Monday, December 15, 2014

Narcissus (1)

Saya ingin menulis sebuah kisah. Kisah penuh bukan hanya sebuah cerpen yang berisi potongan-potongan fragmen kehidupan seseorang. Yang terutama sebuah kisah bahagia, kisah manis. Tadinya binggung mau mulai dari mana, tapi kini WALAAAHHH…. Inspirasi sudah datang. Bagaimana kalau bikin saduran bebas dari Narcisuss. Saya suka kisah ini, selalu suka. 



Sewaktu di radio, selalu saja sisipkan kisah narcissus yang mati tengelam. Sekarang, saya akan bekerja sebagai pembuat kejaiban, ibu peri –itu cita-cita saya dulu—. Cinta yang hancur membuat sedih semua orang akan saya sulap menjadi sesuatu yang membahagiakan semua orang. 

Tuesday, December 9, 2014

Malam di Citengah

Cerita tentang Desa Citengah tak pernah selesai. Desa ini selalu saja jadi favorit kami, tentunya saya *heheheh.
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Semalam, bintang di angkasa begitu indah. Leherku tengadah ke atas untuk waktu yang cukup lama. MasyaAllah, saya selalu takjub dengan keindahan langit malam. Tak saya sangka keindahan itu terjadi saat purnama tak terbit, saat malam di bingkai oleh kelamnya langit.

Monday, December 1, 2014

Festival Cut Nyak Dien 2014

Oktober adalah bulan yang panjang rasanya. Alhamdulillah mulai banyak kegiatan, sehingga mulai keteteran buat posting. Akhirnya, bisa juga pecah telur setelah lama hibenasi. Banyak kegiatan yang bisa dijadikan sharing sebenarnya, tapi karena harus pulang-pergi keluar kota, dll, bla-bla-bla, sok sibuk ya ^^v.
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi^^v

Yang manakjubkan di Sumedang diadakannya beberapa festifal berturut-turut. Nah, yang sempat saya ikuti walaupun jadi penonton, adalah Festifal Cut Nyak Dien. Festifal ini bentuk persahabatan yang akrab antara Sumedang dan Aceh. Hal ini disebabkan karena Pahlawan Nasional kita, 

Monday, November 17, 2014

Gadis Kalibata

“Ayo kita taruhan?” aku sedikit kaget ketika Hadi membuka suara di kala kesunyian kami membuat sket. Dalam raut wajahku ini, pasti tergambar sebuah tanda tanya, sehingga Hadi, temanku itu, melanjutkan kata-katanya. “Taruhan, tak besar lah, hanya untuk senang-senang saja, menerka apa pekerjaan wanita itu?”


Sumber Gambar: trend-kid.com

Sunday, November 16, 2014

Tolonglah Menulis dg Etika

Sumber Gambar: www.memberconnect.com.au

Ini murni opini pribadi, karena saya kesal luar biasa. Tak pakai lagi peliputan atau dikait-kaitan dengan teori lain. Mau dibilang omelan juga terserah, yang penting saya keseelll. Kesal karena bermunculan media online, yang tampaknya tanpa kredibilitas, mulai memanas-panasi anak bangsa dengan berita-berita propokatif. Seenaknya saja membuat judul tulisan tanpa etika. Etika dilangar demi menggutamakan mengebulnya dapur, kalau kata Hamka “Kalau kerja sekedar kerja, monyet saja bekerja.”

Monday, September 22, 2014

ANTARA MADRE, ROTI, dan SAYA

Madrenya Mbak Dee itu memang sudah sejak lama saya tahu. Termasuk versi film dengan Vino G. Bastian. Karya-karya Mbak Dee yang lain juga saya ketahui, begitu terkenal ya… tapi belum satu pun saya baca. Saya cendrung mengoleksi karya sastrawan dulu. Untuk sastrawan abad millennium ini, kurang sesuai selera saya, hehehe…. Hingga kini barulah saya baca Madre, novelet bergambar kini. Sebuah pengalaman yang menyenangkan rasanya, bagai mencicip sebuah roti.

Ketika membaca apalagi setelah selesai mencerna Madre dibenak saya berputar hal ihwal seputar roti. Sebelumnya, saya kira mungkin saya yang lebay memperlakukan sebuah roti. Bagi sebagian masyarakat umum, roti layaknya penganjal perut ketika lapar. Yang dengan cara kurang beretika dijejalkan saja ke dalam mulut. Tiap orang pasti berbeda dalam etika termasuk terhadap makanan. Ada kalanya orang akan mengangap sombong ketika seseorang tidak mau memamah suatu makanan. Roti memang satu di antara berjenis-jenis makanan. Untuk mengolah roti juga harus dengan bahan-bahan berkualitas dan proses panjang. Bukanlah suatu kesombongan untuk menolak sesuatu yang bisa menjadi penyakit jika mendarat di dasar lambung kita.

Friday, September 19, 2014

Sekolah


Mimpi, banyak yang mengutarakan sebagai bunga tidur. Sesuatu yang menjadi penghibur saat raga dan jiwa mulai melepas lelah. Tapi, adakalanya mimpi adalah sesuatu yang mendaki di dasar jiwa kita. Ia menjadi begitu kokoh di alam sadar. Pada kasus saya, bisa jadi sesuatu hal yang begitu dirindukan. 

Dalam siklus hidup ini, sudah genap setahun saya meninggalkan sekolah. Tempat di mana saya selalu berdiri tiap harinya. Tak bosannya bicara di depan siswa, berusaha menjadi fasilitator sekaligus mentor. Beberapa malam yang lalu, perasaan itu mampir lewat bunga tidur. Betapa sadarnya saya sekarang, tentang rindu yang membatu itu. 

