Tuesday, November 10, 2009

ini pertanyaan yang mempertanyakan untuk kita semua



Nasionalisme merupakan keabstrakan yang mendayu, yang seharusnya bergejolak tinggi dalam nadi setiap anak bangsa. Nasionalisme dipacu oleh perasaan cinta dan kasih yang selanjutnya juga turut mampu menciptakan perasaan itu. Nasionalisme semestinya senantiasa mengundang rasa lapar, sebuah kebutuhan mendasar bagi manusia, kebutuhan untuk memamah sebanyak mungkin asa. Lapar untuk melahirkan perbuatan yang penuh cinta. Kenapa? Karena cintalah yang mengukuhkan eksistensi manusia. Tentunya cinta yang begitu kaya dengan perbuatan nyata.


Nasionalisme memang kadang menggigit dan ada kalanya bak bisa cobra yang begitu mematikan, menyerang sistem saraf kemudian jantung untuk masing-masing dilumpuhkan dan dibinasakan. Bisa yang dibawa nasionalisme bahkan kadang memiliki efek yang jauh lebih ganas. Ia akan menyerang indera penglihatan, membutakan mata lalu menyalar ke hati. Kebutaan yang tercipta akan menyebabkan esensi diri yang mati, buta untuk melihat hal-hal objektif, buka untuk mengintropeksi diri, buta untuk senantiasa berkarya. Perlahan hati akan membusuk dan merubah manusia bagaikan mayat hidup. Hati yang merupakan bagian terpenting manusia karena di sanalah esensi manusia dan kemanusiaan bersemayam. Hati akan turut dibutakan, memang melalui proses perlahan. Namun, apabila terjadi hati akan begitu beku dan dingin untuk berempati, hati akan selalu saja merongrong dan bersifat iri. Sungguh bencana besar, jika anak bangsa mengalami kebutaan mata dan hati, apalagi untuk nasionalisme. Nasionalisme seperti apa yang menyebabkan kebutaan itu?

Bagaimana muara dan sumber perasaan yang begitu mulia, kemanusian bisa begitu merongrong? Nasionalisme yang membabi buta tidak hanya akan merongrong bangsa dari dalam namun juga mengikis perlahan dari luar. Indonesia bukanlah bangsa kecil yang dapat dipandang remeh. Di masa lalu, berbagai kejayaan dapat kita ukir hingga sampai sekarang dapat dikagumi oleh dunia. Borubudur berdiri gagah di tengah jaman yang begitu sederhana. Juga kekayaan rempah yang menjadi rebutan ketamakan para kolonial. Matahari dan langit biru sepanjang tahun yang bagaikan nektar pengundang lebah, bagi para turis mancanegara. Terutama pengalaman pahit yang pernah turut dirasakan anak negeri selama beratus-ratus tahun dijajah, menguatkan mental terutama seharusnya daya juang anak bangsa. Banyak lagi kekayaan Indonesia di berbagai bidang yang seharusnya mengukuhkan untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, bersanding seimbang dengan bangsa-bangsa di dunia.

Kita bersama pasti pernah mendengar tentang pribahasa yang berbunyi ”bagaikan ayam mati di lumbung padi.” Ironis memang, saya malah begitu penasaran untuk memikirkan secara intensif hal ihwal yang menyebabkan sang ayam menemui nasib malangnya. Kita biarkan dulu hal penyebab kematian si ayam menjadi teka-teki. Inilah juga yang terjadi dengan anak bangsa secara umum. Nasionalisme yang ada dimaknai hanya dari luar, menyebabkan nasionalisme yang begitu arogan. Anak bangsa lebih cendrung bersifat begitu reaktif tanpa pikir panjang dengan segala persoalan yang ada. Sifat reaktif ini juga menyebabkan mudahnya generasi muda terprofokasi. Darah muda yang begitu panas mendidih begitu terbakar saat disulut. Namun, ternyata arogansi ini tidak terjadi di dalam kandang. Tidak ada energi yang membakar untuk bergerak. Berbagai pepatah juga telah memrediksikan keadaan itu, tong kosong nyaring bunyinya, air beriak tanda tak dalam, dan lain-lain. Semua kata bijak tersebut memberikan simpulan bahwa nasionalisme yang terjadi sekarang hanya mampu berteriak parau tanpa memahatkan perbuatan positif. Itulah wujud dari kebutaan mata dan hati karena kegagalan memahami sari manis dari nasionalisme.

Apakah misteri dari teka-teki kematian ayam mulai terjawab? Bagaimana dengan keadaan di negeri kita? Bahkan lahan sesubur apa pun perlu untuk digemburi. Tanaman sehebat apa pun juga turut dipelihara, dirawat. Demikian halnya dengan sebuah negeri. Ada sebuah keberlanjutan yang harus dijaga dengan begitu konsisten. Pengertian yang berbunga saja tak akan cukup utuk menutupi borok akibat sikap anak negeri yang hanya gemar beteriak bising. Indonesia kritis, memerlukan nasionalisme yang tulus berlandaskan kasih untuk kemudian kembali mentrasnferkan rasa putih dan suci ke dalam wujud sebuah tindakan positif. Jangan sampai lumbung itu isinya kian layu untuk selanjutnya berulat.