Sunday, July 8, 2012

Kalibata dan Dongeng Harmonika

           
17 Agustus 2012, Kalibata gelap gulita.
 
            Beberapa saat sebelumnya, ini bukan kali pertama aku menginjakkan kaki di ibu kota. Akan tetapi, ini kali pertama aku terpisah dari rombongan. Aku luar biasa gelisah mengingat aneka berita belakangan yang masih hangat terjadi di ibu kota. Busa empuk yang melapisi kursi-kursi penumpang terasa tajam berisis kerikil.

Saturday, June 16, 2012

Dramaqueen: Melankolis Momen


Ya, sepertinya agak terlambat untuk merasakan saat-saat ini, tapi masih mending terlambat daripada terlambat banget, masih mending juga terlambat banget daripada gak sama sekali.

Buat motifasi saja bagi sebagaian rekan yang masih bersatus ‘mahasiswa’, tulisan ini bercerita saat saya mengemaskan segala benda berbau mahasiswa. (akhirnya....)

Thursday, May 3, 2012

Dari Membaca, Mari Menulis




Ada sebuah buku menarik yang saya temukan dan kemudian dibaca. Saking menariknya, saya langsung ingin membagi cerita kepada khalayak ramai.

Buku tersebut berjudul The Craft of Research berisikan kiat-kiat dalam penulisan hasil penelitian. Selain itu, isi buku tersebut juga dapat diimplementasikan pada berbagai tulisan yang sifatnya umum. Di tengah kekalutan menyelesaikan skripsi dan dikemelut buku-buku yang melabel diri dengan “cara-cara jitu menulis”, buku tersebut bak oase di padang pasir.

Oke, saya langsung saja pada esensi di bagian pertama.

Monday, April 23, 2012

Jika Gagal: Yes!






Tak dipungkiri bahwa hidup adalah siklus naik-turun dan berliku-liku yang penuh petualangan. Hidup berisi berbagai letupan yang mendatangkan kegairahan untuk menjalaninya. Namun, adakalanya yang menjalani hidup akan bertemu dengan kegagalan.


Sampai pada taraf sekarang, ada rasa parno bila sesuatu berlangsung mulus. Ada kegelisahan, bahwa ketenangan suatu situasi bisa saja menyimpan suatu gejolak dashyat. Kata bijaknya, “they are calm before storm”. Jika masalahnya sudah menampakkan wujud, saya barulah merasa sedikit tenang.


Thursday, March 29, 2012

Kopang: Sebuah Coretan Suka-Suka



Kopang adalah sebuah buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh Mardian dan Riani Kasih. Mereka adalah rekan satu program studi, yang sebenarnya berbeda angkatan dengan saya, yang terkadang satu juga dalam beberapa mata kuliah.


INTERMEZO:
Untuk lebih akrabnya saya biasa memanggil Riani Kasih, Yaya.
Sedangkan untuk Mardian, tidak ada panggilan khusus karena kalau saya panggil dengan singkatan dari namanya, akan terjadi bias gender, contoh saja kalau saya panggil Mar...Mar! si abang jadi seolah-olah bernama Mariam. Nah, klo dipanggil Di...atau Yan... gimana tu...? teman-teman dekat memanggilnya Beib... aduh! Saya terlalu sungkan untuk melakukannya...  jadi dek saja panggilan untuknya.


Thursday, March 15, 2012

D. Zawawi Imron: Tulislah dengan Cinta (2)


Cihui........Saya mereproduksi (lagi...)!

Batu karang mendidih buih
Tapi cakrawala tetap tersenyum
Cakrawala birumu jingga
Jinggamu biru
Horison lembut melepas rindu
Rindu bertemu laut
Tenang dalam kemelut damai

Saturday, March 10, 2012

D. Zawawi Imron: Kearifan; Sastra Inspiratif (1)


Penulis bukanlah penulis apabila berhenti menulis, suatu hal sederhana yang bermakna dalam. Apabila diucapkan akan terasa begitu enteng, tetapi jika dilaksanakan perlu usaha keras juga untuk menjaga konsistensinya. Apalagi kualitas isi yang senantiasa bermutu.