BERSYUKUR karena MLM


Galau beberapa hari ini, karena baru saja memasang target akan posting 2 tulisan dalam satu hari, saya langsung digempur dengan deadline SPJ lalu datanglah mandegnya inspirasi dan mood menulis. Bagi penulis, khususnya saya, emosi itu begitu diperlukan untuk kreatifitas. Saat sedih, saya bisa memproduksi cerita mellow. Saat marah, saya juga bisa menulis cerita yang meradang merah. Saat bahagia, aneka warna bunga akan pindah ke dalam cerita. Tapi saat stag, yang ada hanya kekosongan.  Beberapa hari kemaren saya sudah mencoba aneka tips. Termasuk tipsnya Bang Dika *Eaaakkk biar dibilang akrab gitu, hehehe, dengan menulis bahwa kita tak bisa menulis. Hasilnya cuma curhatan yang tak layak verifikasi untuk posting :p. Akan tetapi, hari ini berbeda. Saya baru keluar dan jalan-jalan, eiitttsss bagian jalan-jalannya akan ada postingan sendiri. 

Baru-baru ini juga saya melanjutkan kembali membaca buku MIMPI SEJUTA DOLAR Merry Riana. Baru sampai bagian belum suksesnya, woalahhh dan ada bagian tentang bisnis MLM. Nah loh kok sama dengan pengalaman saya dulu, dari rentang 2007 s.d. 2008 saya aktif di MLM. Bahkan sempat ikut konferensi internasionalnya di GBK Jakarta.      

Tuesday, September 9, 2014

Semarak Merdeka

Saya kembali ke tanah jawa tepat pada tanggal 17 Agustus kemaren. Sebuah tanggal yang begitu berarti bagi Bangsa Indonesia. Peringatan kemerdekaan RI pertama bagi saya, jauh dari kampung halaman. Beberapa hari sebelumnya, saya rasakan beberapa instansi sudah mulai serius menyiapkan upacara. Maka para anggota pasukan pengibar bendera di beberapa tingkat tampak begitu sibuk berlatih dibina oleh pelatih mereka. 
Sumber Gambar: m.obornews.com

Friday, September 5, 2014

Cerbung: Cerita Langit Mendung (5)

“Kamu ini ngapa sih? Wong maksud Satrio itu baik ngurus kepindahan kamu?”
“Tapi caranya itu bu, aku juga yakin kalau bapak juga punya pendapat sama kayag aku. Aku dididik dengan keidealisan pria yang berdisiplin tinggi, pria yang gak takut pangkatnya gak naek-naek kalo yakin ngebela yang benar.”

Ndok...kamu kenapa bawa-bawa bapakmu? Wong almarhum udah tenang kok.” Kejengkelan terdengar dalam suara ibu yang bergetar,  ia segara beranjak dari kamarku.
“Aku cuma menggingat ajaran bapak. Dan tetap setia sama nuraniku yang berusaha ngebela kemanusian. Berusaha tetap jadi manusia.”

Cerbung: Cerita Langit Mendung (4)

Kemana Satrio yang dulu selalu bereaksi cepat saat rakyat kecil terpijak? Kemana Satrio yang dulu selalu berteriak lantang demi bereaksi keras menentang KKN? Kemana Satrio yang dulu dengan nurani lembutnya yang membuatku kagum? “Aku tinggal telepon ne, dan paling lambat minggu depan SK barumu turun.” Satrio masih belum menyadari kemelut sukmaku.
Sumber Gambar: www.glogster.com


“Kamu berubah!” Ujarku tajam dan segera meninggalkan restoran. Aku tak sanggup lagi menoleh kearahnya. Tak lama ada selaksa nyeri menghampiri kepalaku. Denyutan ini begitu membara dan semakin menguat tiap detiknya. Memang denyutan ini hanya menyayat di beberapa titik namun dalam keadaan seperti sekarang ini sungguh begitu memprovokasi. Aku hanya ingin segera lekas pulang dan merebahkan diri.

Thursday, September 4, 2014

Cerbung; Cerita Langit Mendung (3)

Pandanganku beralih pada garis melingkar yang meninggalkan warna putih di jari manis kiriku. Dulu pernah ada benda yang begitu kujaga dan kuhargai, bukan karena nilai rupiah dalam tiap karatnya namun karena simbol dari nilai indah kepercayaan dan pengertian. Pikiranku meloncat ke peristiwa seminggu lalu.


Sumber Foto: www.shutterstock.com
...
Aku begitu bahagia melihat sosok itu, dan jika tidak menggingat adat kesopanan timur mungkin aku akan menghambur ke dalam pelukkannya, berdiam selama mungkin. Pancaran matanya pun berusaha menuturkan perasaan yang sama dengan yang kurasakan, rindu. Satrio menjemputku dengan sumringah senyum khasnya, ia sigap membawa tasku. Apa nanti ia juga akan tetap sesigap ini kala menjadi suamiku atau malah berubah jadi sesosok manusia cuek yang berlaga seperti bos besar? Tipe suami-suami yang umumnya kulihat dalam masa tugasku di daerah, yang beranggapan bahwa istri adalah seorang abdi. Ah, Aku jadi ngelantur

Cerbung; Cerita Langit Mendung (2)

Hujan yang membawa anugerah malah bermuka muram kala membuat parit meluap dan berbau menusuk. Belum lagi berbagai penyakit yang akan merongrong. 




Aku kini bersitatap dengannya, entahlah dari kedua matanya dapat kurasakan aura yang begitu rumit. Entah itu bahagia, nanar, tersayat, sedih, ataukah yang lain? Pascaoperasi aku ditugaskan untuk merawat luka 20 cm yang melintang di perutnya. Apa ia bahagia? Apa bisa bahagia tinggal di rumah yang begitu tidak layak ini? Rumah yang membuatku begitu bersyukur dengan rumah dinas tipe 21 yang begitu seadanya dan sederhana.

