Thursday, November 4, 2010

Buku Harian Pembelajaran: Sebuah Kritik

Judul Cerpen : Nasehat Untuk Anakku
Pengarang : Motinggo Busye


Sarana pembelajaran tidaklah harus selalu merupakan buku-buku teks yang tebal dan kaku. Hal inilah yang ingin disampaikan oleh Motinggo Busye lewat cerpen Nasehat Untuk Anakku. Cerpen tersebut mengambarkan upaya seorang ayah memberikan nasihat pada anaknya lewat kutipan buku harian yang dimilikinya. Cara seorang ayah yang memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda dengan sang anak untuk membagi berbagai pengalaman hidupnya.
Latar yang berbeda tersebut dideskripsikan pengarang dengan baik sebagai pengantar cerita. Latar waktu saat Indonesia berada di era awal kemerdekaannya begitu kental mendominani suasana cerita. Pengambaran tentang begitu minimnya keadaan pembangunan, perkembangan politik, dan perekonomian Indonesia, seperti keadaan transportasi darat yang begitu sulit dan Irian Barat yang belum terintegrasi dengan NKRI.

Saturday, October 9, 2010

CINTA

Cinta serupa dengan laut
Selalu ia terikat pada arus
Setiap kali ombaknya bertarung
Seperti tutur kata dalam hatimu
sebelum mendapat bibir yang mengucapkannya

Angin kencang datang dari jiwa
Air berpusar dan gelombang naik
Memukul hati kita yang telanjang
Dan menyelimutinya dengan kegelapan

Sebab keinginan begitu kuat
Untuk menangkap cahaya
Maka kesunyian pun pecah
Dan yang tersembunyi menjelma

Kau di sampingku
Aku di sampingmu
Kata-kata adalah jembatan
Waktu adalah jembatan
Tapi yang mempertemukan
Adalah kalbu yang saling memandang

1993
Karya: Abdul Hadi.W.M.

Wednesday, August 18, 2010

Tebakan Misterius

Sebelum membaca tolong diperhatikan, bahwa tulisan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kuis tebak-tebakkan dengan hadiah berupa nominal atau hal tertentu. tulisan ini diawali oleh tebakan yang sampai sekarang masih belum ditemukan jawabannya.

Semua bermula saat saya ditempatkan di sebuah sekolah. Hari-hari pertama merupakan tahap adaptasi dengan keadaan sekolah, entah dari fisik maupun rohani sekolah. Sosok itu begitu menarik perhatian saya. Beliau duduk tepat sejajar dengan posisi meja saya, sehingga membuat saya memiliki sudut yang begitu nyaman untuk memperhatikannya. Sebelumnya, tak ada yang menarik perhatian dari sosoknya yang tak jauh berbeda dari para guru lainnya. Berangkat dari keisengan yang diharap mampu membunuh waktu, dalam kelakar saya menyapa seorang rekan dan mengajukan wacana tentang sebuah tebakan. Berapa kira-kira usia sosok di seberang saya, yang kiranya kelihatan perlu usaha yang begitu keras untuk mengoreksi tugas-tugas siswanya. Sosok yang telah begitu ringkih itu tampak diperlambat oleh daya lihat indera yang telah begitu aus oleh waktu. Demi memudahkan pekerjaannya tersebut sang ibu, tidak hanya dibantu oleh kaca mata tapi ditambah lagi oleh kaca pembesar yang selalu siap sedia.

Mungkin usia sang ibu sama halnya dengan republik kita ini.
Sosoknya begitu rapuh diantara jasmani-jasmani tegap lainnya. Saya juga menjadi makin penasaran untuk mengetahui bukan hanya usia si Ibu tapi juga motifasinya untuk terus mengajar. Kesemua hal itu masih menjadi misteri. Sosok beliau terasa begitu menyayat, karena seharusnya di masa-masa ini beliau membujurkan kaki di rumah. Selain itu, etos kerjanya juga menohok jasmani-jasmani yang tampak tangguh namun sepi dalam pengabdian. Saya saja kalau punya kesempatan untuk tidak hadir pasti akan dengan senang hati tidur sampai siang di rumah.

Wednesday, August 4, 2010

Kebahagian itu Terkenang dengan Permanen

Gerimis masih memercik tapi tak mampu menyurutkan riuh rendah gemuruh tawa yang begitu renyah. Genangan-genangan air yang menjadi saksi lebatnya anugerah terpercik diriingi derap langkah kaki-kaki kecil yang mengiringi deruan angin dalam upaya tetap mengayuh. Sorak-sorai semakin gempita saat seorang anak dengan tegas menggangkat kedua tangannya dari boncengan sepeda. Si anak yang duduk dipedal telah dibebaskan untuk berekspresi dalam kemandirian perdana dengan sepeda yang berukuran dua kali lebih besar dari ukuran tubuhnya. Ia haru, dalam terpaan angin dan percik rintik yang menghampiri tubuh. Ia haru karena rekan-rekannya semakin riang dan lantang menyemangati keberaniannya dalam mengayuh lebih laju lagi. Ia haru dapat mengimbangi ketakutannya. Ia haru karena telah membalas rasa penasaran dalam upaya menyeimbangkan bobot. Namun, seketika ia tersadar “WAH GIMANA NGEBERHENTIINNYA!”