Tuesday, February 14, 2012

Intropeksi (juga...)


Sungguh dirasa begitu lama dari posting saya yang terakhir. Namun, hal itu juga yang menyebabkan saya sadar dan seketika membuka mata atas kondisi blog ini. Sungguh blog yang kacau. Apalagi, saya pernah memuat tulisan yang ketika dipublikasikan cuma tinggal judulnya saja. Waduh... waduh... pasti saat itu ada yang konslet dan sepertinya itu otak saya.

Saturday, January 28, 2012

sting: Message In A Bottle


ust a castaway
An island lost at sea
Another lonely day
With no one here but me
More loneliness
Than any man could bear
Rescue me before I fall into despair

I'll send an SOS to the world
I'll send an SOS to the world
I hope that someone gets my
I hope that someone gets my
I hope that someone gets my
Message in a bottle
[Message in a bottle]

Monday, January 23, 2012

Laka Lantas, Tanggung Jawab Siapa?


1. Periksa Keadaan Kendaraan Sebelum Digunakan
Intermezo ding... Saya jadi ingat sebuah iklan serial tv yang akan segera tayang, The Legend Of Condor Heroes. Nah, saya termasuk fans setia dari wujudnya yang masih komik, masih versi Andy Lau (remaja) aktornya. Berdasarkan hal tersebut, saya menamai sepeda motor bebek kesayangan, YOKO. Yoko termasuk teman yang begitu setia menemani saya ke mana-mana, dalam situasi apapun, bahkan tak peduli medan, jarak, waktu, cuaca, daerah. Yoko selalu tangguh.
Petualangan-petualangan bersama Yoko rasanya selalu indah. Bahkan rute pengunungan dengan belokan 270° atau tanjakan yang seolah tak berlanjut pun dapat dilewati. Yoko juga jenis yang tidak rewel. Rasa percaya yang besar membuat saya terlena hingga suatu peristiwa.
Saya melaju dengan percaya diri di daerah Anjungan, rute yang sepi seolah mendukung saja. 10 km di depan akan masuk rute perbukitan yang naik-turun, berkelok-kelok. Tak lama, kemudi serasa begitu liar, berbelok agresif ke kanan dan kiri, pertanda ban depan pecah mendadak. Jantung saya rasanya juga ikut terloncat dari rongganya. Saya mengerem dan berhasil menepi dengan stabil.
Untung tak ada kendaraan di belakang kami, andai saja sebuah bus antarnegara (ini juga rute bus ke Malaysia) turut lewat, mungkin saya sudah dalam bentuk absurd pulang kembali ke Pontianak.
Oke, saya sering dengar bahwa keledai saja tak akan masuk ke lubang yang sama. Oleh karena itu, saya bangga sebagai manusia yang dapat selalu mengintropeksi diri. Tak perlu mengalami peristiwa yang sama dulu kan baru berniat memeriksa kendaraan anda sebelum bepergian.
Ingat juga, bahwa berbagai kelengkapan di kendaraan telah disiapkan untuk tujuan penting.
bersambung ya.... ^_^V
-->

Thursday, January 19, 2012

Itu adalah Sebuah Analogi


Setelah mengalami beberapa lama perenungan, ternyata saya jadi lebih menyadari terdapat satu gaya bahasa yang sering sekali saya gunakan. Gaya tersebut terjadi dengan sendirinya,pengaruhi alam bawah sadar. Mungkin saja, teman-teman saya juga mengindentikkan saya dengan gaya bahasa itu. Analogi, yup... memang kerap kali saya gunakan. Analogi begitu saya gemari karena dapat menyederhanakan maksud yang diutaran dalam bahasa. Namun, adakalanya analogi yang saya gunakan membuat sang lawan bicara bertambah bingung. Malahan adakalanya juga, analogi yang saya gunakan itu membuat pecahnya tawa, ya lantasan bagian dari diri saya (yang biasa saya sebut dengan istilah proto melayu) muncul begitu saja tanpa rencana.


