Wednesday, August 18, 2010

Tebakan Misterius

Sebelum membaca tolong diperhatikan, bahwa tulisan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kuis tebak-tebakkan dengan hadiah berupa nominal atau hal tertentu. tulisan ini diawali oleh tebakan yang sampai sekarang masih belum ditemukan jawabannya.

Semua bermula saat saya ditempatkan di sebuah sekolah. Hari-hari pertama merupakan tahap adaptasi dengan keadaan sekolah, entah dari fisik maupun rohani sekolah. Sosok itu begitu menarik perhatian saya. Beliau duduk tepat sejajar dengan posisi meja saya, sehingga membuat saya memiliki sudut yang begitu nyaman untuk memperhatikannya. Sebelumnya, tak ada yang menarik perhatian dari sosoknya yang tak jauh berbeda dari para guru lainnya. Berangkat dari keisengan yang diharap mampu membunuh waktu, dalam kelakar saya menyapa seorang rekan dan mengajukan wacana tentang sebuah tebakan. Berapa kira-kira usia sosok di seberang saya, yang kiranya kelihatan perlu usaha yang begitu keras untuk mengoreksi tugas-tugas siswanya. Sosok yang telah begitu ringkih itu tampak diperlambat oleh daya lihat indera yang telah begitu aus oleh waktu. Demi memudahkan pekerjaannya tersebut sang ibu, tidak hanya dibantu oleh kaca mata tapi ditambah lagi oleh kaca pembesar yang selalu siap sedia.

Mungkin usia sang ibu sama halnya dengan republik kita ini.
Sosoknya begitu rapuh diantara jasmani-jasmani tegap lainnya. Saya juga menjadi makin penasaran untuk mengetahui bukan hanya usia si Ibu tapi juga motifasinya untuk terus mengajar. Kesemua hal itu masih menjadi misteri. Sosok beliau terasa begitu menyayat, karena seharusnya di masa-masa ini beliau membujurkan kaki di rumah. Selain itu, etos kerjanya juga menohok jasmani-jasmani yang tampak tangguh namun sepi dalam pengabdian. Saya saja kalau punya kesempatan untuk tidak hadir pasti akan dengan senang hati tidur sampai siang di rumah.

Wednesday, August 4, 2010

Kebahagian itu Terkenang dengan Permanen

Gerimis masih memercik tapi tak mampu menyurutkan riuh rendah gemuruh tawa yang begitu renyah. Genangan-genangan air yang menjadi saksi lebatnya anugerah terpercik diriingi derap langkah kaki-kaki kecil yang mengiringi deruan angin dalam upaya tetap mengayuh. Sorak-sorai semakin gempita saat seorang anak dengan tegas menggangkat kedua tangannya dari boncengan sepeda. Si anak yang duduk dipedal telah dibebaskan untuk berekspresi dalam kemandirian perdana dengan sepeda yang berukuran dua kali lebih besar dari ukuran tubuhnya. Ia haru, dalam terpaan angin dan percik rintik yang menghampiri tubuh. Ia haru karena rekan-rekannya semakin riang dan lantang menyemangati keberaniannya dalam mengayuh lebih laju lagi. Ia haru dapat mengimbangi ketakutannya. Ia haru karena telah membalas rasa penasaran dalam upaya menyeimbangkan bobot. Namun, seketika ia tersadar “WAH GIMANA NGEBERHENTIINNYA!”

...
Aneka berita di media seputar Hari Anak Nasional dengan segala ceremony yang menggelegar dan kontroversi menghisap sekitarnya seolah memutar ulang pita kehidupan. Diputar ke masa hidup yang begitu sederhana dan apa adanya. Hidup yang dipenuhi hal-hal yang dengan mudahnya menyulut kobaran kebahagiaan, hidup di masa kanak-kanak.
Di masa kanak-kanak, ada kalanya dirasakan tajamnya kerikil yang beradu dengan lapisan terluar diri, menusuk sendi saat jatuh. Akan tetapi, rasa sakit yang tak jarang mampir bersama tetes lara dan darah tak mampu menandingi pengalaman kemudian. Pengalaman, saat sapaan angin menyapa lembut hati lewat diri saat genjotan sepeda mulai cepat dikayuh. Sungguh masa yang begitu bersahaja, saat pengalaman pertama bersepeda saja dapat mencetak memori kebahagian yang begitu permanen. Kala itu, tarikan-tarikan napas dicitrai dengan sejuta partikel manis.
Entahlah, hal apa yang selanjutnya terjadi dalam kangkangan waktu. Kesedeerhanaan akan konsep kebahagian itu mulai tergantikan. Di masa selanjutnya, perasaan bahagia disejajarkan dengan apresiasi kasih pada lawan jenis. Kekompleksan mulai tertuang dalam letupan-letupan merah jambu, ada kalanya begitu murni tapi tak jarang filter ketulusan tak mampu menyaring nafsu dan sikap angkara lainnya.
Dalam tiupan waktu...kerumitan semakin ditambahkan, tercitra dalam asinnya ambisi yang mewujud dalam dehidrasi kekuasaan, kekayaan. Mirisnya, kekompleksan begitu fokus pada kehendak diri sehingga jalan apapun akan digunakan. Hasrat yang ngotot tersebut akan turut menyeret kekerasan, kelicikan, kebohongan, dan kemunafikan. Upaya-upaya tersebut laksana mengayomi potongan-potongan diri, keluarga, rakyat, dan negara dalam megahnya lahapan api unggun.
Andai, hidup dapat dipertahankan layaknya masa kanak-kanak, dipertahankan saja agar konsisiten dalan kesederhanaan. Kesederhanaan yang begitu bahagia, bahagia dalam kesederhanaan. Sederhana layaknya kanak-kanak, bahagia dengan permainannya, bahagia dengan permainaannya, bahagia dengan yang ‘ada’ padanya, bahagia dengan keluguannya.