Wednesday, September 3, 2014

Cerpen: Maaf


Pagi ini, saya membuka-buka beberapa file lama, ketemu sebuah cerpen yang saya buat sendiri untuk pembelajaran di kelas. Cerpen ini juga pernah saya coba kirim ke sebuah majalah anak, nasib belum dimuat. Selamat membaca.



           Sumber Gambar: www.andreskwon.com
 Salam terdengar membahana di ruang tamu. Dani yang semula tampak serius lekas menjawab salam dan bergegas membuka pintu. Ternyata di ambang pintu telah berdiri ayah yang tersenyum dalam letihnya sepulang kerja. Dani segera mengambil tas dan mencium tangan ayah. Ayah tersenyum makin lebar sambil mengacak-acak rambut anak sulungnya.

Cerbung: Cerita Langit Mendung (1)

Sejak kapan bilbord megah itu terpampang di jalan protokol pada kota ini? Bilboard yang membawa pesan propaganda iklan itu mampu menyedot perhatian pengguna jalan. Kesan yang begitu elegan dan mewah terpancar pada objek iklan tersebut. Kedua benda yang saling melingkar bertautan bermata berlian begitu mengoda. Tampaknya sang kreator atau yang mpunya ide akan iklan tersebut terbilang sukses menjalankan tugas persuasinya.

Sumber Gambar: hot.detik.com

Jam Tunjukan Generasimu



Saya sebelumnya sudah sangat lama tidak menggunakan jam tangan. Rasanya, terakhir kali saya mengenakannya ketika zaman pra masehi, saat piramidaa Giza sibuk-sibuknya dibangun :D. Kita sebagai seseorang yang hidup dan dibesarkan di era digital *eAaaak, pasti merasakan bahwa untuk mengetahui waktu cukuplah dari handphone, yang dengan berbagai aplikasi muktahir di dalamnya, bisa juga terhubung dengan jadwal kegiatan penting. Jika waktunya telah tiba, rentetan suara alarm akan terdengar, beep…beep…beep… Pokokknya jam tangan sudah dapat tergantikan fungsi utamanya, kini tak lebih dari sekedar aksesoris bagi saya.

Monday, September 1, 2014

Buku Harian dan Jurnal

Sebuah gaya bercerita yang tidak asing lagi, kita dapati dalam berbagai buku yang dipublikasikan. Adakalanya fiksi berbentuk prosa disampaikan dalam gaya penulisan buku harian atau jurnal.  Bahkan buku harian atau fiksi itu sendiri yang diterbitkan sebagai bagian dari autobiografi maupun memoar. Gaya yang satu ini selalu saja populer, eksis hingga kini, tak peduli kategori pembaca.


Friday, August 15, 2014

Pontianak; Mudik dan Beberapa Kenangan

Mudik dan kampung halaman pasti memiliki banyak arti bagi banyak orang. Banyak hal-hal sentimentil dimana tembuni (tali pusat) ditanam, banyak tempat-tempat mengandung sejarah, dalam bahasa saya saksi bisu hilir-mudiknya saya yang pecicilan ^_^V.   Ditulisan ini saya akan merekap beberapa kenangan yang tercecer itu. Walaupun sebenarnya saya belum genap setahun merantau di luar Kalbar. 

Sumber Gambar: embun-rayya.blogspot.com

Saya pernah mengalami home sick parah saat masa awal tugas, parahnya bisa jadi begitu sensitif dengan segala hal tentang kampung halaman yang diupdate oleh teman-teman di medsos. Untungnya hal tersebut tidak berlangsung lama. Saat menjejakan kaki kembali ke Kalbar ada perasaan haru luar biasa. Saking tak sabarnya, ketika pesawat baru saja mendarat, saya rasanya ingin segera meloncat dan membaui aroma tanah di Kalimantan.  Tapi, begitu bersua dengan keluarga, tak ada perasaan telah pergi lama, hehehehe…  

Friday, August 1, 2014

Saya dan Awan


Dari judulnya, mungkin ada yang mengira ini bakal jadi postingan cerita fiksi yang lain. Mungkin awan di situ adalah nama seseorang, tapi percayalah awan di sini adalah awan yang sesungguhnya. Gumpalan uap air yang mengembang tampak lembut itu definisi saya tentang awan. Memang ada kalanya ia juga berwarna kelabu dan membawa petir serta badai, tapi lupakan saja dulu si kelabu itu. Tulisan saya ini cuma akan memuat beberapa penggalan pengalaman dengan si lembut berwarna putih, yaa… mungkin ada sedikit juga akan menyenggol langit… ^_^V
sumber foto: koleksi pribadi, Awan dari Puncak Tampomas

Tuesday, July 22, 2014

Tangisan Wita


Langit Jakarta tampak meradang merah. Itupun belum cukup mewakili hati yang pilu membara. Orang lain, mungkin akan begitu mensyukuri pemandangan yang tersaji itu. Bias-bias kemerahan yang terpulas indah di sela-sela langit biru, tak lama lagi kan tergantikan dengan malam. Wita mengusap air mata yang jatuh kemudian mengalihkan pandangan ke dereten ruko lusuh di sepanjang jalan. Baginya, ini bagian Jakarta yang paling kumuh. Ruko –ruko berebut untuk mengeser jalan raya yang sudah cukup sempit dengan pemisah jalur yang tinggi.



Ia benci Jakarta, ia benci semua elemen di dalamnya. Ia benci dunia yang kini dipandangnya dari Kopaja yang hanya bisa merayap ditengah kepulan asap aneka kendaraan lain. Ia benci, ketika melihat manusia-manusia yang berjalan di trotoar, tampak angkuh mempercepat langkah mengeraskan air muka. Kini ia mengaduk tasnya, mencari tisu untuk menyeka tangisan yang mulai turun. Tangisan yang begitu deras  kembali berurai ketika memorinya mengingat rumah.

