Friday, January 29, 2010

Cowboy: Antara Culture dan Kultur

I’m a cowboy
I’m stole horse I’m ride
Wanted...
Dead or live
(Wanted Dead or Live: Bon Jovi)


Walaupun hanya diiringi oleh serangkaian musik akuistik lagu Dead or Live yang dilantunkan oleh Bon Jovi tersebut mampu membangkitkan semangat. Lirik-lirik yang kuat dan diiringi oleh hentakkan dinamis musik membuat lagu tersebut begitu nikmat ketika sampai di gendang telinga.
Semua pasti tahu cowboy. Cowboy merupakan ikon dunia barat yang begitu gagah dan dominan dengan pencitraan maskulin dari sesosok manusia yang selalu wara-wiri dengan menunggangi kuda dan menenteng pistol. Cowboy dengan segala tindak-tanduknya akan terang-terangan membela kepentingannya, entah itu kebenaran atau merongrong kokohnya kebenaran. Semua aral melintang tak akan dipedulikannya yang terpenting kemakmuran didapat.
Begitu juga cerita permulaan dimulainya peradaban di Amerika, sejalan dengan terbukanya tambang-tambang emas. Kemakmuran tentunya begitu memotifasi siapa saja walaupun dipisahkan oleh jarak ribuan mil. Maka, berdatanganlah berbagai jenis manusia dari sudut-sudut benua. Dimulailah suatu peradaban kemilau yang turut melahirkan mental-mental cowboy.
Peradaban yang semula hanya meliuk-meliuk kerdil menjelma menjadi raksasa. Tentunya didasari oleh semangat dan etos kerja tinggi. Culture mengenai cowboy seharusnya mampu kita adaptasi sisi positifnya. Cowboy dalam bekerja akan selalu memberikan yang terbaik, berusaha total karena mereka begitu ngotot untuk mencapai tujuan. Seperti lirik lagu di atas, pilihan tersebut hanya pada hidup dan mati (dead or live), berhasil maupun tidak.
Semangat westernisasi tersebut pantaslah menjadi pembelajaran bagi kita semua. Tidak hanya ternganga iri dengan peradaban barat yang ada namun juga menransformasikan dalam keseharian. Melalui adaptasi dan modifikasi maka culture cowboy menjadi kultur. Indonesia merupakan negara yang kaya dengan budaya, negara yang penuh dengan penuh kearifan. Sehingga culture yang semula hanya mementingkan tujuan, tanpa peduli sikut kanan-kiri, jilad atas, dan injak bawah, dapat disempurnakan menjadi kultur. Seharusnya dengan kultur yang diwarisi oleh nenek moyang, Indonesia mampu mengeliatkan peradaban lebih tinggi. Peradaban dengan pondasi kearifan yang begitu tebal, peradaban yang tak mudah rontok oleh rayap-rayap dengan seribu topeng.

Monday, January 25, 2010

SIA-SIA

Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Chairil Anwar, 1943