Friday, June 26, 2009

Politik, Lucu.....


Diksi lucu terkadang kami gunakan untuk menilai seorang pria, tentunya penilaian yang begitu subjektif dari teman-teman hawaku. Agak kurang tepat memang memaknai seorang adam hanya dengan kata yang begitu mengelitik. Tapi, ini kan memang begitu subjektif mengelari seseorang yang menarik perhatian dengan kata tersebut. Terkesan semaunya memang kalau dibandingkan dengan kata lucu di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Lucu? Politik terkadang memang lucu karena di dalamnya termuat unsur-unsur yang begitu ganjil dan dirasa sangat tidak masuk diakal. Awal cerita dimulai saat saya mengonceng rekan yang merupakan aktifis pers di kampus. Beliau kemudian berbagi pengalaman saat meliput kampanye satu di antara 3 pasangan calon presiden dan wakil. Ternyata kisahnya cukup menarik, pantaslah untuk saya simak tanpa menurunka konsentrasi mengendari sepeda motor. persoalannya berkisar dengan pengklaiman tim sukses atas suatu prestasi yang telah diraih. Sahabat itu bercerita bahwa tim sukses satu calon presiden dan wapres begitu lancar mengklaim kesuksesan seperti orang yang dibelanya. Tentunya kawan yang tidak menutup diri terhadap informasi, kembali bertanya. Ia menanyakan tentang kegagalan suatu program, reaksi yang wajar karena kepongahan sang juru kampanye tadi. ternyata dengan sigap si jurkam malah melemparkan kesalahan pada lawan dari calon yang dibelanya.

Wednesday, June 24, 2009

Chairil...oh Chairil...


Dikenal sebagai pelopor angkatan ‘45, tentunya kepiawaian Chairil Anwar merangkai kata dalam sajak-sajaknya tidak dipungkiri lagi. Kiprahnya yang begitu singkat di dunia sastra Indonesia tidak membuat karya-karyanya dilupakan begitu saja. Puisi “Aku” yang begitu bergeliat dengan semangat dapat dengan mudah ditemukan dalam setiap buku penunjang pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, demikian halnya dengan “Diponegoro”. Puisi-puisi Chairial dengan tema berbeda pun tetap digandrungi. Chairil yang menjalani hidup penuh skandal ternyata telah menjadi perlambangan semangat, romantisme, sekaligus perenungan mendalam mengenai kehidupan dan ketuhanan.
 Lewat karya-karyanya, Chairil yang dilahirkan pada tahun 1922 di Medan ini banyak memberi inspirasi. Selain gebrakannya terhadap kaidah penulisan sajak di masanya juga filosofi mendalam di setiap karyanya. Tidaklah mengherankan jika hari di saat tutup usianya ditetapkan sebagai peringatan hari Sastra di Indonesia.