Terdapat satu peristiwa yang menyebabkan kegalauan pada diri ini. Di suatu forum resmi tingkat fakultas, seorang rekan dengan gampangnya menyamakan analogi dengan contoh. coba saja cek di http://kamusbahasaindonesia.org/analogi dan http://kamusbahasaindonesia.org/contoh
Analogi merupakan satu di antara gaya bahasa yang berciri menyamakan sifat di antara objek yang jelas berbeda, sedangkan contoh merupakan rujukkan langsung dari suatu pemaparan.

Di sekolah saya juga masih ingat, contoh analogi favorit ya... tentang "jamur yang berkembang marak di musim hujan" sebagai pengambaran perkembangan hal yang luar biasa di saat sedang tren. analogi yang sifatnya menyamakan juga awalnya membuat saya sempat salah paham. Pada kasus "jamur di musim hujan", pemikiran saya yang begitu imajinatif malah berspekulasi bahwa jangan-jangan tempat penjualan pulsa yang booming sejalan munculnya telepon genggam juga ada yang beracun seperti jamur. Jelas ini pemikiran sesaat karena (umumya) analogi hanya menyamakan satu sifat saja.

Analogi juga merupakan cara belajar yang menyenangkan, terutama dapat membantu memori. Suatu pemahaman yang penting dapat diingat dengan praktis apalagi setelah ditabah "sentuhan pribadi". Misalnya saja, saya yang sebelumnya begitu ribet hingga rsanya mengalami konslet otak karena binggung dengan konsep pendekatan dan teknik. bisa jadi kesimpang siuran dan kesesatan abadi jika hanya berdasarkan pendapat ahli yang diutarakan dengan bahasa-bahasa ajaib. Maka, saja mencoba menganalogikan sebagai berikut.
"jika suatu karya sastra diibaratkan sebagai seekor sapi yang sehat dan siap potong, maka pendekatan adalah sisi dari si sapi yang ingin diolah. Andaikata kita sudah menemukan pendekatan yang pas ialah 'sirloin' maka selanjutnya tinggal pilih dengan teknik pemotongan 'steak', rendang, atau sate. maka, hasil akhir adalah berdasarkan pendekatan dan teknik adalah analisis kita....

semoga saja logika beranalogi yang saya lakukan masih tetap di jalur...

Thursday, January 12, 2012

Si Perusak Klimaks (:itu Rama)



BOOOM.... (X_X) Sore itu bagai ada kekuatan atom dasyat yang jatuh ke rumah, hingga pecahlah tangisan ketiga anak-beranak. Berpusat di garasi, si adik yang udah nangkring di atas motor kesayanganku. Di samping Rama yang matanya merah, emak juga beruraian air mata sambil memeluknya. Sedangkan ayah, mondar-mandir berusaha keras menyembunyikan tetesan air yang juga sudah turut keluar. Mereka semua sedih menghadapi perpisahan. Adik bungsu (alias Rama) harus kembali ke asrama karena liburnya telah usai.
Duh, aku juga merasakan mata yang mulai membara, tanda sebentar lagi akan disusul dengan air mata.
Rama : (memandang saya)
Saya : (memandang Rama)
Rama : (masih memandang saya)
Saya : (memandang sambil melangkah mendekat, memegang kedua bahunya, menatapnya nanar)
“Rama, kita masih bisa ketemu lagi ndak ya?”
Rama : “Kak, tolong jangan lebay!” 

