya Kak Seto dan Lutfi Trizki dalam buku Finansial Parenting. Kalau masih ada yang ngotot bahwa saat anak dewasa bisa saja berubah. Ini juga harus disadari si anak akan dapat stimulus dari mana? Ingat, sistem pendidikan kita belum menyiapkan aspek kemandirian finansial. Dari masyrakat luas? Kasihan banget dong tu anak, main dicemplungin aja tanpa bekal yang memadai.

Latihan Menulis

Latihan menulis adalah hal yang begitu penting bagi seorang penulis. Sebenarnya simpel saja aturan itu. Ketika seorang penulis berhenti menulis, toh dia bukan disebut penulis lagi J.
Sumber: Google.com

Di zaman sekarang pun, sudah menyediakan kemudahan untuk itu. Saya pribadi, masih belajar menulis di buku harian, surat, status FB, dan blog ini tentunya. Tidak ada aturan yang mengikat semuanya lahir begitu saja. Sebelumnya juga saya sempat pusing untuk menentukan kategori pembaca untuk blog, tapi terserah deh dari pada terlalu dipikirkan dan tidak berkarya apa-apa :P.

Tuesday, February 3, 2015

Mari Kita Bully Medianya

Netizen lagi-lagi dihebohkan. Kemarin, sebuah berita yang dikeluarkan oleh media online sukses membawa kontroversi. Tentang Ghaitsa, penyanyi jebolan program pencarian bakat. Pasalnya penyanyi ini berasal dari Pontianak, dan berita yang dikeluarkan itu walaupun ada sedikit unsur saran untuk peningkatan pembangunan di Kalbar, lebih besar melukai rasa warganya. Siapa yang benar, siapa yang salah, masih bersifat buram. Memang si artis yang mulutnya nyablak banget (ni kate orang Jakarte) atau wartawan yang menyampaikannya dilebih-lebihkan.

Sumber Foto: tommypontianak.blogspot.com

Bagian komentar di media online itu dipenuhi oleh ekspresi marah dan kekecewaan masyarakat Kalbar. Komentar-komentar tersebut ngeri-ngeri sedap menurut saya. Terkadang ada makian yang begitu kasar tapi tetap juga ada kejenakaannya. Inilah karakter orang Kalbar, kalau dah buka mulot teburai dah semue, anchoreee. Saya asli Kalbar walaupun sekarang berdomisili di luar provinsi, tetap harus tegak berdiri berupaya mengklarifikasi kenyataan. Jelas berita yang tak berimbang itu juga bisa

Monday, February 2, 2015

Syarat Pelayanan Darah bagi Peserta BPJS

Informasi merupakan hal yang sangat penting, harusnya itu saya sadari jauh-jauh hari. Bukannya selalu sembrono, ingin cepat-cepat J yang akhirnya pusing sendiri. Ini yang saya alami saat mengurus administrasi untuk pengambilan darah di PMI. Saking emosinya saya kala itu, pengen langsung tweet aja di akunnya Pak Jusuf Kala. Waktu itu beliau masih jadi ketua PMI, welehh...kebiasaan jelek ya, panas dikit langsung upload, hihihihi.

Sumber: PMI Kota Pontianak

Cerita lengkap, Ayah diopname, HB nya anjlot, jadi harus secepatnya tranfusi. Semua prosedur udah dilakuin termasuk pengambilan sampel dan surat pengantar. Alhamdulillah darah golongan O lagi banyak stok. Saya tinggal bawa pulang, eh bawa ke rumah sakit dulu. Tapi,  saya jadi sock ketika mbak  petugas menyodorkan kuintansi tanda harus dibayar. Ah, apaan ni?!?!?

Thursday, January 29, 2015

Menulis Pro; ± 8 jam/hari

Artikel yang saya tadi pagi baca cukup membuat sock *mulai dah lebaynya, hihihihi. Setelah loading beberapa detik  saya mulai sadar, iya sih ada benarnya juga tu tulisan. Artikel dari sebuah media online yang saya baca itu tentang trik menjadi penulis profesional.

Satu trik yang cukup ‘gila’ menurut saya adalah  seorang profesional harus mampu menulis ±8 jam/hari. Saya ingin nanggis sambil guling-guling rasanya, masih jauh banget dari kebiasaan sekarang, menulis masih sebuah hobi. Sebelum saya membaca artikel itu, memang saya juga sudah mengetahui beberapa kebiasaan penulis besar di Indonesia. Ada yang konsisten mulai menulis seperti jam biologis ngantor. Teng pukul 08.00 udah benar-benar duduk di muka laptop. Atau kebiasaan seperti menulis kapan saja dan di mana saja, dengan membawa buku catatan. Tapi, tetap saja 8 jam itu masih jauh bagi saya *sedih banget, rasanya mau nangis.

Wednesday, January 28, 2015

Indy dan Saya

Ini bakalan jadi postingan paling acak kadut dalam sejarah postingan blog saya. Itulah perasaan yang begitu kuat  menghampiri ketika mulai menulis postingan kali ini. Ya, didasari sebuah niatan saja untuk menulis lepas, menulis saja hal-hal yang terbayang di benak. Kalau tulisan-tulisan lainnya, widiiihhhh matang banget dikonsep, bahkan kerangka karangan tersusun per paragraf.