Tuesday, March 29, 2011

1 X 24 jam, Wajib Lapor Ketua RT

Penginggat untuk melaporkan diri, minimal kepada aparat yang tingkatannya paling dekat dengan rumah tangga adalah sebuah kemutlakan. Namun, adakalanya hal tersebut sekedar menjadi penghias ataupun formalitas di lingkup perkotaan. Hal yang sebenarnya tidak dapat disamaratakan dengan kondisi masyarakat lainnya. Di lingkup masyarakat lain, bisa saja sebuah lingkungan entah itu sekedar tingkatan RT atau bahkan dusun telah menjadi bagian yang begitu tak terpisahkan. Dengan landasan yang begitu erat, dapat saja sebuah daerah diasumsikan oleh masyarakatnya selayaknya rumah sendiri. Tentunya, akan timbul sebuah prasangka yang begitu besar tatkala seseorang atau bahkan sekelompok orang yang belum dikenal memasuki rumah tanpa permisi. Di manakah letak kesopananan dan etika untuk hal seperti itu?

Hari ke-22 pada masa KKN kami, dalam pekan ini masyarakat akan merasakan manisnya butiran keringat yang telah dicucurkan tiap harinya. Masyarakat yang mayoritas bermata pencarian sebagai petani tentunya telah begitu menanti-nanti masa panen. Namun, ternyata masa-masa inilah dimanfaatkan oknum-oknum untuk mengeruhkan keadaan dan memancing keuntungan. Motif yang sama selalu berulang-ulang dihembuskan dengan gaya yang baru. Saya masih ingat bagaimana respon diri saat pertama kali mendengar isu tak bertanggung jawab tersebut. Kepanikan dan kekalutan menjalar ke seluruh tubuh. Ngeri yang menyayat-nyayat langsung mengasosiasikan imajinasi dengan karya-karya Dan Brown. Tentunya, dengan latar imajinasi yang tidak biasa dikurung-kurung saya berharap isu dan fenomena yang mengekorinya bisa saja menjadi cambah untuk karya-karya sekelas Dan Brown, yang tentunya Dan Brown-nya Indonesia.

Berbungkus atmosfir yang begitu rentan tentunya informasi yang sifatnya persuasi guna mengklarifikasi keadaan sangatlah dibutuhkan masyarakat. Jangan sampai ketidaksigapan respon malah membuahkan anarki. Tentunya kesigapan tidaklah senantiasa diharapkan dari satu pihak semata. Pihak-pihak lain pun tentunya diharapkan mampu membaca situasi. Pengalaman yang begitu berharga bagi kami. Begitu tepat apabila dianalogikan dengan jab telak seorang petinju pro, tepat sasaran dan langsung membuat sempoyongan. Niat hati, ingin mencari pemandangan indah sebagai latar foto. Tiba-tiba saja kami diberhentikan oleh seorang pemuda. Kepanikan langsung membungkus kami. Dengan postur tubuh di atas rata-rata dan dilengkapi tato di lengan kanan, cukuplah membuat semua nyali kami mengerdil. Untungnya seorang teman dengan inisiatif tinggi langsung turun tangan mencairkan suasana. Kekontrasan ternyata tidak hanya datang dari lingkungan. Air muka pemuda tersebut tampak begitu kontras tatkala telah disalami oleh rekan kami yang satu itu. Perkenalan diri pun berlanjut, kami memperkenalkan diri sebagai mahasiswa KKN yang ingin menuju rumah kepala desa. Ternyata kekakuan di awal sirna begitu saja tergantikan dengan senyum hangat khas masyarakat timur yang terkenal begitu ramah.

Dalam perjalanan pulang ke kamp, serempak kami menghela nafas. Terdengar kabar amuk masa yang telah memakan korban nyawa. Syukur luar biasa, bukan kabar kami yang telah diliput surat kabar daerah.

Sunday, March 6, 2011

Surat dari Ibu

karya Asrul Sani:

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
Pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.
Jika bayang telah pudar
Dan elang laut pulang ke sarang
Angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
Dan nahkoda sudah tahu pedoman,
Boleh engkau datang padaku!