Friday, May 16, 2014

Jalan-Jalan atau Perjalanan


Melakukan perjalanan itu sungguh berbahaya ada unsur addictednya, bikin ketagihan, hehehehe... Itu juga yang terjadi dengan saya sekarang, terlebih karena situasi pekerjaan yang membuat suatu kondisi untuk berada di beberapa kota dalam beberapa bulan belakangan ini. Ya... walaupun masih dalam cakupan yang kecil.

Belakangan ada satu moment yang membuat saya tersentak dan kembali merefresh makna sebuah jalan-jalan. Sebenarnya simpel banget, ketika itu saya menginap di pemondokan seorang teman.  Kami sedang bersantai, secara spontan saya membagi mimpi saya soal traveling. Boleh toh bermimpi  Walaupun sumber pendanaan belum tahu pasti. Saya tergila-gila dengan New Zealand, saya terpana dengan lokasi-lokasi eksotis yang melatari syuting The Lord Of The Ring dan The Hobbit. Itu luar biasa.... Apalagi belakangan sering juga iklan yang menunjukan kemolekan alamnya terpampang di media sosial. Terbitlah sebuah kalimat dari mulut saya, “Aku pengen ke New Zealand.”

                                       Sumber Gambar: www.dreamstime.com

“Kalau aku cukup Ke Mekah aja.” Kalimat simpel yang spontan itu seperti menohok batin saya walaupun si teman menyampaikan dalam gaya kelakaran.
Astagfirullahalhazimm... Sewaktu sekolah dasar, saya ingat ketika menghapal rukun Islam. Haji bagi yang mampu, ada daya tarik luar biasa bagi seorang muslim pada Tanah Suci. Kemana rasanya keimanan saya karena lebih mengikuti hasrat mengidolakan sebuah film daripada berkumpul mesra dengan segala peninggalan mulia kekasih Allah Swt, Rasulullah Muhammad Saw.

Wednesday, May 14, 2014

Cerita Lorong

Cerpen favorit saya adalah Pengemis dan Shalawat Badar Karya “Ahmad Tohari” menginspirasi diri juga untuk menulis puisi yang satu ini.... Selamat menikmati :D
         
 

Rumah Sakit

Rumah sakit...mungkin terlalu lekat dengan kesan horor akibat hasil garapan para sineas. Akan tetapi, sebenarnya rumah sakit merupakan pentas drama kehidupan yang paling ekspresif dan komplit. Sekian lama berakrab diri dengannya, ternyata membutuhkan waktu jua untuk meresapi kejutan-kejutan yang telah menjadi satu kesatuan. Ada sejuta cerita di dalamnya, hingga dilingkupi kebingungan guna memilah dan mewujudkannya ke dalam goresan-goresan pena. Terdapat senandung salawat hingga pekik makian, terdapat ucapan penyalur ketabahan hingga tanggisan histeria di dalamnya, rumah sakit.  

 
Sumber Gambar:
foto.okezone.com

Thursday, May 8, 2014

Kalibata Kembali Malam


Semua pasti pernah mengalami perjalanan sendiri, hakikatnya hidup juga bagai sebuah perjalanan sendiri. Kita yang mengalami sendiri dan kita yang menerima konsekuensi sendiri. Hahaha... berat rasanya pagi-pagi sudah mulai dengan hal-hal berbau filosofi. Perjalanan pertama seorang diri pasti jadi kenangan yang mendalam. Tak peduli, seberapa jauh jarak yang ditempuh, daerah tujuan, atau pada umur berapa dilakukannya. Bagi saya, perjalanan beberapa tahun yang lalu ke Jakarta seorang diri adalah sesuatu yang berkesan. Di masa itu, saya begitu yakin, perjalanan seperti itu bakal menjadi pola dalam hidup saya.


Sumber gambar: foto.news.viva.co.id

Thursday, April 3, 2014

Cerbung (tamat): Akhir Dibukan Akhir (8)

Jugun Ianfu .....” Marlena menjadi pucat mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut tentara jepang yang masuk belakangan.
Sumber gambar: lagumu.com

            “Marlena, lari....” ujar Lukman dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Tentara Jepang yang berada paling dekat dengan Lena menurunkan senjatanya. Ia menampar Lena berkali-kali, dan tanpa ampun setelah Lena terperosok ke tanah, bahkan cairan merah mulai menetes dari bibir pucat Lena. Ia menyambak dan menyeretnya ke arah luar. Perlawanan yang diberikan Lena sungguh tak ada artinya bagi tentara yang terus tertawa seperti setan itu, Lena menggelepar, menggeraskan badan, dan terus berteriak.

Sunday, March 23, 2014

Cerbung: Akhir Dibukan AKhir (7)

Lukman terperosok cukup jauh tanpa bisa mengendalikan tarikan gravitasi terhadap tubuhnya. Jadilah pendaratan yang begitu menyakitkan karena kepalanya beradu dengan sebuah batu.

Sumber Gambar: www.satriamandala.com

            “Keadaanmu bagaimana hari ini, Letnan?” Lukman yang baru membuka maka merasa begitu terkejut karena takdir mempertemukan mereka kembali. “Sudah-sudah, jangan bangun!” Perbincanganpun terjadi, menggingatkan Marlena saat pertemuan mereka di Gunung Lawu. Bahrun yang menculiknya karena panik menemukan satu-satunya dukun beranak di kampung yang ujur dan sakit-sakitan, Mbah Giyem. Lebih memilih memikul dirinya dengan keadaan terikat mendaki gunung Lawu di tengah malam. Kemudian darahnya yang mendesir, mendidih karena melihat Lukman tak pernah melepas tangan istrinya yang menyejan sakit. Juga tangis Sri yang membahana hutan karena bocah yang dilahirkannya meninggal. Kebersamaannya tiga hari merawat Sri yang baru melahirkan juga kebersamaannya dalam debat-debat panjang dan alot bersama Lukman, persis sewaktu mereka di MULO. Usahanya mencuri pandang pada Lukman, dan kepuasannya saat ia membiarkan Lukman menatapnya lekat-lekat, seperti kesengajaannya pada masa mereka bersekolah, beberapa tahun yang lalu. “Bagaimana kabar Sri?”