Saturday, January 7, 2012

22 DESEMBER




22 pagi...
Seorang anak kecil cenggegesan di depan pintu.
“Minjam sendal kak...” Dengan tatapan heran saya melemparkan tanya.
“Hei...mang mo kemene? Ndak sekolah ke?”
“Kan hari ibu, jadi disuruh pakai baju bebas.”
“APA!!!!”
Saya histeris sendiri dan terserang panik akut seketika, sepeninggalan anak kecil dengan informasi berharganya.
...
Hari itu, embun masih turun malu-malu pada tiap helai daun. Saya, yang memang begitu mudah terserang panik dadakan, tak henti-hentinya mondar-mandir di dalam rumah. Keluarga kami, memang sudah sejak lama tak lagi merayakan ulang tahun, hanya perayaan-perayaan keagamaan dan tentunya hari ibu. Semakin dipikirkan, bukan solusi yang saya dapat tapi kepanikan yang kian menjajah.
Ibu, banyak yang mungkin menilainya sebuah keharusan dari takdir alam semesta. Seorang ibu, terutama ibu rumah tangga, lumrah saja mengurus segala sesuatu di rumah. “Apa lagi kerjaanya? Namanya kan juga ibu rumah tangga.” Komentar seorang rekan. Tapi, ingatan di masa lalu saat saya harus sebentar mengambil alih posisi itu, merupakan pengalaman tak ternilai.
Dari sudut pandang saya...
Membersihkan rumah, memasak, mencuci,....eh ada yang bawa sendal masuk ke dalam rumah. Disapu aja dikit, dipel juga deh dikit. Habis makan, pada lari ninggalin piring kotor. Wuahh....mau ndk mau cuci lagi deh. Mesti ke kampus ne, tapi kerjaan belom selesai. Ngak jadi deh. Akhirnya kelar juga dikit, mo ke mal udh cape. Jadi, nonton tv aja, ada drama korea ne, itung-itung disambil nyetrika. Eh tinggal sebentar tv di bajak duluan. Ada yang minum gelasnya, disimpan sembarangan. Ada yang kamar masih berantakan eh udah kabur. Ada yang barang-barang sekolahnya sampai berantakin ruang tamu lagi. Eh, si pus dari luar, bawa jejak lumpur. Musim hujan, bikin rumput di halaman makin subur. Eh, ada yang gak cocok sama menu, masak sendiri, eh dapur dan alat-alatnya dibiarin aja. Rempah-rempah habis. Eh, ada yang nyampurin cucian kotor dan bersih. Sabun, pasta gigi, habis. Ini, pasti habis make toilet gak pernah disiram. Listrik udah jatoh tempo. Adek yang di asrama, ngirim cucian kotor yang super dekil lagi. Udah siang masih tidur, bangun-bangun, risih banget ngeliatnya. Mesin cuci pengeringnya rusak. Air kolam, keruh lagi. Wah...si puss bau, tidur di lemari baju. Waduh, mesti belanja buat masak besok. Menu mesti dipikirkan, disesuaikan dengan budget dan diet sakit. Si bungsu, minta kirimkan stok bulanan. “Kak ada liat celana $%#^*# yang udah kering belom?”waAAaaAAhHHHHHHHH..............BOOM! saya meledak...

Begitu pentingnya ibu, kita mengaggapnya suatu kelumrahan. Hanya hal-hal sepele saja yang dikerjakan di rumah. Padahal, seorang ibu merupakan orang yang paling penuh pengorbanan. Ibu mengorbankan kehidupan sosialnya, ambisinya, kesenangan, tenaga, dan pikirannya. Ibu mengorbankan dirinya...
Pagi itu, saya meringsek mendekati Emak yang super sibuk di dapur. Setengah berbisik, “Selamat hari ibu,” dengan versi cengengesan sambil mencium pipinya. Emak cuma tersenyum, di matanya ada kebahagian yang terpancar. Tiba-tiba saja Emak, menengadahkan tangan “Mana dong KADOnya?” “waaAAAHHHH.....KABUR!”