...
Aneka berita di media seputar Hari Anak Nasional dengan segala ceremony yang menggelegar dan kontroversi menghisap sekitarnya seolah memutar ulang pita kehidupan. Diputar ke masa hidup yang begitu sederhana dan apa adanya. Hidup yang dipenuhi hal-hal yang dengan mudahnya menyulut kobaran kebahagiaan, hidup di masa kanak-kanak.
Di masa kanak-kanak, ada kalanya dirasakan tajamnya kerikil yang beradu dengan lapisan terluar diri, menusuk sendi saat jatuh. Akan tetapi, rasa sakit yang tak jarang mampir bersama tetes lara dan darah tak mampu menandingi pengalaman kemudian. Pengalaman, saat sapaan angin menyapa lembut hati lewat diri saat genjotan sepeda mulai cepat dikayuh. Sungguh masa yang begitu bersahaja, saat pengalaman pertama bersepeda saja dapat mencetak memori kebahagian yang begitu permanen. Kala itu, tarikan-tarikan napas dicitrai dengan sejuta partikel manis.
Entahlah, hal apa yang selanjutnya terjadi dalam kangkangan waktu. Kesedeerhanaan akan konsep kebahagian itu mulai tergantikan. Di masa selanjutnya, perasaan bahagia disejajarkan dengan apresiasi kasih pada lawan jenis. Kekompleksan mulai tertuang dalam letupan-letupan merah jambu, ada kalanya begitu murni tapi tak jarang filter ketulusan tak mampu menyaring nafsu dan sikap angkara lainnya.
Dalam tiupan waktu...kerumitan semakin ditambahkan, tercitra dalam asinnya ambisi yang mewujud dalam dehidrasi kekuasaan, kekayaan. Mirisnya, kekompleksan begitu fokus pada kehendak diri sehingga jalan apapun akan digunakan. Hasrat yang ngotot tersebut akan turut menyeret kekerasan, kelicikan, kebohongan, dan kemunafikan. Upaya-upaya tersebut laksana mengayomi potongan-potongan diri, keluarga, rakyat, dan negara dalam megahnya lahapan api unggun.
Andai, hidup dapat dipertahankan layaknya masa kanak-kanak, dipertahankan saja agar konsisiten dalan kesederhanaan. Kesederhanaan yang begitu bahagia, bahagia dalam kesederhanaan. Sederhana layaknya kanak-kanak, bahagia dengan permainannya, bahagia dengan permainaannya, bahagia dengan yang ‘ada’ padanya, bahagia dengan keluguannya.

Sunday, June 6, 2010

Warna Cinta

Dalam sadarku yang sepi dan kosong itu, aku jadi berpikir. Apa sebenarnya warna cinta itu? Apa merah untuk segala gejolak dan ambisi yang terlalu menggigit? Apa putih untuk nilai-nilai suci yang senantiasa tulus dan cendrung naif? Atau merah jambu yang senantiasa membuat suasana hati kian bersemu? Atau mungkin hitam untuk ketiadaan, hitam untuk kenestapaan, hitam untuk kelaraan, hitam untuk rasa duka yang memang telah ada dari mula zaman seiring tuanya rasa cinta?

Friday, January 29, 2010

Cowboy: Antara Culture dan Kultur

I’m a cowboy
I’m stole horse I’m ride
Wanted...
Dead or live
(Wanted Dead or Live: Bon Jovi)


Walaupun hanya diiringi oleh serangkaian musik akuistik lagu Dead or Live yang dilantunkan oleh Bon Jovi tersebut mampu membangkitkan semangat. Lirik-lirik yang kuat dan diiringi oleh hentakkan dinamis musik membuat lagu tersebut begitu nikmat ketika sampai di gendang telinga.
Semua pasti tahu cowboy. Cowboy merupakan ikon dunia barat yang begitu gagah dan dominan dengan pencitraan maskulin dari sesosok manusia yang selalu wara-wiri dengan menunggangi kuda dan menenteng pistol. Cowboy dengan segala tindak-tanduknya akan terang-terangan membela kepentingannya, entah itu kebenaran atau merongrong kokohnya kebenaran. Semua aral melintang tak akan dipedulikannya yang terpenting kemakmuran didapat.
Begitu juga cerita permulaan dimulainya peradaban di Amerika, sejalan dengan terbukanya tambang-tambang emas. Kemakmuran tentunya begitu memotifasi siapa saja walaupun dipisahkan oleh jarak ribuan mil. Maka, berdatanganlah berbagai jenis manusia dari sudut-sudut benua. Dimulailah suatu peradaban kemilau yang turut melahirkan mental-mental cowboy.
Peradaban yang semula hanya meliuk-meliuk kerdil menjelma menjadi raksasa. Tentunya didasari oleh semangat dan etos kerja tinggi. Culture mengenai cowboy seharusnya mampu kita adaptasi sisi positifnya. Cowboy dalam bekerja akan selalu memberikan yang terbaik, berusaha total karena mereka begitu ngotot untuk mencapai tujuan. Seperti lirik lagu di atas, pilihan tersebut hanya pada hidup dan mati (dead or live), berhasil maupun tidak.
Semangat westernisasi tersebut pantaslah menjadi pembelajaran bagi kita semua. Tidak hanya ternganga iri dengan peradaban barat yang ada namun juga menransformasikan dalam keseharian. Melalui adaptasi dan modifikasi maka culture cowboy menjadi kultur. Indonesia merupakan negara yang kaya dengan budaya, negara yang penuh dengan penuh kearifan. Sehingga culture yang semula hanya mementingkan tujuan, tanpa peduli sikut kanan-kiri, jilad atas, dan injak bawah, dapat disempurnakan menjadi kultur. Seharusnya dengan kultur yang diwarisi oleh nenek moyang, Indonesia mampu mengeliatkan peradaban lebih tinggi. Peradaban dengan pondasi kearifan yang begitu tebal, peradaban yang tak mudah rontok oleh rayap-rayap dengan seribu topeng.

Monday, January 25, 2010

SIA-SIA

Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Chairil Anwar, 1943