Saturday, March 22, 2014

Raskin (2): Sebuah Kisah

Cucian pertama berwarna agak kecokelatan, entahlah seperti pembuktian  perjalanan dan rentang waktu seperti apa yang ditempuh beras sehingga sampai ke rumah si miskin.
Saya jadi teringat rumah dan jenis beras yang biasa kami makan. Walaupun dari keluarga sederhana, kami alhamdulillah masih bisa memasak beras pulen kualitas baik.

 Sumber Gambar: m.poskotanews.com


 Saya jadi kembali berpikir, kenapa saya jauh-jauh mengikuti program ini, yang katanya pemberdayaan masyarakat desa. Banyak hal yang harus saya korbankan hanya untuk bergaul dengan mereka yang miskin ini, dari urusan pribadi, jauh dari orang tua, jauh dari kenyamanan yang sudah saya rasakan. Saya ingin marah saja!!! Apalagi merasa segala upaya saya di desa ini seperti dipersulit aparat desa. 

Friday, March 21, 2014

Cerbung: Akhir Dibukan AKhir (6)

Wajah pertama yang kulihat dalam keremangan api ungun malah membuat  keterkejutan yang maha dasyat. Apa penglihatanku sudah mulai rusak... Apa ini mimpi? Ternyata keterkejutan itu tidak hanya ku alami sendiri karena sosok di depanku juga menampakkan ekpresi yang sama denganku. “Lukman.....,.” keluar saja suaraku dengan spontan dari tenggorokan yang tercekat kering. Bayang-bayang masa lalu kembali berputar di benak.
 .....
Desember 1943
Mbok Gimin telah meninggal dan tak ada alasan lagi Marlena untuk bersembunyi di desa itu, satu-satunya tempat yang tak mengenalinya sebagai putri dari Suryolaksono. Mungkin juga karena tertular semangat revolusi Lukman yang dijumpainya berbulan-bulan lalu.
Sumber Gambar: hiburan.kompasiana.com

 Kini tak ada lagi pemandangan indah di Jogja, barisan-barisan sepeda telah diganti dengan tumpukkan karung pasir dan kawat berduri. Amis dan anyir darah mendominasi, tiga tenda yang masing-masing berukuran lapangan tenis berisi penuh dengan pesakitan. Di tempat inilah akhirnya Marlena terdampar, bergulat dengan korban perang dan aroma antiseptik yang menyengat. Awal tugasnya Marlena memang begitu kewalahan karena hanya dua tenaga yang tersedia untuk mengurus tentara republik berpuluh-puluh. 

Thursday, March 20, 2014

Raskin (1): Hanya Sebuah Kisah

Ini hari ketiga sakitnya saya. Memang tidak parah, masih bisa dirawat di rumah, tapi cukuplah untuk membuat tidak bisa kemana-mana. Dalam keadaan sehat, saya biasanya punya mobilisasi yang begitu luar biasa. Walaupun tidak ada kegiatan. Saya akan menyempatkan berkeliling antar desa tempat tugas teman-teman yang lain. Maklumlah, suasana dinas di desa memang agak membosankan. Biasanya dalam seminggu paling lama 3 hari saya stanby di  pemondokan.
Sumber Gambar: www.radarbangka.co.id

Saya sudah 3 bulan tinggal bersama *istilah kerennya home stay, dengan penduduk lokal *kalau bahasa jujurnya numpang. Masa kontrak hanya 2 tahun membuat pertimbangan akan lebih jauh menghemat dengan numpang saja. Dengan berbagai pertimbangan, yang terpilih adalah rumah bambu khas Jabar, dengan dapur berlantai tanah dan alhamdulillah kamar mandi di dalam, beda dari mayoritas tetangga yang ber-MCK di luar. Kalau perumahan, rumah ini bertipe 21.

Wednesday, March 19, 2014

Cerbung: Akhir Dibukan Akhir (5)

“Man... aku dan Mono bikinin tandu ya..?” Pertanyaan Bahrun tersebut membuat Lukman kembali menginjak bumi. Bahrun memperhatikan mimik kosong pada wajah Lukman, ia tampak begitu syok dengan kekalahan atau apapun yang menjadi kekalutan dalam pikirannya. Bahrun melirik Sri. Barulah dengan isyarat tersebut Lukman mengerti maksud rekannya dan memberikan anggukan kecil persetujuan. Sang istri yang digandeng tengah hamil tujuh bulan. Sri yang tampak sangat sabar dan pengertian dengan kondisi suami, tersenyum kecil saat Lukman melirik padanya. Namun perjalanan 10 km yang ditempuh dengan berjalan kaki tak mampu menyembunyikan ekspresi rasa kecapekannya. Sri dengan perut yang semakin membesar tampak begitu rapuh. Lukman merasa sangat kuatir dengan keadaan istri dan bakal anaknya, kenapa harus jadi seperti ini?
Sumber gambar: mubi.com

Rentetan peluru yang tiba-tiba menghujani barisan pengungsi membuat kepanikkan. Dengan pikiran yang begitu kalut kesigapan Lukman menjadi berkurang. Sebagian besar pengungsi yang merupakan penduduk sipil dicerkam kepanikan tanpa mampu berpikiran jernih, mereka berlarian kesegala penjuru dan menjadi sasaran empuk. Lukman segera mengiring Sri ke tempat yang lebih aman. Tangannya berusaha menggapai senapan yang biasa tergantung di pundaknya. Tapi tak ada senjata di sana, yang didapatnya hanya buntalan kain sarung berisi pakaian Sri. Ia ingat senapannya dibawakan oleh Bahrun. Peluru-peluru tersebut beterbangan tak jauh dari telinga mengakibatkan suara desingan yang begitu mengerikan. Bau amis darah semakin kentara di udara. Teriakan-teriakan penderitaan jiwa manusia yang dieksekusi paksa membuat suasana semakin mencekam.

