Saturday, December 31, 2011

Cerita Saya

Rasanya sedikit menggelikan berpikiran bahwa saya duduk sebagai seorang wakil rakyat. Entah, rasa itu datang dari mana. Saya saat ini, merasa begitu bangga dengan profesi sekarang. Namun, adakalanya dalam anggan-anggan dengan kadar imajinasi paling tinggi, saya membayangkan juga jika suatu saat ada lamaran datang untuk mengisi posisi wakil rakyat yang terhormat. Tapi lagi-lagi, ada sesuatu yang begitu menggelitik rasanya.
Nah, andai saja angan-angan itu terwujud, tentunya akan ada daftar panjang untuk hal-hal yang segera akan dilakukan. Yang pertama, mengobati penyakit akut bawaan yang telah jadi kebiasaan. Saya sedikit mencurahkan perasaan, bahwa ada kekhawatiran dalam diri. Saya punya beberapa “daftar kebiasaan yang tak layak ditiru.” Bertahun-tahun lamanya bahkan, tak ada perbaikan. Padahal, berbagai upaya telah dilakukan. Bahkan, bagai seorang spesialis saya memvonis bahwa itu bukan lagi “kebiasaan yang tak layak ditiru” tapi sebuah penyakit ganas.

Thursday, December 29, 2011

Apa itu Sastra?

Setidaknya, hal di atas merupakan pertanyaan abadi, ya layaknya pertanyaan telur dan ayam. Khalayak sampai sekarang pun masih berupaya untuk menjawab mana di antara ayam atau telur yang keberadaannya terlebih dahulu di dunia ini. Nah, berbagai teori juga tak habisnya silih berganti saling menyusul seputar ayam dan telur. Demikian halnya sastra, selalu saja di kelilingi aneka teori, tentunya dengan didasari oleh berbagai macam pertimbangan. Adakalnya, bahkan lebih sering teori-teori tersebut saling membantah diri mereka sendiri. Seringnya, bagai sebuah misteri alami di alam semesta, pengklasifikasian suatu karya fiksi prosa dijawab oleh berlangsungnya waktu.
Apa itu sastra? Pertanyaan yang tidak akan dapat saya lupakan karena merupakan tugas esai pertama saat menjadi mahasiswa. Begitu pula pernyataan pakar dalam sebuah buku teori bahwa “pendefinisian sastra akan terus berlanjut, tak pernah berhenti, dinamis.” Saya tentu masih ingat tekanan yang diterima dalam lingkungan kami, yang belum apa-apa saja sudah dibayangi oleh kekhawatiran tidak lulus mata kuliah. Juga, upaya saya dalam menulis esai dibantu mesin tik yang membuat jari-jari telunjuk begitu menderita. Maka, waktu yang berselang akan menjawab terdengar sebagai alasan kemalasan.
Semua orang, pasti memiliki kebebasan untuk menuangkan ide. Bagi saya, sastra terlalu dangkal penafsirannya jika dirunut dari pembentukan dan asal muasal kata tersebut. Terlalu naif juga apabila di pecah belah antara karya populer dan tidak populer. Terlalu picik malahan apabila ditinjau dari segmentasi pasar. Maka, sastra itu adalah kebebasan mutlak dari sang pembaca. Bukan kediktatoran penulis, paksaan penerbit, terlebih wewenang distributor –tak peduli kaliber besar maupun kecil—.
Bagi saya sastra, khususnya suatu karya sastra ialah stimulus yang baik untuk kembali mereproduksi karya. Ok, habis perkara dan titik!