Tuesday, July 22, 2014

Tangisan Wita


Langit Jakarta tampak meradang merah. Itupun belum cukup mewakili hati yang pilu membara. Orang lain, mungkin akan begitu mensyukuri pemandangan yang tersaji itu. Bias-bias kemerahan yang terpulas indah di sela-sela langit biru, tak lama lagi kan tergantikan dengan malam. Wita mengusap air mata yang jatuh kemudian mengalihkan pandangan ke dereten ruko lusuh di sepanjang jalan. Baginya, ini bagian Jakarta yang paling kumuh. Ruko –ruko berebut untuk mengeser jalan raya yang sudah cukup sempit dengan pemisah jalur yang tinggi.



Ia benci Jakarta, ia benci semua elemen di dalamnya. Ia benci dunia yang kini dipandangnya dari Kopaja yang hanya bisa merayap ditengah kepulan asap aneka kendaraan lain. Ia benci, ketika melihat manusia-manusia yang berjalan di trotoar, tampak angkuh mempercepat langkah mengeraskan air muka. Kini ia mengaduk tasnya, mencari tisu untuk menyeka tangisan yang mulai turun. Tangisan yang begitu deras  kembali berurai ketika memorinya mengingat rumah.