Tuesday, March 18, 2014

Coretan Suka-Suka: Mimpi Sejuta Dolar

Mimpi sejuta dolar, buku tentang Merry Riana yang ditulis oleh Alberthiene Endah itu baru sepertiga ku baca. Teman-teman pasti tahu buku ini, tahu juga siapa dua wanita hebat dan penuh inspirasi ini. Mbak Ria diakui sebagai pengusaha sukses, motivator , dan penulis buku di usianya yang dinilai muda http://www.goodreads.com/book/show/13065290-merry-riana. Sedangkan Alberthiene Endah  adalah seorang penulis dengan banyak karya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Bertahun-tahun yang lalu buku ini dicetak, walaupun saya baru bisa membeli tahun 2013.  Lumayan kaget karena yang saya beli adalah cetakan ke-11. Luar biasa dengan ketatnya persaingan perbukuan di Indonesia, lebih luar biasa lagi karena “belum” terbentukknya kultur baca yang tinggi di negara kita ini.

Sumber gambar: www.milestonemagz.com

Membaca baru bagian awal buku, membuat saya sadar. Kalau sosok Merry Riana juga sebenarnya adalah manusia biasa. Ya... berangkat dari kalangna yang sama dari kita. Ia seorang gadis yang begitu disayang dan menyayangi keluarga. Tak punya kekuatan cenayang atau super skill layaknya supergirl atau catwomen. Ia begitu sederhana.

Monday, March 17, 2014

Cerbung: Akhir Dibukan Akhir (4)

Pipiku panas, namun jiwaku jauh lebih dari meradang, memanas, baru kali ini aku diperlakukan kasar. “Berkemas...untung aku mengenal gebernur Stachhouwer, ia memaafkan kita atas penghianatan Lena. Dia menggangap ini hanya sekedar ulah anak kemarin sore yang minta perhatian, walaupun tidak sedikit kerugian pemerintah di Jogja.”
            “Lalu untuk apa kita berkemas?”

            “Jepang... mereka baru memenangkan pertempuran laut, dan sekarang telah menduduki perbatasan Jawa timur dan barat, evakuasi..., kita masih bisa ikut evakuasi, berdiam disini bukanlah tindakan bijak.  Aku dengar tindakan Jepang pada Amerika dan juga negara-negara di pasifik, aku kira semua ini cuma kabar angin, ternyata benar. Ayo Lena berkemas sejam lagi kita dijemput!” ayah mencengkram tanganku kasar, untuk membantuku berdiri. Namun, saat keseimbangan telah kudapat aku menepis tangannya. Pandangannya penuh tanya.

Sunday, March 9, 2014

Cerbung: Akhir Di Bukan Akhir (3)

...
27 Febuari 1942
Marlena  
            Aku berharap dalam tugasku,  ini semua akan membawaku kembali pada pertemuanku dengan Lukman. Aku begitu bahagia melihat sosok itu di ambang pintu, dan jika tidak menggingat adat kesopanan timur mungkin aku akan menghambur ke dalam pelukkannya, berdiam selama mungkin. Hanya perasaan campur aduk yang tak dapat kujelaskan jika menggingat pengalaman itu. Namun, semua hanya harapan dan tak pernah terjadi.

            Aku pulang dengan perasaan gembira karena baru saja mengalahkan Neith dengan smash tajam. Mungkin bukan itu yang membuatku merasa begitu senang sesungguhnya, tapi percakapan ringannya dengan Qory. Gadis belanda itu merasa begitu sombong dan memandang jijik pada pribumi. Padahal bangsa mereka telah menyiksa rakyat hingga bertangiskan darah. Maka, setelah melihatnya terperosok beberapa kali karena upayanya mengembalikan bola-bolaku, aku pulang dengan senyuman begitu lebar. Namun, atmosfir rumah begitu jelas menampar saat Pak Darman membukakan aku pintu. Maka, tak lama ayahku menghambur dengan wajah memerah, aku tau dia sedang marah besar.

Saturday, March 8, 2014

Cerbung; Akhir Di Bukan Akhir (2)

Uh... aku memang kagum padanya. Begitu kagum hingga tak mampu menentukan posisi diriku, sebagai temankah, sebagai seorang pemujakah, atau sebagai... laksana kaum papa yang mengadahkan tangan terbuka yang kosong, lalu di isi dengan apa tangan itu, apa yang aku harapkan....
            Perdebatan yang begitu menarik tersebut segera saja menjadi kenangan, satu-satunya kenangan indah di MULO yang hanya beberapa bulan. Kenangan indah selain senyuman-senyuman seberharga madu asli dari hutan terdalam yang hanya bisa ku dapat dari kejauhan, dengan usaha yang kulakukan dalam diam untuk mencuri dan merekam bayangan tentangnya.

Sumber Gambar: www.picstopin.com

            Hampir dua tahun berjalan setelah keluarnya aku dari MULO. Hari itu hujan telah mengguyur Jogja lebih dari beberapa jam. Karenanya cipratan-cipratan air yang tergenang di jalan terkena lindasan ban delman atau pengendara sepeda yang nekat menjadi simfoni indah penghibur kebosanan. Disaat pikiranku tengah menggabungkan simfoni sederhana alam dengan indahnya lagu gubahan WR.Supratman Indonesia Raya yang mendayu perasaan dengan hembusan surgawai biola, ketukkan pelan itu terulang di pintu depan. Aku bergegas dalam diam menggingat tugas memang mengharuskan menerima seorang tamu penting. Cucuran atap yang tidak begitu jauh membuat tamu yang telah kuyub semakin menggigil dalam pakaiannya. Ia adalah seorang wanita dengan rambut sebahu dan saat ia menggangkat wajahnya perasaan senang menghambur dari pembuluh darahku memenuhi jantung, aku segera mempersilahkannya masuk.

