Thursday, November 17, 2011

Sepatu Guru

Siti mungkin sudah mengikuti perkuliahannya di Ausy, sedangkan Ajeng juga sudah mulai sibuk dengan tesisnya. Bahkan Dila kembali lagi ke almamater kami dengan gelar barunya, dosen termuda. Aku masih bisa mengingat wajah mereka ketika menulis surat lamaran. Wajah-wajah mereka yang mengeskspresikan pertanyaan-pertanyaan bahkan terbersit juga keraguan saat ku ceritakan niatan untuk kembali ke daerah, yang jaraknya beratus-ratus kilometer dari akses ibu kota provinsi. Bahkan ada kalanya, rekan-rekanku itu mengkonfrontasi begitu getol atas keputusanku, mereka begitu gigih membandingkan dengan yang mereka sebut sebagai realita kehidupan dan membuang diri ke pedalaman. Begitu halnya dengan orang-orang di sekitar yang tanpa basa-basi lagi menertawakan aku yang dianggap begitu naif. Begitu naif karena bagi mereka untuk hidup di zaman ini haruslah mengikuti standar komersialitas. Bahkan pada awalnya kedua orang tuaku begitu menentang, menggugat, dan arogan membanding-bandingkan dengan sahabat-sahabatku yang dianggap telah begitu sukses. Tentu ada juga rasa iri pada mereka, tapi ada perasaan yang tak terungkap untuk niatanku ini.