Friday, March 7, 2014

Cisoka Wisata Hijau; Kincir Air

Liburan pasti ditunggu semua orang. Dulu sewaktu saya masih stanby aja di Pontianak, khususnya waktu kecil, pasti liburan yang dinanti berkunjung ke desa Nenek. Saya bisa bebas bermain di hutan bersama sepupu. Senang luar biasa, merasakan pengalaman yang beda dari kehidupan sehari-hari di kota.

Tapi, sekarang jadi terbalik. Saya sudah tidak di Pontianak dan selalu rindu keadaan kota karena kerja di alam desa. Cihui banget sebenarnya, saya tidak perlu merasa sumpek dan terintimidasi dengan tembok-tembok tinggi.

Saya dan kawan-kawan juga senang melakukan kunjungan perbandingan di desa lain. Seperti yang kami lakukan saat mengisi liburan tahun baru 2014 kemaren. Kami berkunjung ke Desa Citengah di Kecamatan Sumedang Selatan, Kab. Sumedang, Prov. Jabar. Rencananya juga ada satu daerah bernama RT Cisoka yang akan dikembangkan menjadi ikon wisata desa. 

Thursday, March 6, 2014

Cerbung: Akhir di Bukan Akhir (1)

1939, Lukman
Siapapun yang pernah bercakap-cakap dengannya pasti menyadari otak brilian yang dimiliki Marlena. Siang itulah kesempatan pertama dan terakhirku bercakap dengannya di sekolah kami. Aku juga merasakan letupan revolusi pada setiap pilihan diksi tajam guna mengkritik pihak kolonial. Aku juga simpati pada gadis ini, karenanya aku bersyukur dilahirkan sebagai anggota keluarga carik sederhana. Karena itu juga noni-noni dan tuan-tuan muda di sekolah menyisihkanku dari pergaulan.
Aku begitu terkejut karena melihat Marlena muncul di sini, seorang noni paling populer muncul di tempat lusuh, tempat seorang siswa miskin menyendiri.

Wednesday, March 5, 2014

Komunitas Socmednya CariCommunity Aja...

Semua pasti sadar kalau manusia itu mahluk sosial. Bagi saya sendiri yang namanya pertemanan itu bagai sebuah refreshing. Berinteraksi dengan orang-orang baru dari latar belakang berbeda bagai sebuah penyegar bagi jiwa… *hehehe jgn dibilang lebay ya ^^v. Tapi, pasti banyak yang setuju sama saya. Makanya sekarang bertumbuhlah aneka komunitas.Seru banget kalau punya teman-teman yang memiliki hobi sama atau visi yang sama. Pasti pernah dengarkan “ikan yang sejenis berenang bersama”.

Saya juga tergabung dalam beberapa komunitas, ada komunitas kepenulisan, traveling, dan lingkungan. Kinerja komunitas juga perlu diupgrade ke level paling tinggi. Intinya juga Cuma satu, harus ada persatuan antara anggota. Nah, ini dia yang sulit-sulit gampang. Binggungnya, trik apa yang akan digunakan untuk menyatukan anggota dengan latar berbeda? *ckckck….. Solusinya sederhana, komunikasi.  Apalagi sekarang teknologi maju begitu pesat. Banyak yang memanfaatkan media sosial yang ada.


SEPOK 2; Sebuah Coretan Suka-Suka

Menulis lagi...
Sudah bertahun-tahun rasanya tidak tenggelam dalam mata kuliah sastra. Jadi, terserah deh coretan yang satu ini mau dibilang resensi atau riview.Saya lagi malas banget, mengait-kaitkan dengan teori. Yang penting--buat saya—ini coretan dari hati tentang buku berjudul “Sepok 2” karya Pay Jarot Sujarwo (pay-jarotsujarwo.blogspot.com). Buku yang telah menyiram rindu di hati yang gersang. Eaaakkkk....


Tuesday, March 4, 2014

Caleg DPRD Kalbar 2014 Satu Kursi Untuk Seniman

Saya langsung menjadi darah tinggi melihat aneka postingan teman-teman di jejaring sosial. Menjelang Pemilu di tanggal 9 April 2014 nanti, mereka malah mengajak untuk golput alias tidak memilih sama sekali. Alasannya, kekecewaan terhadap para wakil yg legislatif maupun eksekutif yang telah dipilih sebelumnya. Sebuah logika yang sebenarnya salah, saya kira. Justru untuk ke depannya marilah kita memilih dengan lebih teliti. Toh, yang namanya calon yang baik itu pasti ada. Jangan seolah-olah melepaskan tanggung jawab yang kita miliki. Berperilakulah bak ksatria. IKHLAS MEMILIH, JANGAN PERNAH ADA GOLPUT DIANTARA KITA. Widiihhh... pelipis saya makin berdenyut kencang memikirkan nasib republik ini jika semua anak mudanya punya pemikiran seperti itu.
Sumber gambar: pemilu.com

Begitu deh, kalau cuma jago untuk mengomentari. 

Smart Business (wo)man: Use WOM


Saya juga baru tahu kepanjangan dari WOM adalah Word of Mouth. Jadi bisa diartikan sebagai kekuatan rantai berita yang tersebar lewat (ucapan oleh) mulut lalu disebarkan lagi lewat mulut-mulut yang lain. Konsepnya hampir samalah dengan kekuatan kabar burung, khas rumpian ibu-ibu. Buat bahan gosipan aja efek yang dihasilkan bisa sangat luar biasa. Apalagi dengan perkembangan yang ada sekarang. Sarana gratis yang menunjang WOM tersebar di mana-mana.
Sumber gambar: m.haisobat.com

Tuesday, February 25, 2014

Need Focus; Business Plan the Answering (1)

Penyakit saya yang paling kronis adalah susah sekali untuk fokus. Setiap ada teman yang berbagi cerita atau mengajak mengarap sesuatu, saya langsung saja setuju. Semuanya ingin saya garap. Semuanya ingin bisa sukses. Tapi negatifnya, energi saya jadi begitu terkuras. Kelelahan fisik dan jiwa sudah jadi hal yang pasti. Ditambah lagi depresi karena hal yang ditanggani biasanya tak sesuai target, tak menghasilkan sesuatu. Arggghhh!!!! Terkadang juga, kebosanan sering turut datang menyebabkan beberapa hal tak digarap maksimal. Saya cuma panas diawalnya saja, kemudian akan dingin dengan begitu drastis.

Niatan awal untuk kembali menekuni wirausaha dengan sistem profesional mengantar saya untuk mengikuti sebuah lokakarya kewirausahaan. Lokakarya nasional di tanggal 1 Desember kemaren dengan tema Riset dan Pengembangan dalam bingkai Pekan Produk Kreatif Indonesia di Jakarta. Ada banyak ilmu yang saya dapat untuk kemajuan suatu usaha. Khususnya skema business plan yang simple.

Sumber: http://tekno.kompas.com

Saya sangat terbantu dengan bagian penyaringan ide dengan sistem angka. Sebagai pemula biasanya kita akan kurang fokus memilih bentuk bisnis yang akan dijalankan. Adakalanya, kita hanya melibatkan perasaan, lupa bahwa sebuah bisnis juga perlu riset  yang matang.

Monday, February 24, 2014

PSP3 Kemenpora; Another Days To Tell

Ada sebuah perpaduan antara jenuh dan lelah ketika diminta untuk mendeskripsikan program yang saya ikuti ini. Jadi, akan jadi solusi luar biasa kalau ada satu link yang langsung bisa dirujuk. Upaya untuk menjelaskan itu juga susah-susah gampang. Antara buku pedoman dan keadaan lapangan biasanya jauh berbeda. 
Tapi, saya mulai saja untuk mundur pada kejadian beberapa hari yang lalu. CLINGGGGG!!!! Hehehe… ^^v
Sumber: http://www.reusableart.com/v/buildings/cottages/

Matahari sudah mulai naik, ketika tiap harinya saya Alhamdulillah selalu bisa mensyukuri keadaan. Udara yang alami, warga yang baik, walaupun pemondokan saya begitu sederhana. Semua terbuat dari bambu, ada semilir angin yang menyusup dari lantai bambu yang ditutupi tikar, ada secercah sinar matahari yang juga turut menyapa dari sela-sela anyaman dinding bambu. Hari itu, saya baru pulang setelah beberapa hari beraktivitas di luar. Selain untuk beristirahat, saya ingin memanfaatkan untuk beres-beres saja. Maka inilah saya, duduk di antara tumpukan pakaian dengan tangan mengepal setrika.

Saturday, February 22, 2014

Flashfiction: YTH. BELIAU

 Suatu hal yang terjadi, seaneh apapun itu, seganjil apapun itu, terjadi tanpa suatu kesengajaan. Ada campur tangan Sang Maha Pencipta. Termasuk bermalamnya seorang pejabat struktural pusat di kediaman kami yang sederhana. Begitu ganjil sebenarnya. Kendaraan dinas rombongan katanya mengalami masalah. Alternatif penginapan juga sebenarnya begitu banyak. Aku masih begitu binggung. Beliau juga tidak terlalu mengenal saya. Saya juga tidak pernah merasa memberikan bantuan atau bekerja untuk beliau. Kami hanya bertemu sekali dalam rapat resmi. Saya memang pernah melakukan presentasi di depan beliau, itupun hanya beberapa menit berselang, sebelum Beliau menjabat di posisinya sekarang.
sumber gambar: http://www.reusableart.com

Namun, yang tidak ku suka adalah keikutsertaan 2 orang yang terkenal punya catatan tak baik dalam mengemban amanah. Seorang itu adalah anggota DPR RI yang kembali mencalonkan diri. Terkenal karena perilakunya yang rakus dan gemar berfoya-foya. Seorang lagi adalah kepala daerah yang sempat bersitengang dengan saya ketika masa tugasku di daerahnya. Punya sejarah hidup yang kelam, datang dari kalangan mafia kelas bawah, entah keberuntungan apa yang menyertainya sehingga bisa turut bermain di kalangan atas. Namun, perilakunya tetap setengik cucunguk.

Thursday, February 20, 2014

Blogger is Me, Blog itu...

Akhirnya ngeblog lagi... Rasanya sudah cukup lama banget tidak kembali menulis di blog ini. Setelah tahun kemaren saya cukup rutin menulis, rajin untuk ukuran saya. Tulisan-tulisan yang diposting sebulan 1 kali ternyata tidak cukup rajin di mata para senior blogger. Okelah kalau begitu dengan semangat yang baru ini, kira-kira seberapa konsisten saya dapat rutin menulis. Kita lihat waktu yang menjawab.

Blog bagi saya memang bukan sesuatu yang baru.Saya harus berterima kasih kepada beberapa yang menginspirasi. Semua bermulai di tahun 2007, dari keikutsertaan dalam komunitas penulis yang awalnya berbasis di kampus. Ada seorang kakak, saya sembunyikan saja namanya karena belum dapat izin, semangat akan mengarap skripsi dengan basis kemampuan menulis anak dari blog. Saya mulai tertarik dengan konsep blog, asik kita bisa menulis semua hal tanpa editor yang galak. Lalu dari komunitas yang sama, saya kenal lagi seorang kakak yang terlibat kepanitian seminar nasional tentang blog (lagi2 nama disembunyikan karen belum dapat izin). Dari hobi lama mengoleksi sertifikat, akhirnya saya datang.